Categories
Uncategorized

1911: Runtuhnya Kekaisaran Terbitnya Republik

Ketika peradaban dunia memasuki abad ke-20 dengan berbagai macam revolusi yang memodernisasi teknologi serta mengubah pola hidup masyarakatnya. Sedangkan negara Tiongkok masih tetap tidak mengalami kemajuan. Rakyat masih tetap hidup di bawah tindasan Dinasti Qing yang membayangi akan terus berlangsung secara berabad-abad seperti dinasti-dinasti sebelumnya. Setelah sekian lama rakyat akhirnya tidak dapat lagi bersabar. Kesadaran rakyat Tiongkok berawal dari bangkitnya gerakan yang dipelopori oleh Sun Yat Sen. Saat itu juga muncullah Huang Xing yang baru saja tiba dari Jepang mempelajari seni perang modern. Saat Huang Xing melihat negaranya hancur, ia memutuskan untuk mencabut tahap akademik perang dan memimpin serangkaian pemberontakan. Oleh karena itu Tiongkok atau Qing dibagi menjadi kelompok-kelompok yang bertikai, warga kelaparan, dan reformasi politik yang membuat situasi semakin memburuk.

Revolusi dimulai dari tahun 1911 di mana pemuda-pemuda yang berpendidikan yang menamakan diri mereka sebagai Tongmenghui berkumpul dan melakukan pemberontakan di wilayah Guangdong.
Meskipun dampaknya dikabarkan bahwa pihak pemberontak kalah dan banyak berjatuhan korban-korban. Maka, Sun Yat Sen mencoba mengumpulkan uang dari orang Tiongkok yang merantau ke negeri orang untuk membeli senjata untuk melawan kekaisaran. Kekaisaran sungguh kuat karena mendapat pembiayaan saat itu dan mereka juga didukung oleh Inggris dimana Inggris juga ingin kota Hong Kong dan juga Macau oleh Portugis yang tidak segan menanamkan dananya di sana.

Sun Yat Sen berjuang keras memutus pinjaman bankir-bankir Eropa kepada Dinasti Qing dikarenakan sebagian besar dana pinjaman itu dipergunakan oleh Dinasti Qing untuk membeli senjata dan menghancurkan gerakan revolusioner dan praktik korupsi dalam negeri bukan sebagai tujuan pembangunan.

Sementara itu, setelah kondisi kekacauan meluas di Tiongkok dan para bankir yang telah memutuskan untuk tidak membiayai dinasti, akibatnya kelemahan tersebut menyebabkan balatentara Dinasti Qing tidak berhasil menembus pertahanan kaum revolusioner di Wuchang. Sebaliknya, dengan kepemimpinan aktivis TongMengHui, kaum revolusioner berhasil merebut kota-kota, seperti Hunan, Shaanxi, Jiangxi, Shanxi, Yunnan, Zhejiang, Guizhou, Jiangsu, Anhui, Guangxi, Fujian, Guangdong dan Sichuan. Akhir 1911, Sun Yat Sen telah kembali ke Tiongkok. Bersamaan dengan itu, perwakilan dari 17 provinsi telah sepakat untuk membentuk Pemerintahan Sementara dan memilih seorang Presiden Sementara.

Akan tetapi, umur pemerintahan sementara berlangsung singkat. Pada bulan Februari, Sun Yat Sen dipaksa mundur setelah kaum revolusioner berdamai dengan panglima perang Yuan Shikai. Sun kemudian tidak ambil-bagian dalam pemerintahan. Yuan Shikai kemudian memaksa parlemen untuk memformalkan jabatannya sebagai presiden. Sun Yat Sen berusaha melakukan perlawanan tetapi gagal. Sun Yat Sen kemudian pergi ke Jepang dan berusaha memulai lagi revolusi dari sana. Alasan lainnya Sun Yat Sen memilih Yuan Shikai menjadi seorang Presiden Republik Tiongkok adalah karena jasanya yang besar dalam menurunkan tahta Dinasti Qing mengingat ia satu-satunya akses ke dalam kekaisaran.

Film menjelaskan bagaimana cerita dengan menggunakan dialog dan aksi,
sehingga mempermudah penonton untuk memahaminya. Umumnya film dijadikan sebagai wahana untuk memberikan hiburan tetapi selain sebagai hiburan, film juga bermanfaat sebagai media pembelajaran kesejarahan meskipun minim dengan adegan berperang melainkan terfokus kepada alur peristiwa dari sudut pandang Sun Yat Sen dan Huang Xing. Bisa dibilang setengah cerita dipakai sebagai peristiwa dan setengahnya lagi menjadi sebuah biografi dari dua tokoh sejarah terkemuka tersebut. Film ini juga memotivasi penontonnya untuk berjuang dan membela tanah air di manapun berada, serta menegakkan apa yang benar dan meruntuhkan apa yang salah.

Salam literasi!

Categories
Buku Uncategorized

Oeroeg: Sahabat Terbagi Perang

Seorang bocah kecil bernama Johan Ten Berghe bersama orang tuanya telah tinggal sejak lama di Hinda Belanda bersama asisten keluarga bernama Deppoh yang juga memiliki keluarga yang tinggal di sekitar Kalijati. Anak Deppoh bernama Urug sering berkunjung ke rumah di mana ayahnya bekerja saking seringnya sampai-sampai Urug selalu bermain dengan Johan menelusuri hutan-hutan, perkampungan, dan bermain di sungai bahkan sering mendengar cerita legenda masyarakat dari Urug, salah satunya ialah Johan percaya bahwa di danau dekat Kalijati terdapat hantu air yang dapat menculik yang berenang di sana.

Tentu sebagaimana pendudukan yang tengah berlaku pada masa itu, seringkali orang pribumi atau penduduk lokal sering dipandang sebagai di bawah atau bisa disebut menjadi kaum marjinal, maka ayahnya selalu berusaha mengingatkan dan berupaya memisahkan Johan dalam berinteraksi dengan Urug. Johan yang sudah pandai berbicara petjoh yaitu bahasa kreol Belanda yang dicampur dengan bahasa Indonesia/daerah malah merasa senang menggunakannya daripada menggunakan bahasa Belanda itu sendiri sehingga tentu saja ia dimarahi ayahnya sembari berkata “Kau ini orang Belanda! Berbicaralah selayaknya bahasa Belanda!”

Namun segala upaya menjauhkan Johan dari Urug selalu sia-sia, malahan Urug semakin dekat dengan keluarga Ten Berghe di mana tinggal pula seorang perawat bernama Lida yang begitu peduli dengan masyarakat pribumi sehingga menyekolahkan Urug di Kalijati yang merupakan sekolah mayoritas orang Belanda. Di suatu ketika ternyata Urug memperoleh nilai 10 dalam Matematika melebihi Johan membuat ayahnya kembali berusaha menyingkirkan Urug dari Johan dengan mengundang para anak-anak Belanda lainnya, meskipun Johan sendiri tidak akrab pada mereka dan tidak mau bermain. Melihat Johan dipaksa bermain bersama anak-anak Belanda, Urug kemudian kembali ke rumahnya dengan raut muka yang murung.

Berselang beberapa masa, hatta keluarga Johan kedatangan saudaranya dan berpesta hingga larut serta dilanjutkan dengan berenang di danau pada malam hari, Johan yang ikut serta waktu itu merasa ketakutan akan hantu air yang akan menculiknya, namun diingatkan oleh Deppoh bahwa tidak ada hantu air melainkan ada tanaman air yang menjalar sehingga dapat mengikat kaki yang berenang membuatnya tenggelam. Sedikit yakin, Johan ternyata melihat gelembung yang sama dengan ia lihat saat bermain bersama Urug seketika membuatnya lari ketakutan dan dikagetkan oleh saudaranya yang tengah berenang menyebabkan dirinya tercebur ke dalam danau.

Ketika sadar, Johan mengalami demam ditambah pikiran akan hantu air yang membayang-bayangi kepalanya. Ayahnya yang berusaha menenangkan Johan beberapa kali menyuruhnya meminum segelas air agar tenang, namun Johan besikeras bahwa hantu air tetap ada. Kemudian, Urug datang ke rumahnya bukan hanya untuk menjenguk saja, tetapi seraya mengucapkan salam perpisahan karena ia akan pulang ke kampungnya. Ketika ditanya mengapa, ayah Urug, Deppoh meninggal akibat tenggelam ketika menyelamatkan Johan. Itulah yang terucap dari perkataan ayahnya membuat Johan semakin gelisah dan merasa itu adalah salahnya. Ayahnya kembali berusaha menenangkannya, namun kali ini mukanya disebut Johan sehingga merah murka dan memukul Johan yang sakit.

Beberapa tahun lewat, Johan ternyata menjadi seorang tentara Belanda yang diutus kembali ke tanah kelahirannya, Hindia Belanda. Kesempatan itu digunakannya untuk melihat rumahnya yang ditinggali selama ia pulang ke negeri Holanda. Bersama kawan dekat tentaranya, Twan dengan semboyan khas mereka ‘pisang goreng’ yang diidam-idamkan mencoba menuju Kalijati. Dalam perjalanannya kondisi perang antar rakyat, Jepang, dan Belanda memporak-porandakan seluruh wilayah sekitarnya.

Hingga mereka terhenti di jalan dekat rumahnya terdapat sebuah tulisan peringatan “Hei Belanda kalian memperjuangkan untuk apa” memunculkan firasat yang tidak enak bagi keduanya, namun Johan yang telah teguh hatinya mencoba tetap pergi sendirian dan meminta temannya menjaga seandainya terjadi sesuatu.

Sampai di rumahnya, Johan melihat tempat ia bernaung juga ikut hancur lebur. Di dalamnya segalanya berantakan dan penuh dengan poster dan bendera Jepang menjadikannya semakin khawatir atas ayahnya. Ketika ditemukan, ayahnya telah tertembak dan terlihat seseorang pejuang kemerdekaan memantaunya lari kabur. Johan merasa bahwa itu adalah Urug yang berusaha membalas dendam atas Deppoh.

Dari sinilah Johan berusaha mencari alasan mengapa banyak orang di sekitarnya berubah dan sahabat dekatnya ikut menghilang. Padahal ia mengingat bahwa Urug begitu dekat dengannya hingga masa-masa remaja sebelum masing-masing berfokus kepada pendidikannya di mana Urug dan Johan terakhir bersama saat menonton bioskop di mana memisahkan antara orang Belanda dan masyarakat pribumi. Ketika usai, Urug melihat Johan tampak senang dan bahagia berdialog dengan penonton orang Belanda lainnya ketimbang bersamanya.

Film arahan sutradara Belanda Hans Hylkema ini dibuat berdasarkan novel berjudul sama dari karya Hella S Haasse yang terbit pada 1948. Oeroeg dirilis pada Juni 1993 di Belanda dan November 1993 di Indonesia dan Belgia. Pembuatan film ini merupakan bentuk penghargaan hubungan Indonesia dan Belanda pada tahun tersebut yang semakin membaik. Film ini menyajikan cerita di seputar periode kemerdekaan Indonesia dengan protagonis serdadu Belanda yang lahir dan besar di Hindia Belanda. Sudut pengisahan ini tidak wajar, terlebih jika dibandingkan dengan film tentang periode yang sama garapan perfilman Indonesia yang menekankan kecenderungan pada bangsa Indonesia.

Sedangkan pada film berdurasi hampir 2 jam ini menyajikan sudut pandang kedua negara tanpa berpihakan atau kecenderungan pada satu pihak. Latar yang dibentuk juga benar-benar diperhatikan secara detail membentuk kondisi pada waktu sebenarnya ketika masa revolusi Indonesia berlandaskan fakta sejarah. Arus sejarah tidak mengalir hitam di atas putih vice versa. Film ini juga menceritakan upaya Johan untuk menghentikan kejahatan perang tersandung keputusan atasannya. Ia malah diperintahkan pulang lebih cepat ke Belanda. Sehingga, penciptaan-ulang tokoh Johan dalam film ini tak ditujukan untuk menghapus citra negatif militer Belanda.

Film ini direkomendasikan karena tidak memiliki alur yang monoton melainkan membuat penonton terus penasaran sama seperti Johan rasakan dan sekaligus sebagai pengetahuan dalam masa-masa revolusi kemerdekaan Indonesia melalui penggambaran dari sudut pandang Indonesia dan Belanda yang berada dalam tekanan Jepang. Tentunya film ini dapat mengisi waktu luang bagi siapapun yang ingin menonton film.

Salam literasi!

Categories
Buku Haruki Murakami

Blind Willow, Sleeping Woman: Cerpen Rasa Novel

Masih sebuah rutinitas sehari-hari di kala senggang dan menjalani masa-masa me time yang pastinya akan terasa hambar jika tidak dilanjutkan dengan menengok karya-karya maestro surealis, Haruki Murakami. Lagipula sayang rasanya jika menuntaskan membaca seluruh buku-buku miliknya ini. Sembarang ambil buku yang terlihat menarik dari tampak sampulnya, namun ternyata jatuh ke dalam lubang cerpen untuk kedua kalinya. Sekilas ketika melihat tampak buku dari ketebalan maupun cover-nya siapapun akan mengira ini sebuah novel yang tebalnya halaman demi halaman. Apa daya buku sudah di tangan, rasanya ingin menukar pun belum terpikirkan. Dari The Elephant Vanishes kini membuka lembar baru dari judul Bland Willow, Sleeping Woman.

Dalam karyanya kali ini berisikan dua puluh enam cerita pendek yang ditulis sejak tahun 1995 hingga 2005, dengan berbagai tema dan jenis cerita serta disuguhkan dengan berbagai jenis genre ada yang menyenangkan, sedih, maupun tak menampakkan emosi sama sekali dalam narasinya. Bahkan berbeda dengan karya sebelumnya tidak semua cerpen ini memilki ending yang jelas, sebagian besar meninggalkan tanda tanya besar setelah membacanya. Mungkin Murakami sendiri ingin pembacanya lah yang menentukan akhir dari jalannya cerita tergantung pemikirannya masing-masing, meskipun bagi sebagian pembaca ini malah menimbulkan gundah-gulana. Tebalnya tidak banyak, hanya 411 halaman saja masih jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan karya-karyanya yang sampai mencapai 900 halaman lebihnya.

Dimulai dengan sebuah cerita berjudul sesuai dengan judul buku ini mengisahkan sudut pandang pertama pembaca sebagai pelakunya atau dirujuk dalam buku sebagai “Aku” di mana karakternya yang sedang mengantarkan sepupunya untuk melakukan check up di sebuah Rumah Sakit di dekat sekolahnya beberapa tahun lalu yang kemudian teringat akan pengalaman sekolah bersama temannya yang juga sering mengunjungi rumah sakit yang sama untuk menemui pacar temannya tokoh utama ini. Sesampai kunjungannya, pacar temannya menggambarkan mimpinya pada sebuah tisu, seraya menceritakan mimpinya mengenai seorang wanita yang tertidur dan pohon willow.

Kemudian baru seusai cerpen ini lah randomisasi pemikiran Murakami keluar menerbitkan cerpen-cerpen tiada konteks maupun koneksi di antaranya bak sekat yang memisah-misah satu tempat dengan yang lain. Beberapa ceritanya sudah ditranslasikan dalam blog ini yaitu Kejatuhan Kue Sharpie yang bercerita tentang ketamakan perusahaan yang menjual sebuah kue legendaris nan terkenal lezatnya hingga tokoh utama menemukan sesuatu di balik kesuksesan kue tersebut. Lalu, satunya lagi adalah Teluk Hanalei yang berkisah seorang ibu muda gemar berselancar dan jago bermain piano kehilangan anaknya yang sama-sama mempunyai kesukaan dalam mengarungi ombak pantai meskipun naas anaknya digigit oleh hiu dan dikabarkan meninggal di sana sehingga sang ibu berusaha menerima dan tidak menerima perasaan schodinger mirip-mirip begitu dan kerjaannya hanya meratapi pantai tempat anaknya berselancar dan hilang. Masih banyak lagi hingga dipengujung terdapat cerita berjudul Monyet Shinagawa di mana seseorang bernama Mizuki lupa akan namanya ketika ia masih menggunakan dua nama yaitu dari pernikahannya bernama Ando dan beberapa dokumen masih mencantumkan nama keluarganya Ozawa. Lantas ia menemui psikolog untuk mencari tahu dan mengobati kelupaannya tersebut dan bertemu dengan seorang psikolog bernama Tetsuko yang membantunya selama masa rehabilitasi.

Murakami dijelaskan pada masa ini telah bersilih ganti menulis novel dan cerita pendek sejak debutnya menjadi penulis fiksi pada tahun 1979. Fase-nya selalu seperti ini: ketika Murakami telah selesai menulis novel, dirinya merasa ingin menulis cerita pendek. Ketika cerita pendek selesai ditulis, dirinya ingin menulis novel lagi. Entahlah vibes yang diberikan toh terasa sama-sama kuat memainkan penjelasan peran dan lokasi secara detail dan terperinci, yang jelas Murakami masih menyukai pesan-pesan terselebung yang diselipkan ke dalam ceritanya tersebut sekalipun tidak memiliki ujung yang jelas. Murakami di sini juga masih gemar menghilangkan sosok lelaki baik menjadi tumbal atau wusss macam trik sulap tak bertanda dan berbekas.

Kesabaran dalam memahami alur cerita masih menjadi ciri khas dari setiap karya Murakami yang menyulitkan sebagian pembacanya bahkan di waktu pertama kalinya membaca akan bisa membuat spontan lupa seketika beres halaman terakhir dan harus membuka kembali agar dapat ingat atau memahami dari satu cerita tersebut. Terbilang keringanan dalam buku ini adalah hiatusnya konsep surealis yang sering diusung Murakami menjadi santapan ceritanya. Tetapi rangkaian-rangkaian kata yang mendalam memang membuat pembaca dapat membayangkan jelas rupa tokoh maupun kondisi dalam cerita, namun setiap katanya mengandung majas yang perlu dipahami secara khusus dan berkonteks. Maka jika terlewat sedikit planga-plongo yang terungkit.

Sejauh ini buku begitu direkomendasikan untuk dibaca dalam jangka waktu yang panjang bukan sebagai buku cerpen yang dapat cemil sedikit demi sedikit, tapi untuk penggemar Murakami atau yang sudah membaca karyanya yang lain akan familiar dan kemungkinan tahu sampai mana harus dibaca untuk cicilan buku ini. Bagi pembaca ulung pun tidak masalah karena ini berisikan cerpen yang tidak berkorelasi satu sama lain mau diambil satu cerita dan satu lainnya dilewatkan tidak masalah sama sekali.

Ada sebuah kutipan favorit sebagai penutup ulasan kali ini dari halaman 396 yaitu “Everything in the world has its reasons for doing what it does.” atau dapat diterjemahakan “Segala sesuatu di dunia ini memiliki alasan tersendiri dalam melakukan tindakannya.”

Salam literasi!

Categories
Uncategorized

Menapaki Jejak di Selatan Jawa Barat (1)

Pangandaran

Berlibur merupakan sebuah kegiatan yang lumrah bagi setiap orang untuk melepaskan rasa penat dan jenuh dari keseharian monoton mereka. Termasuk saya, pencapaian dalam liburan ke suatu tempat menjadi keharusan dalam daftar bukan lain karena dilatarbelakangi oleh rasa penasaran pada suasana dan kondisi suatu tempat itu, entah itu tempat mainstream yang selalu menjadi primadona khalayak ataupun surga yang terkubur oleh sulitnya jalur untuk ditempuh. Dalam perjalanan ini berbagai kondisi alam telah dirasakan dan sebab itu tahu mengapa tempat tersebut dapat penuh oleh kerumunan atau dapat menjadi sangat sepi bak tak terjamah kehidupan. Sedikit spoiler saja, karena di daerah selatan berisikan pantai, sudah jelas yang akan dibahas secara umum adalah pantai, namun tidak menutup kemungkinan juga pada tempat lainnya.

Pantai Timur Pangandaran, Kec. Pangandaran, Kabupaten Pangandaran

Tepatnya 4 tahun lalu, saya memulai eksplorasi kecil-kecilan ini dengan dimulai dari sebuah pantai yang bagi hampir setiap orang sudah merasa familiar kala disebutkan namanya. Tempat ini pula kerap menjadi tujuan karyawisata anak sekolahan dari berbagai penjuru di Pulau Jawa tentunya. Mungkin daya tarik dari pantai ini ialah aksesnya yang begitu mudah karena dilintasi oleh jalan raya nasional menuju Provinsi Jawa Tengah. Tak hanya itu, kestrategisan ini juga dibantu dengan menjamurnya penginapan, rumah makan serta pusat oleh-oleh yang pastinya menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang berkunjung. Kalau dibilang pendapat pribadi, pantai ini lebih kurang sama seperti pantai biasa, tidak seeksotis halnya di Pulau Bali. Sekilas itulah impresi orang-orang terhadap Pantai Barat maupun Pantai Timur. Sayangnya kepopuleran pantai ini membuat akses menuju keindahan tersembunyi semakin sulit pada kendala keuangan. Bagaimana tidak, untuk menuju wilayah “kantong” yang memang tidak bisa ditembus oleh kendaraan sebab terjal dan dipenuhi hutan serta sungai yang memotong, mau tidak mau pengujung mengandalkan jasa perahu untuk mencapai tepat tertentu. Kebetulan saat itu, destinasi yang saya tuju adalah kawasan cagar alam yang mengarahkan kepada sebuah pantai terpendam lagi, yaitu Pantai Pasir Putih.

Pantai Pasir Putih, Kawasan Cagar Alam, Kabupaten Pangandaran

Rasanya benar-benar sayang sebuah keindahan semacam ini tidak terekspos kepada hampir seluruh pengunjung, padahal ini menjadi peluang lainnya untuk menikmati Pangandaran, tetapi bagaimana lagi, sekarang untuk menempuh ke tempat ini perlu mengeluarkan uang lagi.

Tasikmalaya

Setahun kemudian saya memutuskan untuk bergeser ke arah Barat. Tidak terlalu jauh juga dari tempat sebelumnya, menggunakan motor Mio yang kecil nan lihai menancapkan gas melintasi Jalur Lintas Selatan yang benar-benar sepi dari lalu-lalang kendaraan. Adapun itu juga hanya kendaraan penduduk sekitar yang notabene berpekerjaan sebagai petani, peternak, dan nelayan. Sebuah keadaan yang tidak bisa ditemukan di kawasan gunung atau perkotaan ketika sering melihat sebuah motor semiotomatis kerap berpapasan membawa hasil tangkapan laut serta pancing dan jaring dengan topi yang melingkar dan sepatu boots terkadang juga membawa rumput untuk pakan ternaknya. Aneh? Tidak juga bisa disangkutpautkan dengan sekitar. Lagipula saya lebih merasa aneh dengan jalur lintas ini yang berbeda dengan jalur utara atau Pantura, ialah jalur selatan dipenuhi oleh jembatan serta tanjakan selama perjalanannya. Inilah yang menguji kesetiaan shockbreaker Mio tercinta.

Pantai Cipatujah, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya

Dikarenakan waktu yang terbatas saat itu, maka saya memutuskan untuk menyambangi pantai yang setidaknya pernah cukup dikenal oleh masyarakat dan setelah melihat-lihat di dalam google maps dengan suasana pantai di Tasikmalaya lebih kurang serupa, sehingga akhirnya memilih pantai ini. Pantai Cipatujah dinamai berdasarkan nama daerah yang mengelilingi pantai tersebut. Berbeda dengan Pangandaran, kawasan ini benar-benar terlindungi oleh gunung-gunung serta bukit di sekitarnya. Seiring dengan perkembangan obyek wisata Pangandaran, dalam jangka panjang Pantai Selatan Tasikmalaya dapat menjadi pelengkap, atau paling tidak menjadi jalur alternatif wisatawan untuk menuju atau jalan pulang setelah dari pangandaran terutama bagi para wisatawan yang ingin mencari ketenangan, kalau dilihat mereka yang berkunjung di sini rata-rata hanya duduk memandang ombak dan hembusan angin laut. Penginapan dan rumah makan yang tersedia pun tidak begitu banyak mengingat hal tadi.

Memang keunggulan dari Pantai Cipatujah ini ternyata adalah ketenangan yang ditawarkannya. Di samping dari kondisinya yang terbilang biasa menurut saya, sunyi yang diberikan rasanya terbayarkan karena tidak terdapat dari pantai-pantai lain di sekitar. Mungkin karena besarnya ombak di sini, pada saat berkunjung tidak nampak satupun nelayan atau setidaknya kapal mereka yang menandakan hendak melaut.

Pantai Cipatujah sepertinya sangat ideal untuk pusat konservasi alam.

GARUT

Berselang satu tahun kemudian, bergeser pula ke wilayah sebelah. Namun pada perjalanan ini terbilang lebih unik sekaligus nyantai melalui jalur Pangalengan, Kabupaten Bandung di mana penuh dengan hamparan kebun teh dan dinginnya bukit-bukit yang menjulang tinggi. Hal yang berbeda juga dirasakan pada perjalanan ini karena disambut oleh hujan gunung. Siapapun tidak bisa menghindari hujan gunung ini, mungkin lain kali karena sudah tahu, siap sedia akan jas hujan. Setelah melewati hujan gunung dan dinginnya hembusan kabut, disuguhkan jalanan yang menurun tetapi menyempit serta rawan longsor. Ya, tanda tersebut menandakan sudah memasuki wilayah Kabupaten Garut. Melintas jalur ini hanya mengandalkan kondisi cuaca dan alam, jika berkunjung di tengah musim hujan, maka untung-untunganlah yang diandalkan antara dapat meneruskan perjalanan atau terhenti karena material longsor.

Berharap-harap segera menemukan laut, masih disambut kembali oleh bukit-bukit tak berkebun teh, melainkan sebuah alun-alun dengan warung di sekitar. Mengingat sedikit basah dan kedinginan akibat tadi, saya memutuskan rehat sejenak dan memesan cemilan untuk sebagai penghangat tubuh. Iseng-iseng menanyakan daerah ini, saya tahu banyak hal bahwa jalan utama ini merupakan jalan provinsi dan berada di atas bukit sedangkan perumahan warga ramai di bawahnya. Pantas saja memang tidak terlihat rumah-rumah selama melintas.

Alun-Alun Talegong, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut

Talegong nama daerah ini. Tepat di tulisan tersebut ialah jalan utama atau jalan provinsi yang disebut tadi walaupun separuhnya tertutup oleh tanah liat. Masih di atas bukit, Talegong di kelilingi jalan yang menurun bila mengarah ke selatan. Di tengah-tengah alun-alun tersebut terdapat gong besar lalu di sekitarnya terdapat kebun milik masyarakat sekitar yang tinggal di bawah bukit ini. Alun-alun ini terlihat jelas saat siang hari, namun mulai memasuki sore hari biasanya muncul kabut yang tebal dan dingin menutupi alun-alun.

Setelah merasa siap untuk melanjutkan perjalanan, saya menelusuri jalanan yang menurun dengan jurang di kanan, tebing di kiri. Tidak seperti Pangalengan, jalur ini mulai minim pencahayaan adapun lampu hanya satu hingga dua buah yang dibuat melalui inisiatif masyarakat sekitar menggunakan tiang berbahan dasar kayu. Jalanan semakin menurun semakin berkelok pula selain dari sempitnya jalur. Terkadang bila ada mobil atau truk yang melintas secara bersamaan, salah satunya harus mengalah dan mengantri. Apalagi saat itu jalanan masih penuh dengan lubang yang begitu dalam, demi keselamatan saya dan motor saya, harus pandai-pandai menghindari lubang, walaupun terkadang ketika jalanan penuh kendaraan menjadi suatu hal yang mau tidak mau masuk ke dalam lubang itu.

Berpegal duduk dan tangan, akhirnya jalanan menurun setidaknya tidak curam dan keloknya pun tidak tajam. Ditambah disambut dengan suasana persawahan dan air terjun di pinggir jalan menandakan bahwa ini merupakan daerah baru. Sedikit mengingat Geografi, sebagian besar batas daerah di Indonesia masih dibentuk oleh batas alam sehingga ketika kondisi wilayah berbeda maka dipastikan sudah berada di wilayah lain. Di sana mulai terlihat juga perumahan warga dan yang terpenting ada minimarket merah pula. Saya bergumam bahwa mungkin ini daerah khusus pemukiman. Selang beberapa meter di sebelahnya, saya menemukan suatu ikon yang dulu pernah viral di media sosial.

Patung Macan Koramil Cisewu, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut

Inilah bendanya, Patung Macan Cisewu yang pernah tenar karena rupa yang aneh sehingga mengundang gelak tawa kala melihatnya. Sayangnya ketika saya sampai di sini, patung tersebut telah diganti dengan patung macan yang gagah. Di sisi lain saya merasa sedih tidak dapat mengabadikannnya, namun di sisi lain pula merasa senang karena citra militer tidaklah untuk ditertawakan.

Saya terus meneruskan perjalanan meskipun pegal terasa, Cisewu tidak bersahabat dengan sinyal telepon saya, akhirnya mengandalkan panarosan ke masyarakat sekitar bahwa menurut keterangannya menuju kawasan pantai tinggal 1 jam lagi. Syukurlah.

Jalanan terus menurun hingga berakhir pada sebuah perempatan besar yang merupakan Jalur Lintas Selatan yang pernah dilalui dahulu. Di seberang ada jalan yang langsung lurus menuju Pantai Rancabuaya. Tempat tersebutlah yang menjadi sambangan saya pertama kali.

Pantai Rancabuaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut

Ketika memasuki kawasan pantai yang masih harus ditempuh sekitar lebih kurang 15 menit, angin hangat dan pohon-pohon kelapa menjadi kontras apa yang saya lihat di Cisewu penuh dengan hutan hijau yang lebat dan udara yang sejuk. Alih-alih mencoba menjadi masyarakat biasa dengan Mio, penjaga melihat plat nomor dan mengenakan biaya setara wisatawan. Tapi tidak apa. Setelah masuk ke pantai utamanya, dari gerbang sudah disambut oleh jalanan pasir pantai yang berarti sulit untuk berjalan karena pasti akan selip.

Kawasan pantai memukau mata saya dengan pasir putihnya yang bagi saya sendiri pertama kali melihat seperti ini. Di antara pasir-pasir tersebut tercampur kerang kecil berwarna-warni. Selain itu ombak pesisir pantai ini lebih tenang, mungkin karena kawasan ini dipenuhi oleh karang atau memang secara naturalnya. Pantai sebelah timur dipenuhi kapal-kapal nelayan yang hendak atau sedang berlayar, sedangkan sebelah barat terhampar kosong yang sepertinya memang diperuntukkan bagi wisatawan. Bibir pantai ini dibatasi oleh bukit karang yang besar di kedua arah. Saya dapat memberanikan diri untuk berenang di sini karena ombak kecilnya, untuk sekadar duduk pun sudah tersedia kursi dekat pohon di sekitar pantai. Pantai Rancabuaya cocok untuk spot foto ataupun liburan ke pantai dengan segala aktivitasnya.

Saya menghabiskan hari dan bermalam di pantai tersebut mengingat untuk melanjutkan perjalanan pun sudah cukup penat. Ada beberapa pengunjung juga yang bermalam sama seperti saya, mereka berkelompok dan melakukan acara bakar-bakaran, game, dan bernyanyi. Malam menjelang sekalipun pantai ini masih tetap hidup dan ramai.

Keesokan harinya saya melanjutkan kembali perjalanan di Jalur Lintas Selatan, tepatnya ke arah timur. Sebab Rancabuaya ini sudah berada di bagian Barat yang tidak jauh berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. Menurut maps, terdapat pantai yang lebih ramai pengunjungnya, 45 menit dari Rancabuaya, saya mengunjungi pantai bernama Pantai Santolo. Secara tiket masuk relatif sama sekitar 10 ribu rupiah.

Pantai Santolo, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut

Sama indahnya seperti Rancabuaya, Pantai Santolo menjadi primadona masyarakat Garut, karena terletak persis di tengah-tengah dari pusat kota Kabupaten Garut, Tarogong yang berjalur lurus. Karena hal itu juga, ketika memasuki kawasan pantai, banyak yang menawarkan penginapan sebab biasanya Pantai Santolo ini dijadikan tempat rekreasi bagi para pemuda-pemudi atau keluarga. Berbeda dengan Rancabuaya, Pantai Santolo tidak berkarakteristik penuh dengan karang di sela-sela pantainya, melainkan di sebelah timur. Hal ini pula bibir pantai ini begitu panjang ke arah sebelah barat. Ombak di pantai ini juga lebih besar dari Rancabuaya, namun masih terkontrol yang berarti banyak peselancar yang datang ke pantai ini untuk berselancar. Pantai Santolo tidak menjorok ke laut sehingga kedalaman ujung pantainya sedikit lebih dalam daripada Rancabuaya.

Siang menuju sore, saya memutuskan untuk menelusuri pantai ini. Ternyata terdapat pantai lagi yang berbeda. Meskipun perkiraan saya masih kawasan pantai Santolo. Namun tidak, tulisannya terpampang jelas, “Selamat Datang di Pantai Sanghyang Heulang”. Segera saya membuka ponsel untuk mengecek maps, didapati memang ini pantai yang berbeda. Apa mungkin karena dibatasi oleh sungai sehingga disebut pantai yang terpisah?

Pantai Sanghyang Heulang, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut

Akhirnya saya menikmati matahari terbenam di pantai ini. Terlihat indah. Setidaknya dalam 2 hari berarti saya sudah mendatangi 3 pantai sekaligus. Benar-benar sebuah perjalanan yang menyenangkan namun melelahkan.

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

TELUK HANALEI (1)

Sachi kehilangan anak kesayangannya yang berumur 19 tahun oleh terkaman seekor hiu besar saat mereka tengah berselancar di Teluk Hanalei. Secara jelasnya, penyebabnya bukanlah karena terkaman hiu yang membunuhnya. Jauh dari ujung pantai ketika binatang itu merobek kaki kanannya, ia lalu panik dan tenggelam. Tenggelam, merupakan penyebab kematian utamanya. Hiu itu juga nyaris membelah papan selancar miliknya. Hiu-hiu sama sekali tidak tertarik terhadap daging manusia. Kebanyakan pada gigitan pertama mereka, mereka langsung merasa kecewa dan pergi begitu saja. Inilah mengapa banyak orang yang kehilangan kaki atau tangannya, namun mereka dapat selamat selama tidak panik. Sedangkan pada putra Sachi, meminum air laut dalam jumlah besar ditambah serangan jantung kala itu lalu tenggelam.

Ketika pemberitahuan datang dari konsulat Jepang di Honolulu, Sachi hanyut dalam syok yang diterimanya. Pemikirannya langsung kosong sehingga tidak dapat lagi berpikir. Yang dapat dilakukannya hanyalah duduk termenung menatap dinding. Entah berapa lama ini berlangsung, ia tidak tahu. Namun, alhasil kesadarannya kembali pulih setidaknya untuk melihat nomor penerbangan dan melakukan pemesanan kursi pesawat tujuan Hawaii. Staf konsulat telah mendesaknya untuk datang sesegera mungkin agar dapat mengidentifikasi korban di mana masih terdapat kemungkinan bahwa itu bukanlah anaknya.

Dikarenakan pada waktu itu masih dalam musim liburan, seluruh kursi sudah dipesan untuk hari itu dan keesokan harinya pula. Seluruh maskapai memberitahunya hal yang sama, tetapi ketika ia menjelaskan situasi yang terjadi, resepsionis maskapai United mengatakan, “Segera pergi ke bandara secepat mungkin. Kami akan mencarikan kursi untukmu.” Sachi mengemas barangnya di sebuah tas kecil dan pergi menuju Bandara Narita, di mana perempuan yang bertugas saat itu memberikannya tiket dengan kelas bisnis. “Ini yang kami punya untuk hari ini, tetapi kami akan memberikan biaya seharga kelas ekonomi,” ucapnya. “Ini pasti sulit bagimu. Berusahalah tegar.” Sachi berterima kasih kepadanya karena sangat menolong dirinya.

Seketika ia sampai di Bandar Udara Honolulu, Sachi menyadari bahwa dirinya sangat kesal karena lupa mengabarkan kepada konsulat Jepang mengenai waktu ketibaannya. Seorang anggota konsulat seharusnya menemani dirinya menuju Kauai. Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kauai sendiri daripada harus berurusan dengan rencana yang terbilang kompleks. Ia berasumsi bahwa kondisi masih seperti seharusnya ketika ia sampai di sana. Penerbangannya sampai di Bandar Udara Lihue di Kauai sebelum siang hari. Ia lalu menyewa mobil di konter bandara tersebut dan pergi ke pos polisi terdekat dari dirinya. Di sana, ia mengatakan bahwa ia baru saja datang dari Tokyo setelah mendengar kabar anaknya terbunuh oleh hiu di Teluk Hanalei. Seorang polisi yang memakai kacamata dan memiliki uban mengarahkannya ke kamar mayat yang terlihat seperti penyimpanan dingin, dan menunjukkan tubuh anaknya dengan kaki yang telah lepas salah satu. Segala di bawah dengkul kanannya telah habis, dan tulang putih pucat menonjol dari dalam. Ini merupakan putranya– sudah tidak ada keraguan lagi. Wajahnya menunjukkan tanpa ekspresi seperti terlihat ketika ia sedang tertidur. Sachi dapat saja berkelit akan kematian anaknya. Seseorang bisa saja menyiapkan tubuh seperti ini. Ia tampak seolah-olah, bila digoyangkan pundaknya akan bangun dan memprotes seperti yang dilakukannya sehari-hari di pagi hari.

Di ruang lain, Sachi menandatangani dokumen berisikan pernyataan bahwa tubuh tersebut merupakan anaknya. Seorang polisi menanyakan apa yang akan dilakukan olehnya selanjutnya. “Aku tak tahu.” ucap Sachi. “Apa yang biasanya orang lakukan?” Mereka biasanya mengkremasi dan membawa abunya ke rumah, balas polisi padanya. Ia bisa saja meminta dibawakan tubuh ini ke Jepang, tetapi ini memerlukan sebuah rencana yang sangat sulit dan lebih mahal tentunya. Kemungkinan lainnya adalah menguburkannya di Kauai.

“Tolong kremasi dia,” kata Sachi. “Aku akan membawa abunya ke Tokyo bersamaku.” Putranya telah mati. Tidak ada sebuah harapan membawanya ke kehidupan ini lagi. Apa bedanya antara abu atau tulang-belulang ataupun sebuah jasad? Ia menandatangi juga persetujuan kremasi dan membayar biaya yang diperlukan.

“Aku hanya punya kartu American Express,” pungkas Sachi.

“Itu tidak apa-apa,” tandas petugas.

Di sini aku, membayar pengkremasian anakku dengan kartu American Express, pikir Sachi. Sebuah perasaan yang aneh baginya, seaneh bahwa anaknya telah dibunuh oleh seekor hiu. Proses kremasi akan berjalan esok pagi, petugas kepolisian itu berkata padanya.

“Bahasa Inggrismu sangat bagus,” ucap sang petugas seraya menaruh dokumen agar tertata. Ia merupakan seseorang berdarah Jepang-Amerika bernama Sakata.

“Aku tinggal di AS cukup lama semenjak kecil,” kata Sachi.

“Pantas saja,” balas petugas tersebut. Kemudian ia memberikan barang-barang milik putranya: pakaian, paspor, tiket pulang, dompet, Walkman, majalah, kacamata, alat cukur. Seluruh barang itu muat dalam tas Boston kecil. Sachi lalu harus menandatangani lagi penyerahan barang ini.

“Apakah kau memiliki anak lain?” sang petugas bertanya.

“Tidak, ini anakku satu-satunya,” balas Sachi.

“Suamimu tidak berencana?”

“Suamiku telah meninggal semenjak lama.”

Petugas tersebut mengeluarkan napas yang dalam. “Maafkan saya telah bertanya. Mohon beritahu saya bila ada yang ingin dibantu kembali.”

“Saya berharap untuk bisa diantarkan menuju tempat di mana putra saya meninggal. Dan di mana ia tinggal. Saya rasa ada biaya hotel yang harus dibayar. Dan saya perlu untuk menghubungi konsulat Jepang di Honolulu. Bolehkah saya meminjam ponsel Anda?”

Petugas itu memberikannya sebuah peta dan menandai tempat di mana anaknya berselancar dan lokasi hotel di mana ia menetap. Sachi bermalam di sebuah hotel di Lihue yang telah disarankan oleh petugas polisi tersebut.

Setelah Sachi meninggalkan pos polisi, petugas polisi paruh baya Sakata berkata padanya, “Aku punya permintaan personal kepadamu. Alam dapat mengambil nyawa manusia mulai sekarang dan seterusnya di sini di Kauai. Kau bisa melihat indahnya pulau ini, tetapi terkadang, pulau ini dapat liar dan mematikan. Kami hidup di sini dengan kemungkinan tersebut. Aku turut berduka mendengar kematian putramu. Aku dapat merasakannya. Namun, aku berharap kau tidak akan membenci pulau ini. Ini mungkin terdengar mementingkan diri sendiri bagimu setelah melewati semua ini, tetapi aku benar-benar bermaksud sebenarnya. Dari dalam hati ini.”

Sachi mengangguk padanya.

“Kau tahu, adik laki-lakiku meninggal dalam perang pada tahun 1944. Di Belgia, dekat perbatasan Jerman. Ia merupakan anggota dari Resimen Perang 442 yang terdiri atas tenaga sukarela keturunan Jepang-Amerika. Mereka di sana untuk menyelamatkan batalyon Texas yang terkepung Nazi ketika mereka menyerang dan membunuh anggotanya. Tidak ada lagi yang tertinggal selain dari kalung anjing dan beberapa cercahan salju bercampur dengan darah. Ibuku sangat mencintainya, mereka memberitahuku bahwa ibunya seperti orang lain setelah kejadian itu. Dulu aku hanyalah anak kecil, sehingga segala yang kutahu hanyalah ibuku setelah itu. Itu terlalu menyakitkan untuk dikenang.”

Petugas Sakata menganggukkan kepalanya lalu berkata:

“Apapun penyebab utama yang terjadi, orang-orang mati dalam perang dari kemarahan dan kebencian dua sisi. Tetapi alam tidak punya sisi itu. Aku tahu ini menyakitkan bagimu, tetapi cobalah untuk berpikir seperti ini: putramu kembali ke lingkaran alam; Tidak ada urusannya dengan penyebab oleh amarah atau rasa benci.”

Sachi datang ke sesi kremasi keesokan harin dan membawa abunya bersamanya di sebuah guci aluminium lalu pergi menuju Teluk Hanalei di utara dari pulau tersebut. Perjalanan dari pos polisi Lihue memakan waktu sekitar satu jam lebih. Sebenarnya semua pohon-pohon di pulau tersebut telah tumbang karena petir besar melanda beberapa tahun sebelumnya. Sachi menyadari sisa dari beberapa rumah kayu di sana telah hangus atapnya. Bahkan beberapa gunung menunjukkan tanda perubahan bentuk karena petir tersebut. Alam dapat lebih kasar pada lingkungan ini.

Ia melanjukan perjalanan ke sebuah kota kecil nan sunyi Hanalei menuju tempat berselancar di mana putranya diserang oleh hiu. Ia memarkirkan kendaraannya di dekat tempat itu, lalu pergi dan duduh di pantai sembari melihat beberapa orang yang tengah berselancar-mungkin sekitar lima orang. Mereka dapat mengambang jauh dari ujung pantai, memegang papan selancarnya, hingga suatu ketika ombak besar datang. Kemudian mereka mengendalikan papannya dan menembus ombak tersebut. Setelah ombak mulai mereda, mereka mulai kehilangan keseimbangan dan jatuh. Mereka dapat kembali menaiki papan mereka dan menunggu ombak yang akan datang seraya berenang menuju lautan terbuka, di mana mereka akan mengulangi kegiatan yang sama. Sachi dapat bersikeras untuk mengerti mereka. Apakah mereka tidak takut dengan hiu? Atau mereka tidak pernah mendengar bahwa anaknya terbunuh oleh hiu di tempat ini hari-hari sebelumnya?

Sachi tetap duduk di sana, menikmati tontonan pemandangan ini selama beberapa jam. Pikirannya tidak dapat mempercepat apapun. Beban kemarin seketika menghilang dari benaknya, dan masa depan bersemayam kelam di suatu tempat. Tiada satupun rasa ini menyambung padanya sekarang. Ia duduk secara terus-menerus mengganti keadaan, matanya menyusuri aluran ombak dan peselancar. Hingga suatu ketika berpikir: Apa yang aku butuhkan sekarang adalah waktu.

Kemudian Sachi pergi menuju hotel di mana putranya bermalam, sebuah tempat kecil nan lusuh dengan taman yang tak terurus. Kedua lelaki tak berbaju dan berambut panjang duduk di sana meminum bir. Beberapa botol kosong Rolling Rock berhamburan di antara ganja di kaki mereka. Salah satu di antaranya berambut pirang, dan yang lain berambut hitam. Kalau tidak, mereka memiliki bentuk wajah dan tubuh yang serupa dan menggukana tato berjenis bunga di kedua tangannya. Terdapat bau marijuana bercampur kotoran anjing di udara. Ketika Sachi mendekati mereka, kedua pria tersebut memasang pandangan curiga.

“Anakku pernah bermalam di sini,” kata Sachi. “Ia terbunuh oleh hiu tiga hari yang lalu.”

Kedua pria itu saling memandang. “Apa yang kau maksud itu Takashi?”

“Ya,” balas Sachi. “Takashi”

“Dia benar-benar anak yang keren.” ujar pria yang berambut pirang.

“Kasihan sekali.”

Pria berambut hitam menjelaskan dengan suara lemah lembut, “Pagi itu, terdapat banyak kura-kura di pesisir. Hiu-hiu itu sedang mengincar kura-kura. Tetapi biasanya, mereka membiarkan para peselancar sendirian. Kami pun bahkan terbilang akrab dengan mereka. Namun, entah mengapa, mungkin kurasa ada sejenis hiu lain…”

Sachi mengatakan bahwa ia harus membayar tagihan hotel Takashi. Ia menyangka bahwa masih ada tagihan yang belum terbayarkan.

Pria berambut pirang mengerutkan keningnya dan mengayunkan botol di udara. “Tidak bu, kau tidak mengerti. Peselancar yang hanya tinggal di hotel ini, biasanya tidak memilki uang. Kau harus membayar uangnya di muka terlebih dahulu untuk memesan kamar. Kami tidak punya apa yang disebut ‘tagihan.'”

Kemudian pria berambut hitam membalas, “Katakan bu, apakah kau ingin mengambil papan selancar milik Takashi? Papan itu sudah terbelah dua oleh hiu bodoh, mereknya Dick Brewer tua. Petugas kepolisian tidak mengambilnya. Kurasa ada di, ah, sekitar sana…”

Sachi menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin melihat papan selancar itu.

“Benar-benar kasihan sekali,” pria pirang kembali berucap seakan hanya itu yang bisa ia utarakan.

“Dia benar-benar anak yang keren,” timbal temannya sang pria berambut hitam. “Sangat OK. Paling bagus dalam selancar juga. Coba pikirkan, dia bersama kami malam kemarin, meminum tequila bersama. Ya.”

Sachi akhirnya menginap di Hanalei selama seminggu. Ia menyewa penginapan yang telihat paling biasa supaya ia dapat memasak dan menyiapkan makanannya sendiri. Di suatu ketika, ia harus kembali ke Jepang. Ia membeli kursi vinil, kacamata, sebuah topi dan tabir surya, dan duduk di pesisir pantai setiap harinya, memandangi peselancar. Terkadang beberapa hari di antaranya turun hujan-derasnya, seperti seseorang menumpahkan air semangkuk secara sekaligus dari langit. Musim semi di pesisir utara Kauai benar-benar tidak stabil. Ketika rintik turun, ia memutuskan duduk di dalam kursi mobilnya, memandangi hujan. Dan ketika hujan telah reda, dia keluar dan kembali duduk di pesisir pantai, memandangi lautan.

Sachi mulai mengunjungi Hanalei pada musim ini setiap tahunnya. Ia akan tiba di sana beberapa hari sebelum perayaan tahunan kematian putranya dan tinggal selama tiga minggu, memandangi peselancar dari kursi vinil di pesisir pantai. Itulah kegiatan yang dilakukannya selama sehari-hari selama sepuluh tahun lamanya. Ia akan tinggal di penginapan yang sama dan makan di restoran yang sama pula sembari membaca buku. Ini menunjukkan seolah ada pola dari perjalanannya yang telah direncanakan, ia juga mencari orang-orang untuk diajak berbincang mengenai masalah yang diterpanya. Sehingga banyak penduduk yang tahu dirinya hanya dari pandangan sekilas saja. Ia menjadi terkenal sebagai seorang ibu orang Jepang yang putranya terbunuh oleh hiu.

Suatu hari, dalam perjalanan dari Bandar Udara Lihue, di mana ia mengembalikan mobil rentalnya, Sachi melihat kedua orang Jepang yang merupakan pembonceng mobil di Kota Kapaa. Mereka sedang berdiri di depan Restoran Keluarga Ono dengan tas perlengkapan olahraga yang mengganttung di pundak mereka, menunggu kendaraan melintas sembali mengacungkan jari jempol, meskipun tak terlihat percaya diri. Kedua pemuda tersebut memiliki rambut sebahu warna merah dan menggunakan T-Shirt yang berwarna pudar, celana longgar, dan sendal. Sachi melewati mereka, namun ia mengubah pikiran dan memutar balik.

Ia membuka jendela dan bertanya dalam bahasa Jepang, “Kalian mau pergi ke mana?”

“Ah, kau bisa bahasa Jepang ternyata!” yang paling tinggi membalas.

“Ya, tentu saja, karena aku adalah orang Jepang. Kalian mau pergi ke mana?”

“Sebuah tempat bernama Hanalei,” balas yang paling tinggi.

“Kalian mau ikut bersamaku? Aku menuju ke sana.”

“Bagus! Itulah yang kami harapkan!” timbal yang kekar.

Mereka menyimpan tas mereka di bagasi dan mulai masuk ke kursi penumpang di belakang mobil Sachi.

“Tunggu sebentar,” ucap Sachi. “Aku tidak ingin kalian berdua duduk di kursi belakang. Ini bukanlah taksi. Salah seorang dari kalian duduk di depan. Ini sikap umum yang baik.”

Mereka memutuskan yang paling tinggi untuk duduk di depan, ia malu-malu mulai duduk di sebelah Sachi, meluruskan kakinya ke tempat yang kosong. “Mobil model apa ini?” ia bertanya.

“Ini Dodge Neon. Mobil merek Chrysler,” timbal Sachi.

“Hmm, jadi Amerika punya mobil sekecil ini juga ternyata? Mobil Corolla adikku bahkan lebih besar dari yang ini.”

“Ya, tidak semua orang Amerika mengendarai mobil Cadillacs yang besar.”

“Ya, tetapi ini terlalu kecil.”

“Kau bisa keluar dari sini kalau kau tidak suka,” ucap Sachi.

“Wah, bukan maksudku begitu!” ucapnya.

“Aku hanya terkejut melihat mobil sekecil ini, hanya itu saja. Kupikir semua mobil orang Amerika memiliki sisi yang besar.”

“Omong-omong, apa tujuan kalian mengunjungi Hanalei?” Sachi menanyakan mereka sembari menyetir.

“Yah, hanya berselancar, hanya itu saja.”

“Di mana papan kalian?”

“Sudah di simpan di sana,” yang kekar membalas.

“Membawa dari Jepang memang sangat menyulitkan kami. Dan kami mendengar kalau bisa memakai yang paling murah di sana,” balas yang tinggi.

“Bagaimana denganmu?” Apa kau ke sana untuk berlibur juga?”

“Ya”

“Sendirian?”

“Sendirian,” Sachi berkata dengan lirih.

“Aku kira kau merupakan salah satu peselancar legendaris.”

“Jangan berpikir aneh!” ucap Sachi. “Apa kalian sudah ada tempat untuk menginap di Hanalei?”

“Tidak, kami akan memikirkannya lagi setelah sampai di sana,” jawab yang tinggi.

“Ya, kami akan memikirkannya kalaupun tidak kami bisa tidur di pantai jika harus,” balas yang kekar. “Lagipula, kami tidak memiliki uang.”

Sachi menggelengkan kepalanya. “Pesisir pantai utara akan sangat dingin pada musim tahun ini- sudah cukup dingin untuk memakai sweater di dalam ruangan. Kalian tidur di luar pun akan membuat kalian sakit.”

“Apa di Hawaii tidak selalu musim panas?”

“Hawaii berada di ujung utara belahan bumi, kau tahu. Jadi punya empat musim. Musim panas ya panas, dan musim dingin jelas dingin”

“Kalau begitu kami sebaiknya segera mencari tempat yang beratap.” timbal yang kekar.

“Kau bisa mencarikan kami tempat?” tanya yang tinggi. “Bahasa Inggris kami seperti tidak bisa dipahami.”

“Ya.” jawab yang kekar. “Kami dengar bisa menggunakan bahasa Jepang di Hawaii tapi selama kami mencobanya tidak ada yang berhasil.”

“Tentu saja tidak bisa!” ucap Sachi, merasa jengkel.

“Satu-satunya tempat yang menggunakan bahasa Jepang hanyalah Oahu, dan hanya satu bagian Wakiki saja. Mereka menginginkan turis Jepang yang menggunakan Louis Vuitton dan Chanel No. 5, jadi mereka merekrut pelayan yang bisa bahasa Jepang. Sama seperti Hyatt dan Sheraton. Tetapi di luar hotel, bahasa Inggrislah yang dapat diandalkan. Maksudku, ini Amerika. Kau datang ke Kauai dan tidak tahu itu?”

“Aku tidak tahu. Ibuku bilang semua orang di Hawaii bisa bahasa Jepang.”

Sachi menggerutu.

“Bagaimana kami tinggal di hotel termurah di kota,” kata yang kekar. “Sudah kubilang, kami tidak punya uang.”

“Pendatang baru tidak boleh menginap di hotel termurah di Hanalei.” Sachi memperingatkan mereka. “Itu bisa berbahaya.”

“Mengapa begitu?” tanya yang tinggi.

“Narkotika biasanya,” jawab Sachi. “Kebanyakan peselancar di sana adalah orang jahat. Marijuana mungkin dapat ditoleransi, tetapi hati-hati dengan es.”

“Es? Apa itu?”

“Aku tidak pernah mendengarnya” jawab pemuda tinggi.

“Kalian berdua tidak tahu apapun ‘kan? Kalian menjadi sasaran empuk bagi mereka. Es merupakan istilah untuk narkotika keras, dan itu tersebar di penjuru Hawaii. Aku tidak tahu detilnya, tetapi bentuknya seperti kristal. Harganya murah dan mudah dipakai, membuat kalian merasa tenang, tetapi sektetika itu kalian akan kecanduan hingga kematian sekalipun.”

“Menyeramkan.” ucap yang tinggi.

“Maksudmu itu OK kalau untuk marijuana?” tanya yang kekar.

“Aku tidak tahu apa itu OK atau tidak, setidaknya itu tidak membunuhmu. Tidak seperti tembakau, ini dapat merusak otakmu perlahan, tetapi kalian tidak tahu perbedaannya.”

“Hei, itu terlalu keras!” kata yang kekar.

Pemuda tinggi menanyakan Sachi, “Apakah kau tipe seorang Boomer?”

“Maksudmu…”

“Ya, maksudku orang dari golongan generasi baby boom.”

“Aku bukan golongan dari generasi manapun. Aku hanyalah diriku. Jangan memasukkanku ke dalam grup apapun, kumohon.”

“Itu dia! Kau itu Boomer!” kata pemuda kekar. “Kau selalu menanggapi sesuatu dengan serius. Sama seperti ibuku.”

“Dan jangan samakan diriku bersama ‘ibu’ berhargamu,” ucap Sachi. “Omong-omong, demi kebaikan kalian, kalian sebaiknya tinggal di tempat biasa di Hanalei. Sesuatu mungkin dapat terjadi…bahkan pembunuhan sekalipun.”

“Tidak seperti sebuah surga yang ditawarkan seharusnya.” ucap pemuda kekar.

“Tidak,” ucap Sachi setuju. “Era dari Elvis telah lama musnah.”

“Aku tidak tahu maksudmu apa,” ucap pemuda tinggi, “tetapi aku tahu kalau Elvis Costello itu sudah tua.”

Sachi mengendarai tanpa berucap sepatah katapun.

Sachi berbicara kepada pengelola penginapannya, lalu mencarikan ruangan untuk pemuda ini. Pengenalan oleh Sachi mengurangi harga mingguannya, namun masih terlalu lebih dari anggaran yang mereka punya.

“Tidak mungkin,” ucap pemuda tinggi. “Kami tidak punya uang sebanyak itu.”

“Ya, nyaris ke tidak ada.” ucap yang kekar.

“Kalian pasti punya untuk keadaan darurat,” Sachi meyakinkan.

Pemuda tinggi mengeluarkan sesuatu dari telinganya, “Kami punya kartu keluarga untuk Diners Club, tetapi ayahku bilang jangan sekali digunakan kecuali untuk sebuah keadaan darurat yang benar nyata. Ia khawatir kalau aku menggunakannya aku tidak akan berhenti. Jika aku menggunakannya selain dari keadaan darurat, aku akan menghadapi sebuah kekelaman ketika pulang ke Jepang.”

“Jangan berlagak bodoh,” kata Sachi. “Ini merupakan sebuah keadaan darurat. Jika kau tetap ingin hidup, gunakan kartu itu sekarang juga. Kalian menginginkan dimasukkan penjara oleh polisi dan dijadikan pacar oleh orang Hawaii. Tentu saja, jika kau suka hal itu beda lagi, tetapi itu menyakitkan.”

Pemuda tinggi mengeluarkan kartunya dari dompet dan menyerahkannya pada pengelola. Sachi meminta nama tempat di mana mereka membeli papan selancar bekas itu. Pengelola itu menambahkan, “Dan ketika kau pulang, mereka akan membelikannya kembali darimu.” Para pemuda itu menyimpan barang-barang mereka di kamar dan bergegas menuju ke toko.

Sachi sedang duduk di pesisir pantai, melihat ke lautan seperti biasanya pada pagi hari, ketika kedua pemuda Jepang itu muncul dan mulai berselancar. Kemampuan selancar mereka begitu lihai, suatu yang kontras dengan keputusasaan mereka di tanah ini. Mereka dapat memperkirakan sebuah ombak besar, memasang ancang-ancang dengan gesitnya, dan mengarahkan papannya menuju ke pesisir dengan anggunnya serta tentunya kontrol. Mereka melakukan ini hampir berjam-jam tanpa berhenti. Mereka terlihat hidup ketika mereka mengendalikan ombak: mata mereka bersinar, tubuh mereka punya kepercayaan diri. Tidak ada tanda kemalu-maluan seperti hari kemarin. Sachi kembali ke rumah, mereka mungkin akan menghabiskan hari-hari mereka bersama air laut, tak pernah belajar—sama seperti putra Sachi.

 

Bersambung.

 

 

Salam literasi!

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

KEBANGKITAN DAN KEJATUHAN KUE SHARPIE

Setengah terbangun, aku kala itu tengah membaca surat kabar pagi ketika sebuah iklan di sebuah rubrik menarik perhatianku: ”Merayakan Kue Sharpie, Pabrik Mencari Sebuah Produk Baru. Seminar Informasi Besar.” Aku tidak pernah mendengar tentang Kue Sharpie sebelumnya; Itu pasti sebuah kue dengan jenis baru. Apalagi diriku begitu berharap pada pemerhati manis-manisan, dan saat ini pula diriku memiliki waktu yang cukup luang. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melihat apa yang mereka tawarkan pada ”Seminar Informasi Besar”.

Acaranya diselenggarakan di sebuah ballroom hotel, di sana disajikan juga teh dan kue. Kuenya, tentu saja, merupakan kue Sharpie. Aku mencoba memakannya sepotong, tetapi aku tidak bisa mengatakan kalau aku begitu menyukainya. Kuenya memiliki tekstur lembek dan pinggirannya terlalu kering. Ku tak bisa mempercayai bahwa manisan ini memikat para anak gaul muda.

Namun begitu, semua orang yang hadir pada pertemuan informasional ini di antara usiaku dan bahkan lebih muda. Aku diberikan sebuah tiket bernomor 952, dan setidaknya ada seratus orang yang datang setelahku, yang berarti ada sekira seribu orang pada pertemuan ini. Benar-benar mengagumkan.

Duduk di sebelahku terdapat seorang gadis berusia 20-an dengan menggunakan kacamata tebal. Tidak terlihat cantik, namun ia tampak merupakan seseorang yang memiliki sifat baik.

“Beritahu padaku, apakah kau pernah memakan kue-kue Sharpie ini sebelumnya?” tanyaku.

“Tentu saja,” pungkasnya. “Kue ini begitu populer.”

“Ya, tapi kue-kue ini sangat tidak-” ketika diriku mulai berkata, di saat yang bersamaan ia menendangku dengan kakinya. Orang-orang di sekitar kami melemparkan pandangan amarah tertuju padaku. Situasinya menjadi suram, tetapi aku dapat melaluinya dengan memasang muka paling polos sepolos Winnie The Pooh.

“Kau gila ya?” gadis itu membisik padaku setelahnya. “Kau datang ke tempat seperti ini dan menyumpah serapah tentang Kue Sharpie? Penyukanya akan menandaimu. Kau tidak akan bisa pulang ke rumah hidup-hidup.”

“Penyuka Sharpie?” Aku berseru. “Dasar-”

“Suttttt!” gadis itu memberhentikanku. Pertemuannya akan segera mulai.

Direktur Perusahaan Kue Sharpie membuka perhelatan dengan perjalanan sejarah dari Kue Sharpie. Itu merupakan sebuah “fakta” yang meragukan dari sebuah cerita mengenai bagaimana seseorang di sebuah masa di abad ke delapan belas mencampurkan beberapa komposisi untuk membuat Kue Sharpie pertama kalinya. Ia mengklaim ada sebuah puisi tentang Kue Sharpie di Antologi Kekaisaran Kokinshu ke 905. Aku nyaris saja tertawa mendengar hal itu, tetapi semuanya mendengarkan begitu serius, hingga aku dapat menghentikannya sendiri. Lagipula, aku lebih khawatir dengan para Penyuka Sharpie.

Pidato direktur tersebut berjalan selama satu jam, dan benar-benar membosankan. Ia hanya ingin mengatakan bahwa Kue Sharpie merupakan sebuah manisan yang telah memiliki tradisi di baliknya, di mana dapat dikatakan hanya melalui beberapa kalimat saja.

Sedangkan direktur pelaksana muncul setelahnya menjelaskan penyebutan produk Kue Sharpie yang baru. Kue Sharpie merupakan sebuah manisan nasional yang terbual sepanjang masa dan sejarah, jelasnya, tetapi untuk sebuah produk yang luar biasa ini memerlukan darah baru agar tetap tumbuh dan berkembang secara dialektis supaya menyesuaikan kepada masa yang baru. Ini mungkin terdengar bagus, namun secara mendasar ia hanya mengatakan kalau rasa Kue Sharpie sudah terlalu kuno dan penjualannya menurun, sehingga mereka memerlukan ide baru bagi para pemuda. Ia bisa mengatakannya dalam beberapa kalimat saja.

Dalam perjalanan keluar, aku mendapat salinan tentang peraturan-peraturan untuk submisi. Di mana seseorang tersebut harus membuat manisan berdasarkan Kue Sharpie lalu mengirimkannya ke perusahaan sebulan kemudian. Hadiah uang: dua juta yen. Andai saja aku punya dua juta yen, aku dapat menikahi pacarku lalu pindah ke sebuah apartemen baru. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat Kue Sharpie yang baru.

Seperti yang kukatakan baru saja, aku bisa memilih memutuskan untuk menuntut di mana manisan lebih diperhatikan. Dan aku bisa membuatnya sendiri dalam bentuk apapun: selai kacang, krim isi, remahan panekuk. Hal itu memudahkanku untuk membuat sebuah versi kontemporernya dalam waktu sebulan. Menuju tenggat waktu, aku memanggang dua lusin Kue Sharpie baru dan membawanya menuju tempat resepsionis perusahannya.

“Kuenya tampak bagus,” ucap perempuan resepsionis.

“Kuenya memang bagus,” kataku.

Sebulan kemudian aku menerima sebuah telepon dari perusahaan Kue Sharpie memintaku untuk datang ke kantor mereka keesokan harinya. Aku memutuskan pergi ke sana dengan menggunakan jas berdasi dan bertemu dengan direktur pelaksana di meja resepsionis.

“Kue baru yang kau kirimkan telah diterima baik oleh para staf,” katanya.

“Terutama pen-, ah, staf anggota muda.”

“Aku senang mendengarnya,” ucapku.

“Di sisi lain, terdapat anggota-anggota lama di antaranya yang- bagaimana aku mengatakannya?- yang merasa kue yang kau buat itu bukanlah Kue Sharpie. Kami saat ini bahkan masih dalam tengah perdebatan.”

“Begitu,” kataku, memikirkan apa yang sedang terjadi.

“Dan, pen, ah, para dewan direktur telah memutuskan untuk meninggalkan penentuan utamanya kepada Sang Suci Penyuka Sharpie.”

“Penyuka Sharpie?” aku terkejut. “Siapa itu Penyuka Sharpie?”

Direktur pelaksana memperlihatkan tampak bingung. “Kau berarti mengikuti kompetisi ini tanpa mengetahui apapun mengenai Penyuka Sharpie?”

“Maafkan aku. Aku merupakan orang yang tertutup.”

“Ini buruk sekali,” katanya. ”Jika kau tidak tahu mengenai Penyuka Sharpie, maka…” Ia berhenti sejenak. “Ah, lupakan saja. Silakan ikuti aku.”

Aku mengikuti direktur keluar ruangan, turun ke aula, menaiki lift menuju lantai enam, kemudian turun ke aula lain, akhirnya mengarahkanku pada sebuah pintu besi besar. Direktur itu menekan tombol getar, dan sesosok penjaga bertubuh besar muncul. Ia mengkonfirmasi bahwa ia adalah direktur pelaksana, kemudian dibukakan pintu itu. Penjagaannya benar-benar ketat.

“Sang Suci Penyuka Sharpie tinggal di sini,” jelas direktur. “Mereka merupakan keluarga burung khusus. Berabad-abad mereka tidak memakan apapun selain dari Kue Sharpie untuk tetap hidup.”

Tidak ada penjelasan penting lagi. Di sana terdapat sekitar seratus ekor gagak dalam ruangan berbentuk gua, yang seperti ruang penyimpanan dengan langit-langit seluas empat meter dan tiang panjang terpasang dari dinding ke dinding. Di setiap tiangnya bertengger Penyuka Sharpie. Mereka lebih besar daripada ukuran gagak pada umumnya, mungkin berukuran satu meter dalam tinggi. Bahkan yang paling kecil sekalipun berukuran setengah meter tingginya. Mereka tidak mempunyai mata di mana seharusnya ada, melainkan tergantikan tumpukan lemak putih. Tubuh mereka bengkak dan nyaris meletus.

Ketika mereka mendengar kami masuk, mereka mulai mengepakkan sayap dan mengeluarkan teriakan tangisan. Pada pertama kali, terdengar seperti sorakan yang tersusun bagiku, tetapi ketika telingaku mulai terbiasa, tangisan itu terdengar seperti teriakan, “Sharpie! Sharpie!” Mereka merupakan sosok yang menakutkan untuk dilihat.

Dari kotak di tangannya, direktur memecahkan kuenya ke lantai, dengan respons seratus lebih gagak menyambar kue tersebut. Dalam berusaha menggapai kue itu, gagak-gagak saling menginjak satu sama lain. Tak heran mengapa mereka kehilangan penglihatannya.

Selanjutnya direktur mengambil sesuatu menyerupai Kue Sharpie dari kotak lain, dan memecahkannya ke lantai. “Lihat ini,” katanya kepadaku. “Ini merupakan resep yang dapat mengeleminasi dalam kompetisi.”

Burung-burung tersebut berjejalan seperti sebelumnya, namun ketika mereka menyadari kue yang dimakan mereka tidak berbentuk seutuhnya Kue Sharpie, mereka memuntahkannya dan meneriakkan amarahnya:

Sharpie! Sharpie! Sharpie! Sharpie!

Mereka mulai meneriakkan tangisannya hingga menggema pada langit-langit sampai membuat telingaku sakit mendengarnya.

“Kau lihat? Mereka hanya memakan Kue Sharpie yang asli,” direktur menyeringai. “Mereka takkan menyentuh barang tiruan.”

Sharpie! Sharpie! Sharpie! Sharpie!

“Sekarang, mari kita coba Kue Sharpie baru buatanmu. Jika mereka memakannya, kau menang. Jika tidak, kau kalah.”

Ah, sesuatu meyakinkanku bahwa ini tidak akan berhasil. Mereka tidak seharusnya membiarkan sekumpulan burung bodoh memutuskan hasil dari kompetisinya. Tak sadar terhadap keraguanku, direktur telah memecahkan kuenya ke lantai untuk para “Penyuka Sharpie”. Lagi-lagi gagak-gagak itu menerkamnya dan menimbulkan kerusuhannya lagi. Sebagian mereka memakan dengan lahap, tetapi sebagainnya lagi memuntahkannya sembari berteriak, “Sharpie! Sharpie! Sharpie!” Dan sisanya lagi tidak dapat menjangkau kue, menjadi gila dan mulai menusuk leher burung-burung yang sedang makan. Darah bersemburan ke segala arah. Seekor gagak ada yang memakan kue bekas muntahan gagak sebelumnya, namun lagi gagak besar lainnya menghalanginya dan berteriak “Sharpie!” lalu menyobekkan perut burung yang hendak memakan kue tersebut. Setelahnya ini menjadi sebuah arena tarung, darah mengucur semakin banyak, dan amarah semakin memanas. Ini bersumber hanya karena kue yang tidak masuk akal, meskipun bagi burung-burung ini kue adalah segalanya. Entah itu Sharpie atau bukan hanyalah sejengkal antara hidup dan mati di mata mereka.

“Sekarang kau lihat perbuatanmu!” ucapku pada direktur. “Kau memberikan kue seolah tidak terjadi apa-apa di depan mereka. Ketegangannya begitu kuat.”

Kemudian, aku keluar dari ruangan sendiri, menuruni lift, dan meninggalkan gedung kantor Kue Sharpie. Aku membenci kalau aku kalah dua juta yen, tetapi aku tidak juga mau menghabiskan hidup bergantung pada gagak-gagak bodoh ini.

Mulai sekarang, aku akan membuat dan memakan makanan yang akan aku makan saja. Gagak-gagak Sharpie bodoh ini dapat membunuh satu sama lain hanya untuk sesuatu yang aku pedulikan.

 

 

 

Diterjemahkan dari cerpen Haruki Murakami berjudul The Rise and Fall of Sharpie Cakes dalam seri buku Blind Willow, Sleeping Woman.

 

 

Salam literasi!

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

TUJUH GAJAH MENGHILANG

Murakami memang seseorang jenius yang tak terbantahkan lagi. Koleksi karya-karyanya dengan narasi pendek didesain untuk membantu pembacanya teralihkan dari dunia keseharian yang berat dan meninabobokan dengan kemampuan penyampaian cerita apik dan membawa pembacanya masuk ke dalam dunianya. Beberapa cerita awal mungkin membuat pembacanya merasa aneh. Akhirannya pun tidak terikat antara cerita satu dengan lainnya.

Ceritanya bermula dengan judul “Burung Nejimaki dan Wanita Hari Selasa”, sebuah kisah sureal tentang seorang protagonis apatis yang sedang mencari kucing istrinya yang hilang, hubungannya pun tidak teratur, dan munculnya telepon dari wanita misterius yang selalu meneleponnya serta adanya pertemuan yang ia miliki di sebuah rumah kosong. Kisah singkat ini merupakan variasi dari bagian pertama The Wind-Up Bird Chronicle yang juga merupakan karya tersohor beliau.

The Elephant Vanishes alt

Kisah yang kedua berjudul “Penyerangan Toko Roti Kedua” setelah kisah sebelumnya. Berpusat kepada pasangan yang bangun dengan rasa lapar yang luar biasa setelah melewati tengah malam dan mereka memutuskan hanya jalan untuk menghilangkannya mencuri di toko roti. Kisah ini merupakan yang paling cepat dengan menegaskan seseorang yang kabur dari tanggung jawab. Seperti diibaratkan dengan dongeng rakyat modern yang ketika dibaca akan berisikan pesan moral tanpa kehilangan rasa dari kisah tersebut.

Sebenarnya masih banyak cerpen yang terdapat di dalamnya yang dapat dibaca lebih lanjut. Mayoritas dari kumpulan cerpen ini begitu memuaskan dan menyeret pembacanya ke dunia ciptaan Murakami di setiap cerpennya. Karena ini kumpulan cerpen, ini begitu disarankan kepada para penggemar karya Murakami apalagi yang telah membaca karya-karya besarnya. Buku ini terbilang ringan dalam penjabaran narasinya tidak seperti novel beliau pada umumnya sehingga tidak akan memakan waktu yang lama untuk menyelesaikan buku ini. Hanya saja karena ini memang kumpulan cerpen, ekspektasi dari pembaca akan mengira di akhir cerita berisikan satu narasi gabungan dari total cerpen yang ada, sayangnya tidak.

 

Salam literasi!

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

CINTA TERPISAH DUNIA: AOMAME & TENGO

Buku ini merupakan karya Haruki Murakami yang kedua dibaca saat awal-awal mulai mendalami karya-karya beliau. Sebagian orang menyarankan membaca versi vintage terlebih dahulu, namun karena dari judul sudah menarik dan terdapat tiga percabangan cerita, maka buku ini tetap menjadi pilihan di kala itu. Baru belakangan ini memiliki waktu untuk mengulas buku yang penuh misteri, makna tersembunyi, dan paling tebal di antara buku lainnya. Sebab itu diperlukan pembacaan berulang agar mendapat ulasan yang sesuai dengan apa yang diutarakan buku ini. Memang sebagian besar orang bilang kalau membaca karya-karya Murakami itu yang diutamakan adalah kesabaran dan kepahaman.

Dimulai dengan seorang tokoh perempuan bernama Aomame yang sedang menaiki taksi di Tokyo menuju perjalanan kerjanya. Ketika taksi terjebak dalam kemacetan di Jalan Shibuya, supirnya menyarankannya untuk turun dari mobil dan mengambil tangga darurat demi mencapai tepat waktu di pertemuan penting kantornya. Walaupun begitu, ia mengimbau Aomame bahwa ketika ia melakukan hal tersebut akan mengubah kenyataan hidupnya. Sempat ragu, akhirnya Aomame dapat sampai di hotel di Shibuya dan menyamar menjadi pelayan hotel untuk bisa membunuh tamu hotel. Ia membunuhnya menggunakan alat pemecah es dengan tidak meninggalkan jejak pada korban. Sehingga dugaan kematiannya diakibatkan kegagalan jantung. Aomame mulai merasakan pengalaman aneh, menyadari sebuah dunia baru yang berbeda. Polisi Tokyo kini membawa pistol otomatis. Padahal sebelumnya mereka menggunakan revolver. Kemudian ia segera mengecek berita di koran-koran terdahulu dan ia menemukan berita di mana ia tidak tahu. Sembari membaca artikel tersebut, ia menyimpulkan bahwa ia tengah hidup di dunia alternatif yang disebutnya “1Q84” dan ia memperkirakan memasukinya semenjak mendengar Janacek Sinfonietta di radio taksi.

Sementara itu, di lini waktu yang sama, ada seorang lelaki bernama Tengo yang diperkenalkan kemudian. Ia merupakan guru matematika dan sekaligus penulis. Komatsu, editor dan pembimbingnya, menyuruh Tengo untuk menulis ulang novel berjudul Kepompong Udara demi mendapatkan hadiah dan promosi literasi baru yang ajaib. Tengo mempunyai syarat dalam menulis ulang karya seseorang, ia setuju bila dapat bertemu langsung dengan penulis aslinya dengan nama pena “Fuka-Eri” dan meminta perizinan darinya. Pada tahun 1974, Fukada yang merupakan ayahnya Fuka-Eri dan 30 orang lainnya membentuk sebuah komune bernama “Sakigake”. Anggota muda komune tersebut bekerja keras di bawah kepemimpinan Fukada, namun ketidaksetujuan dalam komune tersebut mengarahkan pada munculnya faksi radikal yang ingin membentuk komune baru bernama “Akebono” dan komune tersebut sering kali terlibat dalam baku tembak dengan kepolisian di dekat Danau Motosu, Prefektur Yamanashi. Setelah itu tidak ada yang tahu dan pintu masuk ke komune benar-benar terjaga dengan ketat.

10357575

1Q84 terbagi menjadi 3 buku dengan cerita fokus Aomame pada bab berangka ganji, dan fokus Tengo pada bab genap. Namun ada versi yang sudah disatukan menjadi buku bertebal 900 halaman. Kemunculan tokoh-tokoh lain dalam cerita ini benar-benar berpengaruh dan penting bagi jalannya cerita. Bahkan dapat memunculkan sebuah percabangan cerita baru di dalamnya. Kemisteriusan yang dituangkan Murakami dalam karyanya ini pun tidak tanggung-tanggung, dari kemajuan teknologi, munculnya dua bulan, keterlibatan tokoh pada dunia alternatif, serta masih banyak lagi ini memeriahkan serta membuat kompleks cerita. Dialog yang padat, quotable, tema surealis, pendalaman karakter yang sangat baik, plus ditunjang dengan narasi yang indah, itulah yang disuka dari buku-buku Murakami.

1Q84 meninggalkan banyak sekali pertanyaan. Ada hal-hal yang sepertinya belum tuntas, belum terjawab, sengaja dibiarkan menggantung. Mungkin memang sengaja dibiarkan jadi teka-teki oleh Murakami sesaat begitu menyelesaikan bacaan ini. Meskipun begitu ada keindahan pada pertengahan menuju akhir cerita yang menanti pembacanya meskipun harus melalui kebingungan akan jalannya cerita. Tetapi memang seperti itulah khas dari Haruki Murakami.

 

Salam literasi!

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

KAFKA, NAKATA, DAN DUNIA PUSTAKA

Membaca karya-karya Haruki Murakami sepertinya diperlukan kesabaran serta ketelitian yang lebih dalam menangkap ceritanya. Pasalnya, ini merupakan karya yang terbilang tebal dan kompleks ceritanya. Bisa dibilang, adiknya dari 1Q84 dengan jumlah ketebalan hampir 900 halaman meskipun buku ini tidak mencapai 500 halaman lebih, namun percabangan ceritanya yang mengambil dari tiga sudut pandang benar-benar memutar pikiran untuk menyambungkan dengan cerita utama. Syukurnya pada akhir cerita ketiga sudut pandang ini menyatu dalam sebuah garis besar linier.

Cerita ini berawal dari seorang anak bernama Kafka Tamura yang berumur 15 tahun dan dalam cerita ini, Kafkalah yang banyak ngambil keputusan penting, termasuk apakah dia merealisasikan ramalan ayahnya yaitu takdir untuk membunuh ayahnya, dan meniduri ibu serta kakak perempuannya. Takdir ini bagai bayangan yang terus menghantuinya selama hidupnya bersama ayahnya, sebab hal ini terus-menerus diulangi oleh ayahnya, seorang pembuat patung terkenal yang ditinggal oleh istri dan anak perempuannya, Koichi Tamura. Cerita Kafka dapat ditemukan di setiap bab ganjil. Sedangkan untuk bab yang berangka genap menceritakan seorang lansia bernama Tanaka, ia kehilangan jiwanya akibat sebuah kecelakaan misterius yang terjadi ketika ia masih kecil, kini setelah menghadapi rentetan kejadian yang tak ia pahami, merasa harus melakukan sebuah tugas yang bahkan dirinya sendiri tak tahu jelas. Meskipun begitu kemampuan berbicara dengan kucing dimiliki olehnya. Selama itulah, ia bertugas mencari kucing-kucing yang hilang.

29749234_96f8c04a-271e-456f-b3c2-241fe823641c_1268_1974

Singkat cerita perjalanan Kafka Tamura berpusat di kota Takamatsu, tempat ia hidup dalam beberapa bulan. Selama itu juga ia habiskan hari-hari bekerja di perpustakaan. Ia berkenalan dengan Oshima pekerja perpustakaan yang memiliki rumah kecil ditengah hutan. Juga ada Nona Saeki yang sempat menjadi penyanyi yang menghilang ketika dipuncak karirnya. Nona Saeki adalah pencipta lagu “Kafka on the Shore”, lagu yang sangat popular namun tidak pernah dimainkan lagi bahkan hanya untuk didengar. Kafka setiap malamnya melihat bayangan hantu Nona Saeki ketika masih berusia 15 tahun walaupun dalam cerita Miss Saeki belum meninggal. Kafka juga selalu penasaran terhadap hantu Nona Saeki ini dan secara tidak sadar ia mencintainya dalam fisik Saeki yang berumur 15 tahun.

Menuju ke kisah Nakata, ia sudah dalam umur 50an. Walaupun bodoh dan tidak bisa membaca, kemampuan tadi menjadikan ia detektif kucing yang menghilang. Ternyata ia menemui bahwa kucing-kucing hilang akibat dibunuh untuk dijadikan seruling. Sehingga satu peristiwa terjadi sehingga Nakata harus membunuh sang penculik. Setelah pembunuhan terjadi, Nakata pergi ke Takamatsu dengan teman yang kenal di jalan yaitu Hoshino. Hoshino lah yang menjadi kawan selama di Takamatsu, menemani Nakata dengan segala keanehan selama di Takamatsu.

Di antara beberapa bab ternyata terdapat sebuah cerita di masa perang dunia kedua yaitu menceritakan anak-anak SD yang tengah mengumpulkan jamur untuk keperluan sekolahnya ditemukan pingsan beserta gurunya. Kemudian di tempat itu muncul UFO yang sangat misterius tentunya. Hal ini membuat tentara Amerika Serikat melakukan penelitian pada kejadian tersebut baik membawa siswa-siswa dan guru tersebut, menanyai beberapa narasumber seperti masyarakat wilayah sekitarnya hingga pada tentara Jepang yang dicurigai melakukan tes senjata biologis. Diketahui bahwa anak-anak dan guru itu tidak pingsan akibat keracunan jamur ataupun oleh kandungan kimia tertentu, namun tidak diketahui penyebabnya sehingga dilakukan penelusuran mendalam di bawah pimpinan Kolonel Sanders.

Kafka on The Shore ditulis menggunakan gaya surealis ciri yang melekat dari Murakami serta penuturan cerita dengan gaya bahasa yang dibilang memainkan pikiran serta emosi dari senang, tegang, hingga sedih benar-benar diatur dalam plot-plot tertentu dan timing yang tepat kapan saatnya keadaan tersebut berubah. Dengan segala hal-hal aneh dan tak lazim yang ia tebarkan di sepanjang novelnya, ia bisa membuat pembaca tidak memedulikan lubang-lubang itu. Murakami menambal lubang-lubang itu dengan memberikan informasi yang cukup untuk membuat pembaca merasa lubang-lubang itu wajar-wajar saja, sehingga ketika melihat lubang-lubang dan keanehan-keanehan lain, tidak lagi perlu untuk memikirkannya. Keistimewaan yang dimiliki Murakami diturunkannya pula di sini melalu ketika pembaca sudah benar-benar menyelesaikannya, akan terasa sebuah magnet yang selalu menarik kita untuk kembali membaca karya Murakami lainnya. Namun dengan keberadaan lubang-lubang tersebut membuat pembacanya merasa bingung ataupun penasaran tak berujung sebab tiadanya penyelesaian sebuah misteri-misteri yang terdapat dalam cerita. Selain itu adegan dewasa dan implisit lainnya ada dalam cerita Kafka on The Shore. Meskipun ini merupakan buku dengan target pembacanya adalah orang dewasa. Beberapa adegan implisit tersebut dapat diburamkan tak perlu diperjelas seperti peristiwa lainnya.

Sebagai penutup, ada kata-kata bijak dan memotivasi yang begitu favorit dalam karyanya ini. yaitu

Closing your eyes isn’t going to change anything. Nothing’s going to disappear just because you can’t see what’s going on. In fact, things will even be worse the next time you open your eyes. That’s the kind of world we live in. Keep your eyes wide open. Only a coward closes his eyes. Closing your eyes and plugging up your ears won’t make time stand still.” (Menutup matamu tidak akan mengubah apapun. Sesuatu tidak akan begitu saja hilang hanya karena kau tidak melihatnya terjadi. Nyatanya, sesuatu tersebut akan menjadi lebih buruk ketika kau membuka mata. Itulah dunia yang kita tinggali. Tetap buka matamu selebar mungkin. Hanyalah pengecut yang menutup matanya. Menutup mata dan menyumbat telingamu tidak akan membuat waktu berhenti).

 

Salam literasi!

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

SUMIRE DAN SPUTNIK SWEETHEART

Di sela terkurung selama karantina wilayah, akhirnya dapat kembali mengulas salah satu karya Haruki Murakami yang telah dibaca beberapa waktu silam. Bila ditanya mengapa mengulas karya beliau begitu dirasa cukup menantang, sebab untuk tahu intisari sebuah ceritanya terkadang banyak terselip makna tersirat ataupun cerita yang sebenarnya digambarkan pada perlakuan tokoh. Hal ini perlu pemikiran lebih atau setidaknya membaca kedua kalinya untuk paham apa yang diceritakan. Oleh karena itu, dengan adanya waktu yang renggang ini terdapat waktu untuk mengulas.

Tepat setelah menghabiskan cerita Hard-Boiled Wonderland and the End of the World, dengan kebingungan yang masih melanda pikiran, kemudianlah mengambil buku ini untuk dibaca. Entah ada apa yang dipikirkan saat itu, yang terpenting adanya motivasi yang mendorong untuk membaca buku ini.

Diawali dengan kalimat, “In the spring of her twenty-second year, Sumire fell in love for the first time in her life.” semakin membingungkan lagi. Retorika dalam pikiran segera bertanya, “Siapa Sumire?”, “Mengapa ia jatuh cinta dan dengan siapa?” yang kemudian dijawab oleh buku ini adalah tokoh utama yang jatuh cinta untuk yang pertama kali dalam hidupnya, dan ternyata yang ia cintai adalah perempuan berusia tujuh belas tahun lebih tua dan telah menikah. Semua kalimat itu mengandung masalah, dan cara terbaik untuk menjerat pembaca adalah menawarkan masalah sejak permulaan. Kemudian masuk ke biografi Sumire yang diceritakan ia merupakan seorang perempuan berusia 22 tahun, lahir di Chigasaki, pernah bersekolah di Prefektur Kanagawa dan melanjutkan kuliah dengan jurusan seni liberal, tapi tidak selesai karena lebih memilih jadi penulis; Penulis favoritnya adalah Jack Kerouac, gemar merokok, ceroboh (sering ketinggalan kereta dan selalu salah memasang pasangan kaus kaki). Meski ia baru jatuh cinta pertama kalinya, sebenarnya ia pernah pacaran tetapi tidak tahu apa arti cinta itu.

Di suatu saat Sumire bertemu Miu, dia ini berdarah Korea tetapi tidak bisa berbahasa Korea, lahir dan besar di Jepang, Kuliah akademi musik di Perancis, lancar bahasa Inggris, Perancis dan Jepang, modis, bermobil Jaguar 12 silinder berwarna navy blue. Sumire jatuh cinta pada Miu. Dan Miu ini perempuan. Semakin membingungkan ‘kan. Adanya Miu membuat Sumire tidak bisa menulis, tapi memang belum pernah ada karya Sumire yang berhasil kelar. Beberapa karya Sumire punya awal, beberapa punya akhir, tapi tidak ada yang punya keduanya. Bukan karena writer’s block, namun karena Sumire menulis terlalu banyak, ia tidak bisa memutuskan mana yang penting dan yang tidak. Sumire akhirnya bekerja pada Miu, menemani Miu berkeliling ke banyak negara. Dia berusaha memendam rasa, tapi akhirnya rasa itu luber, tak tertahankan.

Sumire lalu bergumam “Danger may be lurking there, something that may end up wounding me deeply, fatally. I might end up losing everything. But there’s no turning back. I can only go with the flow. Event if it means I’ll be burned up, gone forever” (hlm. 25) menyadari bahwa kejatuhcintaanya kepada Miu yang begitu besar membawanya ke petaka, namun begitu ia tidak bisa mengurangi bahkan menghilangkannya. Di suatu kisah, Sumire dan Miu melakukan perjalanan ke Yunani. Semua berjalan lancar di sana, hingga pada suatu ketika Miu hilang saat mereka berada di sebuah pulau dekat perbatasan Turki. Kehilangannya tanpa jejak dan tanpa tanda. Dijelaskannya “Sumire has disappeared. Like smoke.” (hlm. 53)

sputnik-sweetheart_114310

Buku ini unik, sebab selama menulis karyanya, Murakami menggunakan kata-kata dan istilah-istilahnya sendiri. Namun pada karyanya yang satu ini ia menggunakan istilah Sputnik sebagai judul. Sputnik sendiri merupakan satelit orbit pertama yang diluncurkan oleh Uni Soviet pada tahun 1957. Sputnik sendiri berarti “teman menjelajah”, sama seperti Sumire terhadap Miu. Kemudian, mungkin berdasarkan kebetulan semata, sebelum Miu mengetahui arti dari Sputnik, Sumire memiliki nama panggilan “Sputnik Sweetheart” untuk Miu. Selain itu, kegemaran Murakami seperti biasanya selalu memasukkan referensi tokoh-tokoh kegemarannya dalam karya ini ialah Hemingway dan Jack Kerouac yang digambarkan Sumire tertarik pada karya-karya mereka.

Karyanya yang satu ini pula memiliki sarat makna yang dalam sama seperti karya novelnya yang lain dengan menenggelamkan tokoh utamanya dalam suatu masalah yang terdengar abstrak, menghadirkan sosok perempuan yang kemudian pasti menghilang. Meskipun ciri khasnya mudah ditemui, beliau mampu membungkusnya dengan prestis dan pembacanya pun sebelum merasa bosan dengan ciri tersebut, sudah tenggelam dalam larutan ceritanya. Buku ini begitu direkomendasi bagi siapapun yang gemar Murakami, Franz Kafka, dkk atau pun menyukai mode surealis yang berbalut abstraksi pun cocok. Kalaupun kekurangannya mungkin terdapat suatu skema khas Murakami yaitu… yah pembaca karya-karyanya sudah tahu ada adegan khas yang selalu digambarkan mendetail, serta masih tidak adanya versi terjemahan bahasa Indonesia untuk versi ini sehingga mau tidak mau harus menyelami buku terjemahan Jay Rubin penerjemah ulung yang dekat dengan Murakami. Selain itu, selektif dalam memilih sampulnya. Sebab Sputnik Sweetheart tersedia tiga sampul dengan dua di antaranya dapat dibilang aman untuk di bawa di rumah atau di tempat umum dan satu lagi dengan nuansa nudisme. Sejauh terhindar dari kekurangan yang bisa diminimalisasi, buku ini sangat disarankan untuk dibaca di kala senggang.

 

Salam literasi!