Categories
Opini

Josee, the Tiger and the Fish: Romansa Disabilitas

  • Judul film                    : Josee to Tora to Sakana-tachi (Josee, the Tiger and the Fishes)
  • Tahun produksi           : 2020
  • Direktor                  : Tamura Kotaro
  • Penulis naskah             : Seiko Tanabe
  • Produser : Shuzo Kasahara, Koichiro Mukai, Mari Suzuki
  • Penayangan : Sayaka Kuwamura
  • Sinematografer : Nao Emoto
  • Editor : Kumiko Sakamoto
  • Desain : Yuji Kaneko
  • Musik : Evan Call
  • Pengisi Suara                :
  • Josee (Kiyohara Kaya)
  • Suzukawa Tsuneo (Nakagawa Taishi)
  • Kishimoto Kana (Lynn)
  • Matsuura Hayato (Okitsu Kazuyuki)
  • Ninomiya Mai (Miyamoto Yume)
  • Yamamura Chizue (Matsutera Chiemi)
  • Durasi                          : 98 Menit

Seorang mahasiswa Biologi Kelautan, Suzukawa Tsuneo bercita-cita untuk belajar di luar negeri dan menyelam di perairan tropis di Meksiko. Tapi rencananya untuk masa depan terganggu ketika dia bertabrakan pada di tengah jalan pulangnya dengan seorang gadis berkursi roda yang menyebut dirinya sebagai Josee, meskipun neneknya memanggilnya sebagai Kumiko yang memang merupakan nama aslinya. Tsuneo ditambah saat itu sedang mencari penghasilan tambahan untuk mendukung pembiayaan beasiswa menggapai cita-citanya ke Meksiko. Nenek Josee yang tahu bahwa Tsuneo membutuhkan uang, tampaknya karena iseng, nenek Josee yang terlalu protektif mempekerjakannya sebagai pengasuh paruh waktu, dan keterlibatan Tsuneo terhadap kisah hidup Josee, vice versa dimulai meskipun Josee menuntut dan kasar, dia dan Tsuneo saling memperluas wawasan satu sama lain. Ketika tragedi menimpa keduanya, secara terpisah, mereka dipaksa untuk mempertanyakan apa yang mereka inginkan dari masa depan.

© Studio Bones / Josee Committee

Josee yang Terkekang

Setelah kejadian bertabrakannya Josee dengan Tsuneo di malam musim dingin, neneknya semakin protektif kepada Josee bahkan mengingatkan Tsuneo untuk tidak mengajaknya keluar karena takut bahwa Josee akan mengalami kecelakaan atau setidaknya kemalangan atas dirinya tercermin bahwa neneknya menerapkan prinsip “Soto wa moujuu bakari no abunai basho” (Dunia luar adalah tempat berbahaya yang dipenuhi monster) dan kata-kata ini sangat menempel sekali di benaknya.

Saat Tsuneo dipaksa oleh Josee untuk mengajaknya pergi ke pantai di sekitar Osaka, ketidakfamiliaran Josee mengoperasikan tiket mesin ataupun menggunakan suica (kartu trip kereta) hingga keberadaannya tidak terasa bahkan mengganggu bagi sebagian orang yang melintas, mencirikan bahwa tidak hanya Josee terkekang oleh keluarganya sendiri dari menjadi seorang manusia yang sebenarnya terlepas dari kekurangan yang dimilikinya melainkan lingkungan sekitarnya mengekang Josee bahwa dunia ini tidaklah cocok bagi seseorang yang menyandang disabilitas.

Josee yang terkekang tidak hanya oleh saudara sedarahnya maupun lingkungannya merasa cemas dalam berinteraksi, kehilangan percaya diri menyebabkannya gugup karena memikirkan apakah dirinya pantas berada di lingkungan yang tidak menginginkannya. Rasa kesal dan pasrahnya tergambar dari kepalan tangannya yang disorot secara khusus yang berujung keinginan Josee mengakhiri hidupnya di perlintasan kereta dekat rumahnya yang ditolong oleh Tsuneo.

Josee telah lama merasakan hidup dalam kebosanan untuk menerima sugesti bahwa ia menyandang disabilitas yang seharusnya duduk diam karena tidak bisa melakukan apa-apa. Kenangan menikmati dunia luar hanyalah pada masa kecilnya bersama orang tuanya di kala masih ada. Sekalipun rumahnya di dekat laut, Josee belum pernah merasakan asinnya air laut yang sebatas hanya mendengar cerita ayahnya yang juga pernah menceritakannya kalau mengumpulkan sepuluh daun semanggi, keinginan dapat terkabul ataupun bercerita bahwa dengan menghitung lubang tatami dapat membuat seseorang tertidur.

© Studio Bones / Josee Committee

Semua Berubah ketika Tsuneo M̶e̶n̶y̶e̶r̶a̶n̶g̶ Datang

Fungsi Tsuneo di sinilah sebagai kunci berjalannya cerita. Meskipun Josee memang diperlukan, tapi alurnya akan monoton bila tanpa kehadiran Tsuneo.

Josee yang terkekang mau tidak mau menikmati hari-harinya dengan membaca buku. Namun, apa yang diberitahu oleh buku terutama novel dari Francois Sagan bukanlah perumpamaan apa yang terjadi di luar sebenarnya. Josee membayangkan dunia luar mengikuti penuturan buku-buku yang dibacanya yang kemudian dituangkan setiap bayangan pemikirannya ke dalam sebuah gambar yang lama-kelamaan menjadi renjana dirinya. Sebagian memperlihatkan Josee bagaimana New York dan Paris menjulang dan indah menghiasi, namun dunia luar yang diharapkan Josee menjadi tidak masuk akal di mana ia berangan-angan berenang mengitari Osaka menjadi puteri duyung bersama ikan-ikan.

Di sini Tsuneo bermainkan perannya menghadirkan dunia luar yang sesungguhnya ke hadapan mata Josee dengan berusaha mengganti pemikiran di benaknya bahwa dunia luar memang tidak semerbak layaknya dunia fantasi, namun banyak hal lain yang lebih indah tetapi masuk akal. Josee pun dari masa inilah mulai merasakan dan belajar hal-hal baru seperti memakan makanan crepe, melihat pesawat terbang, bahkan melihat langsung dalamnya lautan di akuarium publik Osaka yang mengubah cara pikirnya sekaligus menghilangkan kesepiannya karena adanya interaksi dengan Tsuneo.

Tsuneo mengajari pula Josee untuk berkomunikasi tidak hanya dengannya, melainkan kepada lingkungannya bahwa tidak ada yang untuk ditakuti oleh Josee, siapapun bisa melakukannya selama ada kemauan dan pemikiran positif. Hal tersebut berbuah hasil, meskipun pada tahap awal tidak mungkin adanya perubahan secara total, dengan gugup malu, Josee berusaha berinteraksi yang menghasilkan temannya seorang pustakawan bernama Kana-chan karena sesama penyuka karya Francois Sagan. Josee juga mau membacakan buku anak yang berpapasan dengannya meskipun sempat dikecewakan akibat nada penyampaiannya yang kaku, namun Josee menyadari bahwa potensinya telah keluar melalui penceritaan gambar yang membuat kagum anak tadi.

© Studio Bones / Josee Committee

Masalah Dilema

Tsuneo yang telah mengubah hidup Josee dari kebosanan menjadi berwarna atau menurut neneknya sebagai layaknya papan Glico yang siap berlari, serta pandangan Josee terhadapnya dari sekadar seorang Kanrinin (Pelayan) menjadi seseorang yang selalu mengisi harinya menuruti kemauannya bahkan yang dahulu membuatnya kesal kini membuatnya tawa.

Berbeda dengan karakter dalam versi film aslinya, inkarnasi Tsuneo ini sangat diidealkan ia menjadi seorang siswa teladan dan pria yang memiliki kesabaran yang tampaknya tak habis-habisnya dengan perilaku buruk Josee dalam membuatnya bersosialisasi. (Josee sangat suka memerintah; dia menyebutnya sebagai ‘orang bodoh’ atau ‘pelayanku’, dan pada satu kesempatan, Josee menggigitnya.) Namun perlu dicatat, bahwa Tsuneo juga bekerja sampingan di toko perlengkapan selam tempat Tsuneo bekerja paruh waktu terdapat rekan wanitanya bernama Mai, gadis lain yang jauh lebih baik, yang tidak akan pernah bermimpi menenggelamkan giginya ke rekan kerjanya. Mai diam-diam jatuh cinta pada Tsuneo, tapi kasih sayangnya tak terbalas.

Menyadari cintanya tidak pernah akan tersampaikan ke Tsuneo, ditambah Tsuneo yang semakin memperhatikan Josee daripada dirinya yang tidak pernah dilihatkannya kecuali ketika pasar malam di mana Tsuneo pun tengah dalam keadaan mabuk akibat tidak tahan mengurus Josee pada awal-awalnya, akhirnya keegoisan dari seorang Mai terlihat saat mengkonfrontasi Josee mengatakan Tsuneo peduli karena simpati dan Josee dianggap menghalangi jalan Tsuneo untuk meraih beasiswa ke Meksiko.

Plot cerita yang telah dikembangkan kembali buat turun hampir ke arah nol oleh Koutarou dengan membuat Josee menyadari kembali seperti awal-awal di mana ia memikirkan bahwa lingkungannya menolak kehadirannya dan Tsuneo hadir hanya berpura-pura baik karena melihat kekurangan Josee. Ditambah tampaknya Josee pernah mengalami trauma kehilangan teman/partnernya atas kehadiran tokoh yang baru dengan melihat keakraban Mai dan Tsuneo melupakan kalau Josee masih berada di tempat yang sama terlepas kecemburuan yang disandangnya.

Ketika cinta muncul di antara dua wanita atas satu pria, di sanalah konflik terjadi.

© Studio Bones / Josee Committee

Plot Dramatis

Josee yang kembali terpuruk dalam pemikiran negatifnya, kembali dihujani dengan kejadian-kejadian malang lainnya. Beberapa hari berselang, neneknya tiada. Dengan pandangan yang semakin kosong karena tekanan batin yang dialami Josee, membuatnya mengurung diri. Di tengah kemalangannya itu, pekerja sosial yang dipanggil oleh tetangganya memberi tahu kepada Josee bahwa dirinya nanti akan ditempatkan sebagai pekerja kantoran. Bukan hanya mengalami kemalangan yang luar biasa, ia bahkan kehilangan renjananya dalam bidang seni rupa.

Semakin besar tekanan yang diberikan pada Josee akhirnya ia memutuskan untuk menerima semua kemalangan tersebut dimulai dari mengakhiri hubungannya dengan Tsuneo agar bermaksud bagi Josee melepaskan kekangan terhadap Tsuneo yang terikat karena simpati melalui tugasnya yang “terakhir” untuk membawa Josee ke laut lagi. Sesampainya di sana kemurungan atas Josee digambarkan dengan langit yang mendung akan turun hujan dengan angin yang berhembus kencang menyiratkan bahwa beban yang diterima Josee begitu bertubi-tubi.

Adegan ini mengingatkan betul kepada sinetron-sinetron yang kerap tayang di televisi swasta empat huruf bahwa ketika seorang tokoh dalam kondisi yang murung, maka cuacanya pun akan mengikuti perasaannya. Apalagi adegan dramatis kecelakaan Tsuneo yang hendak menyelamatkan Josee yang kursi rodanya tersangkut benar-benar khas dari sinema Indonesia di mana tokoh memilih diam daripada menyelamatkan diri menarik Josee ke arah trotoar seperti menyelamatkan Josee di saat pertama kali bertemu.

Mungkin ada yang berpikiran, toh, memang Josee ini bila diserialisasikan jatuhnya juga sinetron-sinetron jua. Perubahan plot seharusnya bisa digambarkan dengan adegan yang tidak familiar bukan yang sudah pasaran untuk menyeimbangi cerita-cerita yang sudah menarik sebelumnya.

Singkat cerita, plot berubah, Tsuneo diprediksi dapat menjadi lumpuh yang tidak hanya menambah kembali beban bagi Josee, juga menghilangkan semangat hidupnya Tsuneo dengan kedatangan dosennya memberitahu jika masih belum sembuh maka beasiswa dibatalkan dan kelumpuhan Tsuneo membuatnya tidak bisa menyelam lagi.

© Studio Bones / Josee Committee

Penanaman Nilai Tersirat

Kemalangan yang bertumpuk banyak menyadarkan Josee bahwa jika ia memutuskan untuk diam, kemalangan lainnya akan terus bertambah, sehingga ketika Tsuneo dalam masa perawatan, Josee selalu berusaha menjenguknya hingga memberinya semangat untuk tidak membuang semua cita-citanya yang akan berujung menyedihkannya sama seperti Josee yang memberikan pesan bahwa manusia perlu tindakan untuk perubahan, diam saja pun tidak mengubah keadaan sama sekali.

Pesan lainnya yang disampaikan adalah penyesalan akan muncul terakhir maupun mengumpat akan menyengsarakan orang lain di sekitarnya dan si pengumpat melalui kedatangan Mai yang datang menjenguk sekaligus menyampaikan bahwa ia menyukai Tsuneo sejak dulu dan kemalangannya timbul akibat umpatan Mai yang tidak ingin Tsuneo pergi ke Meksiko melainkan berada di sisinya selalu.

Josee yakin melalui cintanya yang tulus dan saling percaya dengan Tsuneo menyatakan kepada Mai saat Mai bertaruh atas Tsuneo bahwa kedekatan dengan seseorang tetap kalah ketika seseorang tersebut menaruh kepercayaannya. Tsuneo benar berusaha kembali untuk sembuh dan Josee berusaha memberikan dorongannya dari belakang.

Masalah akan membuat seseorang tegar dan bijak tercermin dari Josee yang tidak hanya kembali berusaha mengambil renjananya menjadi ilustrator paruh waktu di samping kerja kantorannya, juga mulai berlatih public speaking yang dibuktikannya melalui cerita putri duyung buatannya untuk Tsuneo yang dikerjakan Josee selama perawatannya. Alhasil? Tidak hanya membuat penceritaan yang telah lancar meyakinkan anak-anak tetap duduk, juga membuat Tsuneo tersentuh dan termotivasi hingga dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit pada 25 Desember tepat di Hari Natal.

© Studio Bones / Josee Committee

Konklusi

Sudah beberapa tahun sejak penayangan film anime beraliran romansa seperti Your Name (Kimi No Na Wa) dan A Silent Voice (Koe no Katachi) yang mengungkapkan anime dalam kehancuran emosional dalam skala yang sampai sekarang tak terbayangkan. Sementara banyak anime sejak saat itu yang telah mencoba untuk menangkap kembali pencapaian emosi tertinggi, dan terendah yang penuh air mata seperti Mirai, Fireworks: Should we See it from the Side or the Bottom, dan bahkan karya Makoto Shinkai sendiri selepas Your Name, Weathering with You, kini masuk ke dalam daftar baru, Josee, Tiger and the Fish.

Josee dengan syukurnya menyajikan sebuah akhir bahagia yang bagi penikmat romansa begitu terpuaskan dengan tambahan adegan spesial di pengujung setelah Tsuneo berusaha mencari Josee yang seharusnya dijadwalkan bertemu saat keluar dari rumah sakit. Namun bagi Josee, menjadi seseorang mandiri dalam benaknya, padahal kemandirian dapat bisa diraih tanpa perlu meninggalkan seseorang yang dicintai.

Film ini juga dimanjakan oleh visual Osaka maupun lautan berikut dengan makhluk yang ditinggal di sana dengan penggambaran pemandangannya yang memanjakan mata, ditambah pula dengan sorotan-sorotan visual tertentu untuk menegaskan pesan tersirat dalam adegan yang dibawakannya. Belum lagi, musik latar yang diracik Evan Call selaras dengan visualnya dan disambungkan dengan lagu Shinkai yang bernada menggugah semangat dan diakhiri Ao no Waltz bernada romansa yang sama-sama diusung oleh Eve penyanyi anisong terkenal di kalangan penikmat jejepangan.

Film sederhana yang menggambarkan kehidupan jepang yang dibangun untuk mengajarkan yang berat yang harus dilalui oleh seseorang yang patah harapan dan kehilangan semangat, bahkan kehidupan di luar sana banyaknya kehadiran tiger, tetapi harus mengingat bahwa di samping itu banyak fish yang selalu menemani dan menyemangati aliran yang dilewati.

© Studio Bones / Josee Committee
Categories
Uncategorized

Menapaki Jejak di Selatan Jawa Barat (2)

Cianjur

Sebelum adanya niatan untuk melakukan penapakan ini, saya mulai tertarik dengan berlibur ke pantai dikarenakan teman-teman yang memutuskan perjalanan ke sana. Daerah inilah yang mereka tuju saat itu. Dulu saya pikir bahwa menuju pantai adalah sebuah perjalanan panjang dan bisa memakan waktu lebih dari seharian. Sebagian memang tepat, perjalanan menuju ke pantai betul-betul lama nan melelahkan, tetapi tidak sampai memakan waktu seharian. Kembali ke cerita, mereka memutuskan untuk menuju ke Pantai Jayanti, Kabupaten Cianjur. Bayangan saya waktu itu kalau berkunjung ke pantai pasti wah rasanya. Akhirnya saya mengikuti jejak mereka setelah kesampaian menelusuri jejak pantai selatan Jawa Barat.

Perjalanan yang sama seperti halnya saat menuju Garut, hanya saja yang berbeda saat memasuki antara Pangalengan dan Ciwidey, untuk menuju Cianjur ialah melalui jalur Ciwidey. Mengingat melihat peta pantai selatan ini terbagi ke dalam dua bagian yang memang bagian Ciwidey telah masuk ke dalam perbatasan dengan Cianjur memberikan pengalaman yang berbeda ketika menempuh perjalanan melalui Garut dari Pangalengan.

Meskipun sama-sama menempuh jalur pendakian kendaraan yang terbilang curam dan tinggi ataupun udara yang masih berhembus bagai dingin puncak ketinggian dengan khasnya embun, jalan antara perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Cianjur ini lebih banyak dihiasi dengan peringatan jalanan licin dan rawan longsor yang lebih banyak dari Garut mengingat selain kondisi alamnya yang lebih tinggi dan tidak cocok untuk ditinggali, kondisi jalan yang minim perawatan mesti jadi alasan lainnya.

Dalam perjalanan itu diselimuti was-was, akhirnya ketika jalan telah mulai bertoleransi dengan diri tidak terasa pula di sebelah kanan terpampang tugu perbatasan dengan gapura Cianjur yang khas dengan bentuk ukiran yang religius dihiasi lambang daerah di ujung atasnya. Terlepas dari masih jauhnya perjalanan, dengan menyadari perjalanan telah memasuki daerah lain, diputuskanlah untuk berehat sejenak dengan sebuah spot parkiran atau wilayah yang disemen tanpa keterangan yang jelas dekat gapura itu. Tak luput ketenagan itu diabadikan.

Gapura Perbatasan Kabupaten Cianjur

Saya pikir bahwa dengan selesainya rehat ini dan menghilangnya kabut meliputi udara dingin telah menandai perjalanan yang mengarah menuju wilayah pantai dengan karakteristik pohon kelapa yang bernyiur-nyiur atau pasir-pasir yang menyerap apapun yang menimpanya, nyatanya tidak.

Ingin rasa mencoba memastikan peta daring yang digunakan, apakah benar jalan yang harus ditempuh masih jauh sekali sesuai gumaman ini, sayangnya jaringan seluler tidak satupun mau datang ke wilayah kaki bukit ini, alhasil saya hanya memperkirakan bahwa seterusnya jalan ini akan rusak, menyempit, dengan kanan kirinya pohon karet yang entah tumbuh sendirinya dan menyebar atau memang ini adalah kawasan konservasi.

Jalanan yang Menyempit

Perkiraan tersebut nyata adanya, 1 jam perjalanan memang akhirnya menemukan rumah-rumah penduduk yang diselingi oleh pohon karet di mana beberapa di antaranya sepertinya berusaha memanfaatkan jalan di depan rumahnya sebagai prasarana bisnis bahwa jalan satu-satunya itu pula dilewati oleh wisatawan seperti saya yang ingin berkunjung ke pantai. Mereka menyadari itu betul. Kebetulan pun motor yang dicintai ini tampaknya sering meminum bahan bakar selama menempuh lintas Bandung Raya tadi, sehingga bisnis stasiun bahan bakar kecil-kecilan memang menguntungkan di sini.

“Punten bu bade meser bensinna” ucap saya karena memang kios yang berjejer botol berisi bahan bakar itu penuh, namun sekitarnya tidak ada tanda-tanda khalayak lalu-lalang.

“Mangga a sabaraha” keluar seorang perempuan paruh baya yang tampaknya juga menyambi sebagai ibu rumah tangga. “Dua leter bae bu” sambung saya.

Sembari mengisi bahan bakar motor ini, pikiran saya ini berada di mana dan berapa jauh lagi menuju ke pantai terucap melalui mulut saya saking penasarannya. “Bu upami ieu nami wilayahna naon nya? Sareng nuju ka jayanti teh tebih keneh atanapi tos caket bu?. Lantas dijawabnya “Oh ieu mah Naringgul keneh a 30 kiloan deui ka Jayanti mah aya 1 jam deui ti dieu teh”. Tak luput saya mengucapkan terima kasih karena menghilangkan penasaran saya yang menggebu-gebu di kepala.

Selepas berangkat kembali, tidak lama saya menemui sebuah kawasan pemukiman yang tampaknya menjadi pusat dari wilayah ini, sekolah pun berpapasan di sebelah kiri bertulisan SDN 1 Naringgul Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur. Bahkan jaringan yang dielu-elukan kembali tersambung herannya dengan bar yang penuh, mungkin di sini ada menara pemancar pikir saya. Menurut peta daring, ternyata keberadaan saya di sana sudah condong di wilayah selatan. Semangat untuk memacu pun kembali lagi.

Meninggalkan wilayah pemukiman, jaringan pun turut hilang berikut dengan rumah-rumah yang meramaikan suasana pedesaan tersebut. Yang ada hanyalah kebun teh, persawahan dan tetap jalan sempit dan berlubang yang terus menemani di perjalanan.

Di suatu tempat di Naringgul

Selama 1 jam lebih perjalanan hanyalah dihiasi tebing, sawah, kebun teh, dan sesekali air terjun kecil di pinggir tebing, sayangnya keasikan untuk mencapai pantai melupakan saya untuk memotret keindahan tersebut. Namun pemandangan monoton seketika hilang ketika di depan mata terpampang tulisan arah jalan yang mengarah kepada pertigaan untuk memilih menuju Bandung, Cidaun (sepertinya wilayah pemukiman), dan Jayanti di arah kanan, dengan mengambil mengikuti marka itu, 20 menit pemandangan berganti dengan jejeran pohon kelapa dan pasir pantai, walaupun toko sekitar masih majemuk dengan kios bahan bakar.

Untuk sebuah motor dikenakan biaya Rp. 10.000 sebagai tiket masuk dengan memasukkan uang tersebut ke dalam kotak retribusi dan mendapat tiket yang tampaknya hasil fotokopi berulang. Yah, lagipula tidak dipermasalahkan selama tujuan akhirnya tercapai, terlebih penat-penat selama perjalanan sudah mendorong untuk mengingatkan beristirahat. Langit juga sudah mulai menggelap karena sore hari yang menjelang, memang meskipun saya masih dapat menikmatinya, untuk mengabadikan di kamera rasanya sudah menggelap sehingga terpotretlah satu buah saja.

Senja di Pantai Jayanti Cidaun Cianjur

Menikmati pantai pada malam hari pertama kali bagi saya karena senantiasa sampai di pantai pada siang hari sudah kenyang rasanya hingga menjelang malam hari sehingga kesunyian malam dan deburan ombak biasanya benar-benar dipakai untuk relaksasi diri baik fisik maupun jiwa ini untuk menyiapkan trip keesokan harinya, namun pada kali itu, saya memutuskan untuk menikmatinya lebih malam lagi sebelum beristirahat.

Melanjutkan keesokan harinya, tidak seburuk dan melelahkan ketika perjalanan dari Bandung, namun karena tujuan selanjutnya adalah sesama di selatan maka melintasi jalur selatan provinsi sudah begitu mulus kondisinya dan hanya bergerak lurus yang membuat mengantuk apabila tidak ada lubang-lubang.

Alun-Alun Sindangbarang Cianjur

Dalam waktu 1 jam, sudah terpampang kehiruppikukan di jalur selatan ini, ternyata saya telah sampai di Alun-Alun Sindangbarang Cianjur tepat di sana terdapat perempatan yang mengarah ke Cianjur Utara dan ke Pantai Apra, yang kemudian saya putuskan untuk belok ke kiri arah pantai yang memakan waktu lebih kurangnya 10 menit ke dalam pantai.

Pantai Apra, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur

Ternyata pantai Apra ini mengandung sejarahnya loh, Konon diberi nama APRA untuk mengabadikan penggalan sejarah pergerakan nasional pascakemerdekaan yakni Angkatan Perang Rakyat Semesta (APRA) kata warga sekitar pantai ini yang juga terkenal saat musim Impun tiba, Impun ini berupa ikan yang kecil-kecil namun ini sangat nikmat dan lezat bila dimakan di mana musim Impun ini biasanya terjadi pada tanggal 21 hingga 25 setiap bulannya ataupun hanya pada bulan-bulan tertentu saja. Pantai Apra ini selain menyajikan pemandangan yang menarik, pengunjung dapat melakukan berbagai aktifitas di pantai ini seperti berenang, berjemur, melihat sunset dan berselancar. Di pantai ini tersedia tempat parkir dan warung-warung tradisional. Namun, karena kurang nya perhatian dari pemerintahan dan masyarakat setempat, menjadikan pantai ini sepi pengunjung setiap hari nya, kecuali pada saat libur nasional tiba.

Sukabumi

Di tengah masa liburan lainnya, akhirnya saya mencoba untuk menjelajah sesuatu yang lebih jauh, lebih lagi katanya wilayah ini memiliki luas yang paling besar dari wilayah lain di Jawa Barat, ya, Sukabumi. Seperti biasa saya berangkat dari ibukota ke arah timur menggunakan mio kesayangan yang telah menemani jelajah-jelajah sebelumnya. Namun kali ini berbeda, tidak menempuh jalur selatan, melainkan melalui jalur nasional atau jalan raya pos dahulu pada masa Hindia Belanda.

Suasana alam yang biasanya menemani sekaligus mendebar-debarkan perjalanan tidak terasa melainkan dari ramainya kendaraan yang berbagai macam, besar dan kecil, sendiri dan berkeluarga, tua dan muda karena jalan ini memang menjadi poros utama yang mengarah ke wilayah perkotaan di Cianjur, Sukabumi, hingga menuju Banten.

Keluar dari Bandung itu seperti keluar dari perbukitan yang mengelilingi, entah itu menuju selatan, timur, barat, dan utara tetap melaluinya, termasuk menuju arah Cianjur wilayah perkotaan ini jalanan berkelok serta mendaki menghiasi perjalanan hingga sampai kepada batas.

Batas Kabupaten Cianjur di Jalan Raya Pos

Selepas dari gapura ini, jalanan benar-benar datar seperti bukit yang dilalui hilang begitu saja, hanya kemacetan yang menanti karena sejatinya adalah jalan raya yang menghubungkan wilayah strategis. Lalu-lalang kendaraan dan pemukiman padat penduduk yang mewarnai perjalanan 3 jam lamanya hingga mencapai Kota Sukabumi.

Sampai di Kota Sukabumi, saya memilih untuk ke jalanan pemukiman yang lebih kecil dan di sini ciri khas jalanan secara umum mulai terasa dengan berlubang dan minim akan pengawasan lalu lintas. Namun yang mengingatkan saya pada jalan ini adalah dihiasinya di setiap tiang jalanan dengan jenis-jenis adat dan kebudayaan Sunda dari wayang hingga seni daerah khas Sukabumi hingga sampai masuknya ke perbatasan kabupaten. Sayangnya selama perjalanan ini terlalu fokus kepada ketidaksabaran saya untuk segera sampai sehingga tidak terabadikan.

Singkat cerita, masuklah ternyata kepada sebuah kawasan kalau tidak salah namanya itu Lengkong di Kabupaten Sukabumi yang mulai dipenuhi oleh hutan di sana kemari dan kondisi jalan yang bahkan berlubang dalam dan berdebu. Selain itu, banyak pula pabrik yang berjejeran, tampaknya memang itu kawasan industri di Sukabumi. Ditambah pada perjalanan ini saya was-was karena selama berada di Lengkong, sulit sekali ditemukannya kios atau stasiun pengisian bahan bakar.

Memasuki wilayah bernama Ciracap, di sinilah mulai terlihat kembali terlihat kawasan pemukiman dan jalan yang dilalui pun tampaknya diperhatikan oleh pemerintah setempat dengan polesan aspal beserta markanya yang berwarna putih. Satu hal yang dicari, tempat pengisian bahan bakar untuk mio saya yang terlihat hanya kuat hingga perbatasan kabupaten, selebihnya saya hanya mengandalkan perasaan antara tangki yang kosong dengan terisi.

Plang marka jalan pun sudah mulai mengarah terhadap Pantai Ujung Genteng yang memang menjadi tujuan saya waktu itu selama menjalani trip di Sukabumi, tetapi saya sadari jarak tempuh yang diperlukan begitu besar dan memakan waktu sampai 8 jam lamanya sampai tepat masuk ke wilayah pantai itu.

Perjalanan yang paling melelahkan dalam trip ke pantai terbayarkan dengan kondisi pantai yang sepi tetapi diselimuti oleh pasir putih bahkan beberapa bibir pantai menjadi penangkaran penyu yang saya sendiri melihatnya untuk pertama kali. Berpuas-puaslah saya di sana berenang, memotret lautan yang hanya laut dan tebing karang, tak luput menuliskan grup musik favorit di pasir pantai.

Pantai Ujung Genteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi
Halo, Matsuura Kanan mini-figure!

Senanglah diri saya kala itu, namun saya harus segera beristirahat untuk melanjutkan trip selanjutnya ke Pantai Ciletuh atau dikenal juga sebagai Geopark Ciletuh. Perjalanan dari Pantai Ujung Genteng hanya memakan waktu lebih kurangnya 3 jam untuk mengarah ke arah utara Sukabumi ini.

Perjalanan menuju sana terbilang asik, karena memang selain jalan raya yang terawat, juga mendaki bukit dengan suasana pinggir laut yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, meskipun jalanan sering berkelok, tak jarang banyak pengendara yang tidak sabaran untuk memacu kendaraannya melihat jalanan yang sepi dan mulus.

Geopark Ciletuh, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi

Saya sempat mengunjungi bukit yang terkenal di internet ataupun media sosial dalam rangka mengenalkan Ciletuh ini, namun apa daya mungkin memang belum rezeki saya karena baterai tidak bersahabat dengan jiwa saya yang menggebu, sedangkan ponsel inginnya tidur dan kurang tenaga. Lama pun menunggu sembar mengisi daya, ya sudah mending pergi ke pantainya saja langsung siapa tahu adanya tulisan yang bisa difoto. Benar saja, tulisan ‘Geopark Ciletuh’ terpampang di bibir pantai yang tidak boleh dilewatkan.

Meski hanya berencana untuk trip seharian di Geopark Ciletuh, saya tentunya juga penasaran apakah akomodasi di geopark tersebut cukup baik atau tidak. Dan yang paling bikin penasaran berapa rate per malam jika kita memutuskan untuk menginap di Geopark Ciletuh. Sepanjang perjalanan di Geopark Cietuh, kami memang menemui banyak pilihan tempat menginap. Untuk hotel kami tidak melihatnya. Tapi pilihan menginap berupa homestay ada banyak, kok.

Setelah menikmati Geopark Ciletuh, saya terus melanjutkan trip ke utara Sukabumi dengan tujuan kali ini adalah Pantai Pelabuhanratu. Selain karena dekat dengan pusat perkotaan di Sukabumi, juga akses yang menghubungkan jalan raya nasional ke Bandung menjadi solusinya.

Kembali memakan waktu lebih kurangnya 3 jam juga, dengan kondisi bentang alam yang juga tidak jauh berbeda hanya saja mungkin pada malam hari jalanan ini minim dari penerangan sebab sejauh tempuhan saya, tidak ada satu tiang pun yang menandakan arah atau penerangan sama sekali. Sampai pada akhirnya terdapat satu marka kayu di pertigaan Pelabuhan Ratu yang membantu mengarahkan saya ke pusat perkotaan. Menyusuri jalan tanpa marka memang di sini mulai terasa sulit karena wilayah perkotaan terdapat jalan pemukiman yang bercabang.

Setelah bertanya di sana-sini, plong, saya keluar tepat di depan lampu lalu lintas yang memang menjadi sebuah hal yang jarang di kabupaten bahkan di pedesaan. Ternyata di depan lampu merah sudah memasuki wilayah Pelabuhanratu di mana atmosfir pusat pemerintah dan perkotaan mulai terasa dan untuk mencapai pantainya pun tidak sulit karena selain banyak penginapan atau homestay yang mengarah ke wilayah pantai, juga marka yang terpampang bersebaran.

Pantai Pelabuhanratu, Kecamatan Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi

Pantai Pelabuhan Ratu merupakan pantai yang memiliki keindahan panorama yang khas. Perpaduan antara pantai yang curam, pantai landai. Pada beberapa bagian terdapat juga karang terjal dengan latar belakang cagar alam hutan dan gunung.

Pantai Pelabuhan Ratu terkenal sampai mancanegara sebagai lokasi dengan topografi alam yang indah. Pantai ini populer sebagai pantai dengan udara yang sejuk, dan hamparan pasir yang luas. Keindahan hamparan pasir itu dipercantik lagi dengan tebing karang yang terjal di beberapa bagian pantai dan tiket yang lebih murah Rp. 2000 dari pantai-pantai lain di mana motor hanya cukup membayar Rp. 8000.

Akhirnya saya menikmati matahari terbenam di pantai ini. Terlihat indah. Setidaknya dalam 2 hari berarti saya sudah mendatangi 3 pantai sekaligus. Benar-benar sebuah perjalanan yang menyenangkan namun melelahkan, tetapi sebuah pengalaman yang berbeda ketika menjalani trip di sebuah daerah yang kaya akan berbagai jenis pantai ini.

Categories
Buku Opini

Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: Jugun Ianfu yang Terlupakan

Novel ini terbagi ke dalam dua bentuk cerita, yaitu pertama mengisahkan bagaimana tokoh “Aku” yang merujuk kepada Pramoedya yakni sang penulis yang ditempatkan sebagai tokoh utama dalam cerita. Tokoh “Aku” yang bekerja sebagai juru ketik di kantor berita Domei di mana seluruh media dipegang pemerintah Jepang mendengar desas desus tahun 1943 bahwa Dai Nippon akan memberikan kesempatan pemuda belajar iming-imingi disekolahkan ke Tokyo dan Shonanto (Singapura), nyatanya mereka dijadikan boneka pemuas balatentara Dai Nippon di pos-pos asrama sekitar medan perang yang disebar melalui Sendenbu (Kantor Propaganda Jepang) kepada Pangreh Praja atau Pemimpin daerah yang diteruskan ke masyarakat. Dalam masa bekerjanya di kantor berita Domei, rekan dari tokoh “Aku” menjelaskan bahwa kakaknya mendapat kabar bahwa Pemerintah Pendudukan Dai Nippon menyerukan kepada setiap orang tua yang mempunyai anak gadis agar segera didaftarkan kepada pemerintah dengan maksud kabar yang diberikan untuk disekolah. Hal yang sama tokoh “Aku” dengar ketika berada di Ungaran yaitu kediaman tokoh bahwa di kampungnya ada lima orang anak gadis diberangkatkan menuju Semarang untuk disekolahkan, begitu pula pola yang sama ketika tokoh berada di Jakarta di mana murid dari Sekolah Kepandaian Putri “3A” seberang kantor berita Domei mendapat kabar akan disekolahkan di luar Jakarta. Namun, tokoh mengherankan bahwa kabar tersebut sudah menyebar se-antero Pulau Jawa tetapi tidak ada satupun berita mengenai hal tersebut yang disiarkan.

Persebaran kabar serta pembatasan atas pemberitaan berada sepenuhnya di tangan Sendenbu (Kantor Propaganda Jepang) termasuk yang membawahi kantor berita Domei di mana tokoh bekerja. Pada masa kolonialisme Belanda hingga masuknya Jepang, Pangreh Praja berlaku sebagai kaki tangan pemerintahan pusat serta memegang kendali atas wilayah lokal sehingga Sendenbu tidak perlu turun tangan langsung memberitahu ke setiap pelosok, melainkan menggunakan Pangreh Praja untuk melaksanakan perintah dari Sendenbu yang baru kemudian diteruskan kepada para pemerintah desa dan penduduk. Para Pangreh Praja sendiri yang bertugas meneruskan propaganda didengar kabarnya oleh tokoh “Aku” juga harus menyerahkan anak gadisnya bila mempunyai sebagai contoh juga demi keselamatan jabatan yang dipegang olehnya. Tokoh “Aku” menemui beberapa sebab keberhasilan perekrutan penyekolahan semu tersebut yaitu gadis-gadis memiliki cita-cita untuk memajukan dan berbakti terhadap keluarga, masyarakat, serta bangsa, lalu kondisi hidup yang mencekik akibat adanya kegiatan Romusha dengan menjanjikan sedikit upah bahkan tidak sama sekali, beberapa orang tua memberikan atas paksaan demi dianggap mengabdi kepada Jepang.

Beberapa waktu kemudian, tokoh “Aku” bertemu dengan salah satu awak kapal yang mengangkut para perawan remaja ini adalah Sukarno Martodihardjo. Sukarno Martodihardjo mengatakan bahwa ia beberapa kali mengangkut para gadis dengan kapalnya. Para gadis remaja ini diturunkan di Singapura. Para gadis remaja ini sudah mulai diperlakukan tidak baik sejak berada di kapal. Beberapa dari mereka berusaha untuk bunuh diri. Namun tidak berhasil. Sebagian besar dari mereka menyadari ketidak-berdayaannya dan menyerah kepada nasib. Selama tiga tahun pendudukan Jepang, para gadis remaja ini dijadikan budak seks tentara Jepang. Mereka dikumpulkan di sebuah bangunan. Di bangunan tersebutlah para tentara Jepang datang dan pergi untuk melampiaskan nafsunya kepada para gadis tersebut.

Setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II pada Agustus 1945, tokoh “Aku” mengetahui bahwa melalui Sendenbu, pihak balatentara berusaha keras untuk cuci tangan atas tindakan kelamnya selama pendudukan di Indonesia, di sisi lain, Indonesia masih belum memiliki bukti otentik untuk membuka tabir-tabir Jepang. Selain itu, Indonesia kembali terlibat perjuangan melawan sekutu dalam mempertahankan kemerdekaannya bahkan selepas perjuangan tokoh melihat bahwa Indonesia kembali berfokus terhadap permasalahan kepartaian yang menyebabkan keteledoran pemerintah sendiri. Nasib dari Jugun Ianfu kebingungan dengan kondisinya. Mereka tentu tidak berani untuk kembali kepada keluarganya. Sebab kembali kepada keluarga tentu membawa malu dan aib baik bagi keluarga serta masyarakat lingkungan sekitarnya. Kisah tragis itu terjadi di antaranya pada para perempuan eks Jugun Ianfu di Pulau Buru. Para Jugun Ianfu yang ditinggalkan begitu saja oleh Jepang di Pulau Buru mengalami kondisi yang sangat menyengsarakan. Mereka tentu saja tidak bisa pergi dari pulau yang terisolasi tersebut. Sementara penduduk yang ada adalah penduduk lokal yang masih tinggal di hutan. Beberapa perempuan ini akhirnya memilih untuk menjadi istri para lelaki lokal. Menjadi istri penduduk lokal tidaklah mudah. Sebab mereka terikat dengan sumpah supaya tidak berbicara dengan orang luar. Para lelaki lokal takut kalau nantinya para perempuan yang usdah menjadi istrinya itu lari meninggalkannya. Itulah sebabnya upaya tokoh “Aku” untuk mengumpulkan informasi tentang para perempuan ini sangat sulit.

Hal ini kemudian berlanjut kepada cerita yang kedua di mana tokoh “Aku” ketika berada dalam pengasingan di Pulau Buru yang berusaha mencari para eks Jugun Ianfu untuk diwawancarainya. Cerita dari para tokoh bersama rekannya yang berupaya untuk mengumpulkan kisah penderitaan para perempuan tersebut ini harus masuk hutan, naik gunung dan bukit, menyeberangi sungai, diancam untuk dibunuh oleh penduduk setempat. Namun beberapa di antaranya berhasil untuk bertemu dengan para perempuan tersebut. Kemudian hasilnya dibentuk sebuah narasi dari sudut pandang korban dari Jugun Ianfu seperti Ibu Siti F, Bolansar, dan Ibu Mulyati berdasarkan hasil wawancara dan catatannya ketika Pramoedya selaku tokoh utama cerita bersama rekannya berada dipengasingan di Pulau Buru di mana para Jugun Ianfu yang terbuang ke pulau tersebut semua menetap di sana.

Wanita pertama yang didiskusikan secara mendetail pertama kali ditemukan oleh tokoh bersama rekan-rekannnya adalah Siti Fatimah karena perilakunya berbeda dengan warga Alfuru setempat. Seorang warga desa yang tidak jauh dari salah satu desa tapol akhirnya menanyakan tentang seorang “Kosasih” dari Jawa Barat, maka Pramoedya dan teman-temannya menyimpulkan bahwa dia pasti perempuan yang dibawa oleh Jepang dari Kewedanan Subang ke Bandung menggunakan kereta lalu dibawa ke Tanjung Priok menuju desa Kisar di Flores yang kemudian dipindahkan ke Namlea di Pulau Buru dengan saat itu Siti Fatimah dibawa pada masa SMP dengan iming-iming akan disekolahkan di Tokyo. Siti Fatimah saat berada di Pulau Buru memutuskan untuk menetap di sini dan menikah dengan warga lokal Alfuru.

Kemudian, wanita kedua yang ditemui bernama Bolansar sebuah gubahan nama dari Bu Lanjar atau yang akrab dikenal rekan-rekan tokoh “Aku” sebagai Muka Jawa di mana menurut pernyataannya, karena ditanyai pertanyaan yang memalukan di depan anak-anaknya ketika pergi ke desa-desa pesisir, dia bersumpah untuk tidak mengatakan apa pun yang dapat merugikan orang-orang di sekitarnya. Khususnya jika perempuan meninggalkan desa dan membawa serta anak-anak mereka, maka komunitas desa kecil akan rusak parah entah hal itu merujuk pada desanya di Pulau Jawa atau desa di mana tempat menetapnya saat ini tidak ditanyakan lebih lanjut oleh tokoh. Mungkin lebih penting daripada informasi tentang perang, jelas bahwa proses mendapatkan informasi tentang pengalamannya dalam perang telah merusak setidaknya dalam hal posisinya di masyarakat, tetapi juga mungkin secara emosional, karena dia mengacu pada hati yang disakiti di desa tapol. Juga jelas dalam kasus masing-masing perempuan ini bahwa “pembebasan” yang dramatis dari para perempuan ini dari penindasan dan membiarkan mereka kembali ke Jawa akan mengakibatkan runtuhnya komunitas lokal dan tradisi mereka. Terakhir, Pramoedya menceritakan pencarian Ibu Mulyati dari Klaten yang terdampar di pulau Buru dan harus hidup berdampingan dengan warga Alfuru, terpaksa memegang adat dan kepercayaan lokal, dan meninggal dalam keadaan menyedihkan karena wabah penyakit yang timbul di desanya, meskipun pertemuan itu tidak menghasilkan solusi atas derita yang dialami Ibu Mulyati dari perawan remaja sampai akhir hidupnya. Selama 35 tahun. Setidaknya perjalanan tersebut banyak memberikan pelajaran dan memperkuat fakta betapa terkekangnya hidup para perempuan remaja tersebut.

Pada cerita kedua menggunakan sudut pandang korban-korban dalam menjalani kesehariannya pascapeninggalan Jepang yang membawa mereka ke Pulau Buru, beberapa percakapan yang dituliskan dengan Bahasa Buru, bahasa yang sama sekali asing ditelinga pembaca secara umumnya, tetapi Pramoedya menghadirkan ciri khas dalam dialog tersebut yakni membuat pembacanya ikut terlarut ke dalam kondisi dan suasana bak ikut tinggal dan berkegiatan sehari-hari. Pramoedya berusaha menyajikan gambaran kepedihan yang dalam bagi para Jugun Ianfu seperti bersama teman-temannya yang sesama tapol melalui narasi perjalanan yang jauh memakan waktu dua puluh jam lamanya hingga naik turun bukit untuk bertemu dengan eks Jugun Ianfu yang hidup di Pulau Buru menjadi seseorang yang baru yang bukan keturunan siapapun dan kehadirannya bahkan diibaratkan seperti kucing schrodinger antara ada dan tiada.

Novel ini ditulis menggunakan memoir-memoir milik Pramoedya beserta temannya berdasarkan pengalaman di Pulau Buru. Hal yang pasti, karena tokoh-tokoh serta penggambaran tempat yang merupakan fiksi bentukan Pramoedya, bahkan mungkin saja beberapa penceritaan terdapat hal yang dilebihkan atau dikurangkan, maka sejatinya tidak bisa pula menjadi acuan sejarah yang sebenarnya ataupun penjelasan etnografi yang memerlukan data dan keabsahan penulisan di dalamnya. Walaupun menurut pribadi bahwa penyampaian cerita terlalu kaku dan tidak adanya curahan emosional yang dibangun penulis untuk menghidupkan narasinya. Terlepas dari hal itu, novel ini direkomendasikan untuk dibaca yang sehingga akan kental akan unsur sejarah maupun kebudayaan di mana pengaruh dari subjektifitas dirinya sebagai sastrawan, sehingga dapat dijadikan sebagai suatu pandangan lain dalam menyikapi peristiwa sejarah masa pendudukan Jepang terutama fokus Jugun Ianfu yang surut dengan penjelasan mendetil.

Salam literasi!

Categories
Opini

Violet Evergarden The Movie: Perhatian yang Membawa Cinta

  • Judul film                    : Violet Evergarden: The Movie
  • Tahun produksi           : 2020
  • Produser                    : Ishidate Taichi
  • Penulis naskah             : Kana Akatsuki & Yoshida Reiko
  • Pengisi Suara                : Ishikawa Yui (Violet Evergarden), Gilbert Bougainvillea (Namikawa Daisuke), Koyasu Takehito (Claudia Hodgins), Aya Endo (Cattleya Baudelaire), Uchiyama Kouichi (Benedict Blue), Minori Chihara (Erica Brown), Tomatsu Haruka (Iris Canary), Mizuhara Kaori (Yulith), Satou Rina (Ryuka), Morohoshi Sumire (Daisy Magnolia)
  • Durasi                          : 140 Menit

Film ini menceritakan sambungan kisah utama Violet Evergarden yang bertugas sebagai ”Auto Memory Doll” yaitu penulis yang bersedia menuliskan sesuatu atas permintaan dari sang pemesan, entah itu surat, lirik, maupun naskah khusus yang memerlukan kata-kata yang estetik di dalamnya. Violet sendiri sudah menjadi “Doll” ini setelah usainya perang besar di Leidenschaftlich dan karya terbarunya yaitu menulis sebuah “Sajak untuk Laut” yang diminta oleh walikota. Sekarang sajak itu digunakan sebagai acara penghargaan bagi laut di mana dulu ditujukan untuk para prajurit perang yang belum kembali dari seberang lautan.

Beberapa tahun telah berlalu sejak berakhirnya Perang Besar. Karena menara radio di Leidenschaftlich terus dibangun, telepon akan segera menjadi lebih relevan, yang menyebabkan penurunan permintaan untuk “Auto Memory Doll”. Meski begitu, Violet Evergarden terus meningkat ketenarannya setelah sukses terus-menerus dengan menulis surat karena kata-katanya yang begitu bermakna dan indah. Namun, terkadang satu hal yang masih mengganggunya ketika ia sering merindukan seseorang yang tidak muncul. Violet selalu ingin bertemu dengan komandannya yang telah membimbingnya hingga menjadi dirinya sekarang, yakni Mayor Gilbert Bougainvillea yang ternyata masih hidup di suatu tempat, tetapi keberadaannya banyak yang belum mengetahui termasuk Violet sendiri.

Selain dari sudut pandang Violet, juga terdapat penceritaan lain dari sisi seseorang bernama Daisy Magnolia yang baru saja mengalami kepergian nenek tercintanya di mana ia menemukan sebuah kumpulan surat ulang tahun milik neneknya yang ternyata ditulis oleh Violet Evergarden selama 50 tahun. Mendengar penuturan ibunya tersebut, ia sangat penasaran bagaimana sang penulis surat yang begitu menyentuh bagi neneknya. Daisy digambarkan sebagai sebuah narator dan sudut pandang penonton yang menyaksikan biografi dari Violet Evergarden yang mengalami berbagai macam peristiwa yang diceritakan pada masa kini.

Selanjutnya, sudut pandang dari seorang anak yang berbaring di rumah sakit yang tiba-tiba meminta seseorang “Doll” untuk datang ke ruangannya. Kebetulan Violet yang hanya saat itu berada di kantor pos sendirian mau tidak mau mengambil pesanan tersebut. Yulith mengalami sakit keras dan tahu bahwa waktu hidupnya sudah tidak lama lagi, dan ia juga sudah sadar berbaring di sana selama 1 tahun tanpa bisa pergi ke manapun. Ia mencoba berusaha untuk tegar dan bersemangat, namun orang di sekitarnya selalu mengkhawatirkan dan mengasihaninya seolah-olah ia harus terlihat lemah. Kedatangan Violet ke ruangannya ternyata diminta untuk menuliskan surat ke keluarganya dan sahabatnya, Ryuka seketika ia sudah pergi nanti.

Banyak makna tersirat yang sering muncul selama pembawaan cerita di film ini seperti Yulith dan Violet memiliki kesamaan yang selalu dipandang sebagai sesuatu yang perlu dilindungi dan dikhawatiri di mana mereka berdua ingin lepas dari sikap-sikap itu. Selain itu penggambaran surat-surat yang terbang dari genggaman tangan beberapa tokoh penanda cerita, seperti biografi Violet yang terbang dari genggaman Daisy, surat-surat yang dipegang Violet maupun Mayor Gilbert menjelaskan bahwa masa-masa suram lebih baik dilepas agar tidak menjadi beban pikiran, ataupun mencirikan bahwa keberadaan surat yang mulai dilupakan dengan pembangunan menara pemancar sinyal telepon di Leidenschaftlich.

Film ini juga memiliki alur cerita yang maju dan mundur dan selalu memunculkan hal-hal yang positif seperti di mana Yulith saat itu yang susah dijangkau dan Violet yang berada di luar dari Leidenschaftlich seketika mengalami sakit keras sulit memikirkan kata-kata yang akan ditulis ke dalam surat. Akhirnya di sana digambarkan kegunaan dari telepon yang dikeluhkan Iris bahwa pekerjaan “Doll” akan terebut seketika menara sudah jadi. Selain itu, film ini juga banyak diselipkan candaan lucu lewat dialog antar tokoh, serta para pemeran yang berakting dengan sangat baik seolah-olah kisah ini tidak hanya berupa cerita monoton sedih dan mendatar.

Meskipun memiliki cerita dan pemeran yang bagus, akan tetapi terdapat beberapa kekurangan menurut penulis dalam film kali ini, yaitu pembukaan awal cerita yang dirasa begitu panjang yang memungkinkan hilangnya minat untuk menonton. Selain itu pencurahan inti cerita dihabiskan pada suatu waktu saja tidak tersebar secara merata sehingga filler juga mendukung berjalannya cerita.

Dari beberapa pemaparan diatas penulis rasa film ini layak untuk ditonton para pemirsa sebagai sarana hiburan menemani waktu luang yang terlalu jenuh dengan kegiatan daring, terlebih lagi film ini merupakan sekuel dari seri Violet Evergarden yang bagi para penonton seri utamanya tidak boleh dilewatkan kesempatan ini. Para penonton akan dijamin ikut mengalir dalam cerita baik secara kronologi maupun emosional.

Categories
Uncategorized

1911: Runtuhnya Kekaisaran Terbitnya Republik

Ketika peradaban dunia memasuki abad ke-20 dengan berbagai macam revolusi yang memodernisasi teknologi serta mengubah pola hidup masyarakatnya. Sedangkan negara Tiongkok masih tetap tidak mengalami kemajuan. Rakyat masih tetap hidup di bawah tindasan Dinasti Qing yang membayangi akan terus berlangsung secara berabad-abad seperti dinasti-dinasti sebelumnya. Setelah sekian lama rakyat akhirnya tidak dapat lagi bersabar. Kesadaran rakyat Tiongkok berawal dari bangkitnya gerakan yang dipelopori oleh Sun Yat Sen. Saat itu juga muncullah Huang Xing yang baru saja tiba dari Jepang mempelajari seni perang modern. Saat Huang Xing melihat negaranya hancur, ia memutuskan untuk mencabut tahap akademik perang dan memimpin serangkaian pemberontakan. Oleh karena itu Tiongkok atau Qing dibagi menjadi kelompok-kelompok yang bertikai, warga kelaparan, dan reformasi politik yang membuat situasi semakin memburuk.

Revolusi dimulai dari tahun 1911 di mana pemuda-pemuda yang berpendidikan yang menamakan diri mereka sebagai Tongmenghui berkumpul dan melakukan pemberontakan di wilayah Guangdong.
Meskipun dampaknya dikabarkan bahwa pihak pemberontak kalah dan banyak berjatuhan korban-korban. Maka, Sun Yat Sen mencoba mengumpulkan uang dari orang Tiongkok yang merantau ke negeri orang untuk membeli senjata untuk melawan kekaisaran. Kekaisaran sungguh kuat karena mendapat pembiayaan saat itu dan mereka juga didukung oleh Inggris dimana Inggris juga ingin kota Hong Kong dan juga Macau oleh Portugis yang tidak segan menanamkan dananya di sana.

Sun Yat Sen berjuang keras memutus pinjaman bankir-bankir Eropa kepada Dinasti Qing dikarenakan sebagian besar dana pinjaman itu dipergunakan oleh Dinasti Qing untuk membeli senjata dan menghancurkan gerakan revolusioner dan praktik korupsi dalam negeri bukan sebagai tujuan pembangunan.

Sementara itu, setelah kondisi kekacauan meluas di Tiongkok dan para bankir yang telah memutuskan untuk tidak membiayai dinasti, akibatnya kelemahan tersebut menyebabkan balatentara Dinasti Qing tidak berhasil menembus pertahanan kaum revolusioner di Wuchang. Sebaliknya, dengan kepemimpinan aktivis TongMengHui, kaum revolusioner berhasil merebut kota-kota, seperti Hunan, Shaanxi, Jiangxi, Shanxi, Yunnan, Zhejiang, Guizhou, Jiangsu, Anhui, Guangxi, Fujian, Guangdong dan Sichuan. Akhir 1911, Sun Yat Sen telah kembali ke Tiongkok. Bersamaan dengan itu, perwakilan dari 17 provinsi telah sepakat untuk membentuk Pemerintahan Sementara dan memilih seorang Presiden Sementara.

Akan tetapi, umur pemerintahan sementara berlangsung singkat. Pada bulan Februari, Sun Yat Sen dipaksa mundur setelah kaum revolusioner berdamai dengan panglima perang Yuan Shikai. Sun kemudian tidak ambil-bagian dalam pemerintahan. Yuan Shikai kemudian memaksa parlemen untuk memformalkan jabatannya sebagai presiden. Sun Yat Sen berusaha melakukan perlawanan tetapi gagal. Sun Yat Sen kemudian pergi ke Jepang dan berusaha memulai lagi revolusi dari sana. Alasan lainnya Sun Yat Sen memilih Yuan Shikai menjadi seorang Presiden Republik Tiongkok adalah karena jasanya yang besar dalam menurunkan tahta Dinasti Qing mengingat ia satu-satunya akses ke dalam kekaisaran.

Film menjelaskan bagaimana cerita dengan menggunakan dialog dan aksi,
sehingga mempermudah penonton untuk memahaminya. Umumnya film dijadikan sebagai wahana untuk memberikan hiburan tetapi selain sebagai hiburan, film juga bermanfaat sebagai media pembelajaran kesejarahan meskipun minim dengan adegan berperang melainkan terfokus kepada alur peristiwa dari sudut pandang Sun Yat Sen dan Huang Xing. Bisa dibilang setengah cerita dipakai sebagai peristiwa dan setengahnya lagi menjadi sebuah biografi dari dua tokoh sejarah terkemuka tersebut. Film ini juga memotivasi penontonnya untuk berjuang dan membela tanah air di manapun berada, serta menegakkan apa yang benar dan meruntuhkan apa yang salah.

Salam literasi!

Categories
Buku Uncategorized

Oeroeg: Sahabat Terbagi Perang

Seorang bocah kecil bernama Johan Ten Berghe bersama orang tuanya telah tinggal sejak lama di Hinda Belanda bersama asisten keluarga bernama Deppoh yang juga memiliki keluarga yang tinggal di sekitar Kalijati. Anak Deppoh bernama Urug sering berkunjung ke rumah di mana ayahnya bekerja saking seringnya sampai-sampai Urug selalu bermain dengan Johan menelusuri hutan-hutan, perkampungan, dan bermain di sungai bahkan sering mendengar cerita legenda masyarakat dari Urug, salah satunya ialah Johan percaya bahwa di danau dekat Kalijati terdapat hantu air yang dapat menculik yang berenang di sana.

Tentu sebagaimana pendudukan yang tengah berlaku pada masa itu, seringkali orang pribumi atau penduduk lokal sering dipandang sebagai di bawah atau bisa disebut menjadi kaum marjinal, maka ayahnya selalu berusaha mengingatkan dan berupaya memisahkan Johan dalam berinteraksi dengan Urug. Johan yang sudah pandai berbicara petjoh yaitu bahasa kreol Belanda yang dicampur dengan bahasa Indonesia/daerah malah merasa senang menggunakannya daripada menggunakan bahasa Belanda itu sendiri sehingga tentu saja ia dimarahi ayahnya sembari berkata “Kau ini orang Belanda! Berbicaralah selayaknya bahasa Belanda!”

Namun segala upaya menjauhkan Johan dari Urug selalu sia-sia, malahan Urug semakin dekat dengan keluarga Ten Berghe di mana tinggal pula seorang perawat bernama Lida yang begitu peduli dengan masyarakat pribumi sehingga menyekolahkan Urug di Kalijati yang merupakan sekolah mayoritas orang Belanda. Di suatu ketika ternyata Urug memperoleh nilai 10 dalam Matematika melebihi Johan membuat ayahnya kembali berusaha menyingkirkan Urug dari Johan dengan mengundang para anak-anak Belanda lainnya, meskipun Johan sendiri tidak akrab pada mereka dan tidak mau bermain. Melihat Johan dipaksa bermain bersama anak-anak Belanda, Urug kemudian kembali ke rumahnya dengan raut muka yang murung.

Berselang beberapa masa, hatta keluarga Johan kedatangan saudaranya dan berpesta hingga larut serta dilanjutkan dengan berenang di danau pada malam hari, Johan yang ikut serta waktu itu merasa ketakutan akan hantu air yang akan menculiknya, namun diingatkan oleh Deppoh bahwa tidak ada hantu air melainkan ada tanaman air yang menjalar sehingga dapat mengikat kaki yang berenang membuatnya tenggelam. Sedikit yakin, Johan ternyata melihat gelembung yang sama dengan ia lihat saat bermain bersama Urug seketika membuatnya lari ketakutan dan dikagetkan oleh saudaranya yang tengah berenang menyebabkan dirinya tercebur ke dalam danau.

Ketika sadar, Johan mengalami demam ditambah pikiran akan hantu air yang membayang-bayangi kepalanya. Ayahnya yang berusaha menenangkan Johan beberapa kali menyuruhnya meminum segelas air agar tenang, namun Johan besikeras bahwa hantu air tetap ada. Kemudian, Urug datang ke rumahnya bukan hanya untuk menjenguk saja, tetapi seraya mengucapkan salam perpisahan karena ia akan pulang ke kampungnya. Ketika ditanya mengapa, ayah Urug, Deppoh meninggal akibat tenggelam ketika menyelamatkan Johan. Itulah yang terucap dari perkataan ayahnya membuat Johan semakin gelisah dan merasa itu adalah salahnya. Ayahnya kembali berusaha menenangkannya, namun kali ini mukanya disebut Johan sehingga merah murka dan memukul Johan yang sakit.

Beberapa tahun lewat, Johan ternyata menjadi seorang tentara Belanda yang diutus kembali ke tanah kelahirannya, Hindia Belanda. Kesempatan itu digunakannya untuk melihat rumahnya yang ditinggali selama ia pulang ke negeri Holanda. Bersama kawan dekat tentaranya, Twan dengan semboyan khas mereka ‘pisang goreng’ yang diidam-idamkan mencoba menuju Kalijati. Dalam perjalanannya kondisi perang antar rakyat, Jepang, dan Belanda memporak-porandakan seluruh wilayah sekitarnya.

Hingga mereka terhenti di jalan dekat rumahnya terdapat sebuah tulisan peringatan “Hei Belanda kalian memperjuangkan untuk apa” memunculkan firasat yang tidak enak bagi keduanya, namun Johan yang telah teguh hatinya mencoba tetap pergi sendirian dan meminta temannya menjaga seandainya terjadi sesuatu.

Sampai di rumahnya, Johan melihat tempat ia bernaung juga ikut hancur lebur. Di dalamnya segalanya berantakan dan penuh dengan poster dan bendera Jepang menjadikannya semakin khawatir atas ayahnya. Ketika ditemukan, ayahnya telah tertembak dan terlihat seseorang pejuang kemerdekaan memantaunya lari kabur. Johan merasa bahwa itu adalah Urug yang berusaha membalas dendam atas Deppoh.

Dari sinilah Johan berusaha mencari alasan mengapa banyak orang di sekitarnya berubah dan sahabat dekatnya ikut menghilang. Padahal ia mengingat bahwa Urug begitu dekat dengannya hingga masa-masa remaja sebelum masing-masing berfokus kepada pendidikannya di mana Urug dan Johan terakhir bersama saat menonton bioskop di mana memisahkan antara orang Belanda dan masyarakat pribumi. Ketika usai, Urug melihat Johan tampak senang dan bahagia berdialog dengan penonton orang Belanda lainnya ketimbang bersamanya.

Film arahan sutradara Belanda Hans Hylkema ini dibuat berdasarkan novel berjudul sama dari karya Hella S Haasse yang terbit pada 1948. Oeroeg dirilis pada Juni 1993 di Belanda dan November 1993 di Indonesia dan Belgia. Pembuatan film ini merupakan bentuk penghargaan hubungan Indonesia dan Belanda pada tahun tersebut yang semakin membaik. Film ini menyajikan cerita di seputar periode kemerdekaan Indonesia dengan protagonis serdadu Belanda yang lahir dan besar di Hindia Belanda. Sudut pengisahan ini tidak wajar, terlebih jika dibandingkan dengan film tentang periode yang sama garapan perfilman Indonesia yang menekankan kecenderungan pada bangsa Indonesia.

Sedangkan pada film berdurasi hampir 2 jam ini menyajikan sudut pandang kedua negara tanpa berpihakan atau kecenderungan pada satu pihak. Latar yang dibentuk juga benar-benar diperhatikan secara detail membentuk kondisi pada waktu sebenarnya ketika masa revolusi Indonesia berlandaskan fakta sejarah. Arus sejarah tidak mengalir hitam di atas putih vice versa. Film ini juga menceritakan upaya Johan untuk menghentikan kejahatan perang tersandung keputusan atasannya. Ia malah diperintahkan pulang lebih cepat ke Belanda. Sehingga, penciptaan-ulang tokoh Johan dalam film ini tak ditujukan untuk menghapus citra negatif militer Belanda.

Film ini direkomendasikan karena tidak memiliki alur yang monoton melainkan membuat penonton terus penasaran sama seperti Johan rasakan dan sekaligus sebagai pengetahuan dalam masa-masa revolusi kemerdekaan Indonesia melalui penggambaran dari sudut pandang Indonesia dan Belanda yang berada dalam tekanan Jepang. Tentunya film ini dapat mengisi waktu luang bagi siapapun yang ingin menonton film.

Salam literasi!

Categories
Buku Haruki Murakami

Blind Willow, Sleeping Woman: Cerpen Rasa Novel

Masih sebuah rutinitas sehari-hari di kala senggang dan menjalani masa-masa me time yang pastinya akan terasa hambar jika tidak dilanjutkan dengan menengok karya-karya maestro surealis, Haruki Murakami. Lagipula sayang rasanya jika menuntaskan membaca seluruh buku-buku miliknya ini. Sembarang ambil buku yang terlihat menarik dari tampak sampulnya, namun ternyata jatuh ke dalam lubang cerpen untuk kedua kalinya. Sekilas ketika melihat tampak buku dari ketebalan maupun cover-nya siapapun akan mengira ini sebuah novel yang tebalnya halaman demi halaman. Apa daya buku sudah di tangan, rasanya ingin menukar pun belum terpikirkan. Dari The Elephant Vanishes kini membuka lembar baru dari judul Bland Willow, Sleeping Woman.

Dalam karyanya kali ini berisikan dua puluh enam cerita pendek yang ditulis sejak tahun 1995 hingga 2005, dengan berbagai tema dan jenis cerita serta disuguhkan dengan berbagai jenis genre ada yang menyenangkan, sedih, maupun tak menampakkan emosi sama sekali dalam narasinya. Bahkan berbeda dengan karya sebelumnya tidak semua cerpen ini memilki ending yang jelas, sebagian besar meninggalkan tanda tanya besar setelah membacanya. Mungkin Murakami sendiri ingin pembacanya lah yang menentukan akhir dari jalannya cerita tergantung pemikirannya masing-masing, meskipun bagi sebagian pembaca ini malah menimbulkan gundah-gulana. Tebalnya tidak banyak, hanya 411 halaman saja masih jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan karya-karyanya yang sampai mencapai 900 halaman lebihnya.

Dimulai dengan sebuah cerita berjudul sesuai dengan judul buku ini mengisahkan sudut pandang pertama pembaca sebagai pelakunya atau dirujuk dalam buku sebagai “Aku” di mana karakternya yang sedang mengantarkan sepupunya untuk melakukan check up di sebuah Rumah Sakit di dekat sekolahnya beberapa tahun lalu yang kemudian teringat akan pengalaman sekolah bersama temannya yang juga sering mengunjungi rumah sakit yang sama untuk menemui pacar temannya tokoh utama ini. Sesampai kunjungannya, pacar temannya menggambarkan mimpinya pada sebuah tisu, seraya menceritakan mimpinya mengenai seorang wanita yang tertidur dan pohon willow.

Kemudian baru seusai cerpen ini lah randomisasi pemikiran Murakami keluar menerbitkan cerpen-cerpen tiada konteks maupun koneksi di antaranya bak sekat yang memisah-misah satu tempat dengan yang lain. Beberapa ceritanya sudah ditranslasikan dalam blog ini yaitu Kejatuhan Kue Sharpie yang bercerita tentang ketamakan perusahaan yang menjual sebuah kue legendaris nan terkenal lezatnya hingga tokoh utama menemukan sesuatu di balik kesuksesan kue tersebut. Lalu, satunya lagi adalah Teluk Hanalei yang berkisah seorang ibu muda gemar berselancar dan jago bermain piano kehilangan anaknya yang sama-sama mempunyai kesukaan dalam mengarungi ombak pantai meskipun naas anaknya digigit oleh hiu dan dikabarkan meninggal di sana sehingga sang ibu berusaha menerima dan tidak menerima perasaan schodinger mirip-mirip begitu dan kerjaannya hanya meratapi pantai tempat anaknya berselancar dan hilang. Masih banyak lagi hingga dipengujung terdapat cerita berjudul Monyet Shinagawa di mana seseorang bernama Mizuki lupa akan namanya ketika ia masih menggunakan dua nama yaitu dari pernikahannya bernama Ando dan beberapa dokumen masih mencantumkan nama keluarganya Ozawa. Lantas ia menemui psikolog untuk mencari tahu dan mengobati kelupaannya tersebut dan bertemu dengan seorang psikolog bernama Tetsuko yang membantunya selama masa rehabilitasi.

Murakami dijelaskan pada masa ini telah bersilih ganti menulis novel dan cerita pendek sejak debutnya menjadi penulis fiksi pada tahun 1979. Fase-nya selalu seperti ini: ketika Murakami telah selesai menulis novel, dirinya merasa ingin menulis cerita pendek. Ketika cerita pendek selesai ditulis, dirinya ingin menulis novel lagi. Entahlah vibes yang diberikan toh terasa sama-sama kuat memainkan penjelasan peran dan lokasi secara detail dan terperinci, yang jelas Murakami masih menyukai pesan-pesan terselebung yang diselipkan ke dalam ceritanya tersebut sekalipun tidak memiliki ujung yang jelas. Murakami di sini juga masih gemar menghilangkan sosok lelaki baik menjadi tumbal atau wusss macam trik sulap tak bertanda dan berbekas.

Kesabaran dalam memahami alur cerita masih menjadi ciri khas dari setiap karya Murakami yang menyulitkan sebagian pembacanya bahkan di waktu pertama kalinya membaca akan bisa membuat spontan lupa seketika beres halaman terakhir dan harus membuka kembali agar dapat ingat atau memahami dari satu cerita tersebut. Terbilang keringanan dalam buku ini adalah hiatusnya konsep surealis yang sering diusung Murakami menjadi santapan ceritanya. Tetapi rangkaian-rangkaian kata yang mendalam memang membuat pembaca dapat membayangkan jelas rupa tokoh maupun kondisi dalam cerita, namun setiap katanya mengandung majas yang perlu dipahami secara khusus dan berkonteks. Maka jika terlewat sedikit planga-plongo yang terungkit.

Sejauh ini buku begitu direkomendasikan untuk dibaca dalam jangka waktu yang panjang bukan sebagai buku cerpen yang dapat cemil sedikit demi sedikit, tapi untuk penggemar Murakami atau yang sudah membaca karyanya yang lain akan familiar dan kemungkinan tahu sampai mana harus dibaca untuk cicilan buku ini. Bagi pembaca ulung pun tidak masalah karena ini berisikan cerpen yang tidak berkorelasi satu sama lain mau diambil satu cerita dan satu lainnya dilewatkan tidak masalah sama sekali.

Ada sebuah kutipan favorit sebagai penutup ulasan kali ini dari halaman 396 yaitu “Everything in the world has its reasons for doing what it does.” atau dapat diterjemahakan “Segala sesuatu di dunia ini memiliki alasan tersendiri dalam melakukan tindakannya.”

Salam literasi!

Categories
Uncategorized

Menapaki Jejak di Selatan Jawa Barat (1)

Pangandaran

Berlibur merupakan sebuah kegiatan yang lumrah bagi setiap orang untuk melepaskan rasa penat dan jenuh dari keseharian monoton mereka. Termasuk saya, pencapaian dalam liburan ke suatu tempat menjadi keharusan dalam daftar bukan lain karena dilatarbelakangi oleh rasa penasaran pada suasana dan kondisi suatu tempat itu, entah itu tempat mainstream yang selalu menjadi primadona khalayak ataupun surga yang terkubur oleh sulitnya jalur untuk ditempuh. Dalam perjalanan ini berbagai kondisi alam telah dirasakan dan sebab itu tahu mengapa tempat tersebut dapat penuh oleh kerumunan atau dapat menjadi sangat sepi bak tak terjamah kehidupan. Sedikit spoiler saja, karena di daerah selatan berisikan pantai, sudah jelas yang akan dibahas secara umum adalah pantai, namun tidak menutup kemungkinan juga pada tempat lainnya.

Pantai Timur Pangandaran, Kec. Pangandaran, Kabupaten Pangandaran

Tepatnya 4 tahun lalu, saya memulai eksplorasi kecil-kecilan ini dengan dimulai dari sebuah pantai yang bagi hampir setiap orang sudah merasa familiar kala disebutkan namanya. Tempat ini pula kerap menjadi tujuan karyawisata anak sekolahan dari berbagai penjuru di Pulau Jawa tentunya. Mungkin daya tarik dari pantai ini ialah aksesnya yang begitu mudah karena dilintasi oleh jalan raya nasional menuju Provinsi Jawa Tengah. Tak hanya itu, kestrategisan ini juga dibantu dengan menjamurnya penginapan, rumah makan serta pusat oleh-oleh yang pastinya menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang berkunjung. Kalau dibilang pendapat pribadi, pantai ini lebih kurang sama seperti pantai biasa, tidak seeksotis halnya di Pulau Bali. Sekilas itulah impresi orang-orang terhadap Pantai Barat maupun Pantai Timur. Sayangnya kepopuleran pantai ini membuat akses menuju keindahan tersembunyi semakin sulit pada kendala keuangan. Bagaimana tidak, untuk menuju wilayah “kantong” yang memang tidak bisa ditembus oleh kendaraan sebab terjal dan dipenuhi hutan serta sungai yang memotong, mau tidak mau pengujung mengandalkan jasa perahu untuk mencapai tepat tertentu. Kebetulan saat itu, destinasi yang saya tuju adalah kawasan cagar alam yang mengarahkan kepada sebuah pantai terpendam lagi, yaitu Pantai Pasir Putih.

Pantai Pasir Putih, Kawasan Cagar Alam, Kabupaten Pangandaran

Rasanya benar-benar sayang sebuah keindahan semacam ini tidak terekspos kepada hampir seluruh pengunjung, padahal ini menjadi peluang lainnya untuk menikmati Pangandaran, tetapi bagaimana lagi, sekarang untuk menempuh ke tempat ini perlu mengeluarkan uang lagi.

Tasikmalaya

Setahun kemudian saya memutuskan untuk bergeser ke arah Barat. Tidak terlalu jauh juga dari tempat sebelumnya, menggunakan motor Mio yang kecil nan lihai menancapkan gas melintasi Jalur Lintas Selatan yang benar-benar sepi dari lalu-lalang kendaraan. Adapun itu juga hanya kendaraan penduduk sekitar yang notabene berpekerjaan sebagai petani, peternak, dan nelayan. Sebuah keadaan yang tidak bisa ditemukan di kawasan gunung atau perkotaan ketika sering melihat sebuah motor semiotomatis kerap berpapasan membawa hasil tangkapan laut serta pancing dan jaring dengan topi yang melingkar dan sepatu boots terkadang juga membawa rumput untuk pakan ternaknya. Aneh? Tidak juga bisa disangkutpautkan dengan sekitar. Lagipula saya lebih merasa aneh dengan jalur lintas ini yang berbeda dengan jalur utara atau Pantura, ialah jalur selatan dipenuhi oleh jembatan serta tanjakan selama perjalanannya. Inilah yang menguji kesetiaan shockbreaker Mio tercinta.

Pantai Cipatujah, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya

Dikarenakan waktu yang terbatas saat itu, maka saya memutuskan untuk menyambangi pantai yang setidaknya pernah cukup dikenal oleh masyarakat dan setelah melihat-lihat di dalam google maps dengan suasana pantai di Tasikmalaya lebih kurang serupa, sehingga akhirnya memilih pantai ini. Pantai Cipatujah dinamai berdasarkan nama daerah yang mengelilingi pantai tersebut. Berbeda dengan Pangandaran, kawasan ini benar-benar terlindungi oleh gunung-gunung serta bukit di sekitarnya. Seiring dengan perkembangan obyek wisata Pangandaran, dalam jangka panjang Pantai Selatan Tasikmalaya dapat menjadi pelengkap, atau paling tidak menjadi jalur alternatif wisatawan untuk menuju atau jalan pulang setelah dari pangandaran terutama bagi para wisatawan yang ingin mencari ketenangan, kalau dilihat mereka yang berkunjung di sini rata-rata hanya duduk memandang ombak dan hembusan angin laut. Penginapan dan rumah makan yang tersedia pun tidak begitu banyak mengingat hal tadi.

Memang keunggulan dari Pantai Cipatujah ini ternyata adalah ketenangan yang ditawarkannya. Di samping dari kondisinya yang terbilang biasa menurut saya, sunyi yang diberikan rasanya terbayarkan karena tidak terdapat dari pantai-pantai lain di sekitar. Mungkin karena besarnya ombak di sini, pada saat berkunjung tidak nampak satupun nelayan atau setidaknya kapal mereka yang menandakan hendak melaut.

Pantai Cipatujah sepertinya sangat ideal untuk pusat konservasi alam.

GARUT

Berselang satu tahun kemudian, bergeser pula ke wilayah sebelah. Namun pada perjalanan ini terbilang lebih unik sekaligus nyantai melalui jalur Pangalengan, Kabupaten Bandung di mana penuh dengan hamparan kebun teh dan dinginnya bukit-bukit yang menjulang tinggi. Hal yang berbeda juga dirasakan pada perjalanan ini karena disambut oleh hujan gunung. Siapapun tidak bisa menghindari hujan gunung ini, mungkin lain kali karena sudah tahu, siap sedia akan jas hujan. Setelah melewati hujan gunung dan dinginnya hembusan kabut, disuguhkan jalanan yang menurun tetapi menyempit serta rawan longsor. Ya, tanda tersebut menandakan sudah memasuki wilayah Kabupaten Garut. Melintas jalur ini hanya mengandalkan kondisi cuaca dan alam, jika berkunjung di tengah musim hujan, maka untung-untunganlah yang diandalkan antara dapat meneruskan perjalanan atau terhenti karena material longsor.

Berharap-harap segera menemukan laut, masih disambut kembali oleh bukit-bukit tak berkebun teh, melainkan sebuah alun-alun dengan warung di sekitar. Mengingat sedikit basah dan kedinginan akibat tadi, saya memutuskan rehat sejenak dan memesan cemilan untuk sebagai penghangat tubuh. Iseng-iseng menanyakan daerah ini, saya tahu banyak hal bahwa jalan utama ini merupakan jalan provinsi dan berada di atas bukit sedangkan perumahan warga ramai di bawahnya. Pantas saja memang tidak terlihat rumah-rumah selama melintas.

Alun-Alun Talegong, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut

Talegong nama daerah ini. Tepat di tulisan tersebut ialah jalan utama atau jalan provinsi yang disebut tadi walaupun separuhnya tertutup oleh tanah liat. Masih di atas bukit, Talegong di kelilingi jalan yang menurun bila mengarah ke selatan. Di tengah-tengah alun-alun tersebut terdapat gong besar lalu di sekitarnya terdapat kebun milik masyarakat sekitar yang tinggal di bawah bukit ini. Alun-alun ini terlihat jelas saat siang hari, namun mulai memasuki sore hari biasanya muncul kabut yang tebal dan dingin menutupi alun-alun.

Setelah merasa siap untuk melanjutkan perjalanan, saya menelusuri jalanan yang menurun dengan jurang di kanan, tebing di kiri. Tidak seperti Pangalengan, jalur ini mulai minim pencahayaan adapun lampu hanya satu hingga dua buah yang dibuat melalui inisiatif masyarakat sekitar menggunakan tiang berbahan dasar kayu. Jalanan semakin menurun semakin berkelok pula selain dari sempitnya jalur. Terkadang bila ada mobil atau truk yang melintas secara bersamaan, salah satunya harus mengalah dan mengantri. Apalagi saat itu jalanan masih penuh dengan lubang yang begitu dalam, demi keselamatan saya dan motor saya, harus pandai-pandai menghindari lubang, walaupun terkadang ketika jalanan penuh kendaraan menjadi suatu hal yang mau tidak mau masuk ke dalam lubang itu.

Berpegal duduk dan tangan, akhirnya jalanan menurun setidaknya tidak curam dan keloknya pun tidak tajam. Ditambah disambut dengan suasana persawahan dan air terjun di pinggir jalan menandakan bahwa ini merupakan daerah baru. Sedikit mengingat Geografi, sebagian besar batas daerah di Indonesia masih dibentuk oleh batas alam sehingga ketika kondisi wilayah berbeda maka dipastikan sudah berada di wilayah lain. Di sana mulai terlihat juga perumahan warga dan yang terpenting ada minimarket merah pula. Saya bergumam bahwa mungkin ini daerah khusus pemukiman. Selang beberapa meter di sebelahnya, saya menemukan suatu ikon yang dulu pernah viral di media sosial.

Patung Macan Koramil Cisewu, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut

Inilah bendanya, Patung Macan Cisewu yang pernah tenar karena rupa yang aneh sehingga mengundang gelak tawa kala melihatnya. Sayangnya ketika saya sampai di sini, patung tersebut telah diganti dengan patung macan yang gagah. Di sisi lain saya merasa sedih tidak dapat mengabadikannnya, namun di sisi lain pula merasa senang karena citra militer tidaklah untuk ditertawakan.

Saya terus meneruskan perjalanan meskipun pegal terasa, Cisewu tidak bersahabat dengan sinyal telepon saya, akhirnya mengandalkan panarosan ke masyarakat sekitar bahwa menurut keterangannya menuju kawasan pantai tinggal 1 jam lagi. Syukurlah.

Jalanan terus menurun hingga berakhir pada sebuah perempatan besar yang merupakan Jalur Lintas Selatan yang pernah dilalui dahulu. Di seberang ada jalan yang langsung lurus menuju Pantai Rancabuaya. Tempat tersebutlah yang menjadi sambangan saya pertama kali.

Pantai Rancabuaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut

Ketika memasuki kawasan pantai yang masih harus ditempuh sekitar lebih kurang 15 menit, angin hangat dan pohon-pohon kelapa menjadi kontras apa yang saya lihat di Cisewu penuh dengan hutan hijau yang lebat dan udara yang sejuk. Alih-alih mencoba menjadi masyarakat biasa dengan Mio, penjaga melihat plat nomor dan mengenakan biaya setara wisatawan. Tapi tidak apa. Setelah masuk ke pantai utamanya, dari gerbang sudah disambut oleh jalanan pasir pantai yang berarti sulit untuk berjalan karena pasti akan selip.

Kawasan pantai memukau mata saya dengan pasir putihnya yang bagi saya sendiri pertama kali melihat seperti ini. Di antara pasir-pasir tersebut tercampur kerang kecil berwarna-warni. Selain itu ombak pesisir pantai ini lebih tenang, mungkin karena kawasan ini dipenuhi oleh karang atau memang secara naturalnya. Pantai sebelah timur dipenuhi kapal-kapal nelayan yang hendak atau sedang berlayar, sedangkan sebelah barat terhampar kosong yang sepertinya memang diperuntukkan bagi wisatawan. Bibir pantai ini dibatasi oleh bukit karang yang besar di kedua arah. Saya dapat memberanikan diri untuk berenang di sini karena ombak kecilnya, untuk sekadar duduk pun sudah tersedia kursi dekat pohon di sekitar pantai. Pantai Rancabuaya cocok untuk spot foto ataupun liburan ke pantai dengan segala aktivitasnya.

Saya menghabiskan hari dan bermalam di pantai tersebut mengingat untuk melanjutkan perjalanan pun sudah cukup penat. Ada beberapa pengunjung juga yang bermalam sama seperti saya, mereka berkelompok dan melakukan acara bakar-bakaran, game, dan bernyanyi. Malam menjelang sekalipun pantai ini masih tetap hidup dan ramai.

Keesokan harinya saya melanjutkan kembali perjalanan di Jalur Lintas Selatan, tepatnya ke arah timur. Sebab Rancabuaya ini sudah berada di bagian Barat yang tidak jauh berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. Menurut maps, terdapat pantai yang lebih ramai pengunjungnya, 45 menit dari Rancabuaya, saya mengunjungi pantai bernama Pantai Santolo. Secara tiket masuk relatif sama sekitar 10 ribu rupiah.

Pantai Santolo, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut

Sama indahnya seperti Rancabuaya, Pantai Santolo menjadi primadona masyarakat Garut, karena terletak persis di tengah-tengah dari pusat kota Kabupaten Garut, Tarogong yang berjalur lurus. Karena hal itu juga, ketika memasuki kawasan pantai, banyak yang menawarkan penginapan sebab biasanya Pantai Santolo ini dijadikan tempat rekreasi bagi para pemuda-pemudi atau keluarga. Berbeda dengan Rancabuaya, Pantai Santolo tidak berkarakteristik penuh dengan karang di sela-sela pantainya, melainkan di sebelah timur. Hal ini pula bibir pantai ini begitu panjang ke arah sebelah barat. Ombak di pantai ini juga lebih besar dari Rancabuaya, namun masih terkontrol yang berarti banyak peselancar yang datang ke pantai ini untuk berselancar. Pantai Santolo tidak menjorok ke laut sehingga kedalaman ujung pantainya sedikit lebih dalam daripada Rancabuaya.

Siang menuju sore, saya memutuskan untuk menelusuri pantai ini. Ternyata terdapat pantai lagi yang berbeda. Meskipun perkiraan saya masih kawasan pantai Santolo. Namun tidak, tulisannya terpampang jelas, “Selamat Datang di Pantai Sanghyang Heulang”. Segera saya membuka ponsel untuk mengecek maps, didapati memang ini pantai yang berbeda. Apa mungkin karena dibatasi oleh sungai sehingga disebut pantai yang terpisah?

Pantai Sanghyang Heulang, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut

Akhirnya saya menikmati matahari terbenam di pantai ini. Terlihat indah. Setidaknya dalam 2 hari berarti saya sudah mendatangi 3 pantai sekaligus. Benar-benar sebuah perjalanan yang menyenangkan namun melelahkan.

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

TELUK HANALEI (1)

Sachi kehilangan anak kesayangannya yang berumur 19 tahun oleh terkaman seekor hiu besar saat mereka tengah berselancar di Teluk Hanalei. Secara jelasnya, penyebabnya bukanlah karena terkaman hiu yang membunuhnya. Jauh dari ujung pantai ketika binatang itu merobek kaki kanannya, ia lalu panik dan tenggelam. Tenggelam, merupakan penyebab kematian utamanya. Hiu itu juga nyaris membelah papan selancar miliknya. Hiu-hiu sama sekali tidak tertarik terhadap daging manusia. Kebanyakan pada gigitan pertama mereka, mereka langsung merasa kecewa dan pergi begitu saja. Inilah mengapa banyak orang yang kehilangan kaki atau tangannya, namun mereka dapat selamat selama tidak panik. Sedangkan pada putra Sachi, meminum air laut dalam jumlah besar ditambah serangan jantung kala itu lalu tenggelam.

Ketika pemberitahuan datang dari konsulat Jepang di Honolulu, Sachi hanyut dalam syok yang diterimanya. Pemikirannya langsung kosong sehingga tidak dapat lagi berpikir. Yang dapat dilakukannya hanyalah duduk termenung menatap dinding. Entah berapa lama ini berlangsung, ia tidak tahu. Namun, alhasil kesadarannya kembali pulih setidaknya untuk melihat nomor penerbangan dan melakukan pemesanan kursi pesawat tujuan Hawaii. Staf konsulat telah mendesaknya untuk datang sesegera mungkin agar dapat mengidentifikasi korban di mana masih terdapat kemungkinan bahwa itu bukanlah anaknya.

Dikarenakan pada waktu itu masih dalam musim liburan, seluruh kursi sudah dipesan untuk hari itu dan keesokan harinya pula. Seluruh maskapai memberitahunya hal yang sama, tetapi ketika ia menjelaskan situasi yang terjadi, resepsionis maskapai United mengatakan, “Segera pergi ke bandara secepat mungkin. Kami akan mencarikan kursi untukmu.” Sachi mengemas barangnya di sebuah tas kecil dan pergi menuju Bandara Narita, di mana perempuan yang bertugas saat itu memberikannya tiket dengan kelas bisnis. “Ini yang kami punya untuk hari ini, tetapi kami akan memberikan biaya seharga kelas ekonomi,” ucapnya. “Ini pasti sulit bagimu. Berusahalah tegar.” Sachi berterima kasih kepadanya karena sangat menolong dirinya.

Seketika ia sampai di Bandar Udara Honolulu, Sachi menyadari bahwa dirinya sangat kesal karena lupa mengabarkan kepada konsulat Jepang mengenai waktu ketibaannya. Seorang anggota konsulat seharusnya menemani dirinya menuju Kauai. Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kauai sendiri daripada harus berurusan dengan rencana yang terbilang kompleks. Ia berasumsi bahwa kondisi masih seperti seharusnya ketika ia sampai di sana. Penerbangannya sampai di Bandar Udara Lihue di Kauai sebelum siang hari. Ia lalu menyewa mobil di konter bandara tersebut dan pergi ke pos polisi terdekat dari dirinya. Di sana, ia mengatakan bahwa ia baru saja datang dari Tokyo setelah mendengar kabar anaknya terbunuh oleh hiu di Teluk Hanalei. Seorang polisi yang memakai kacamata dan memiliki uban mengarahkannya ke kamar mayat yang terlihat seperti penyimpanan dingin, dan menunjukkan tubuh anaknya dengan kaki yang telah lepas salah satu. Segala di bawah dengkul kanannya telah habis, dan tulang putih pucat menonjol dari dalam. Ini merupakan putranya– sudah tidak ada keraguan lagi. Wajahnya menunjukkan tanpa ekspresi seperti terlihat ketika ia sedang tertidur. Sachi dapat saja berkelit akan kematian anaknya. Seseorang bisa saja menyiapkan tubuh seperti ini. Ia tampak seolah-olah, bila digoyangkan pundaknya akan bangun dan memprotes seperti yang dilakukannya sehari-hari di pagi hari.

Di ruang lain, Sachi menandatangani dokumen berisikan pernyataan bahwa tubuh tersebut merupakan anaknya. Seorang polisi menanyakan apa yang akan dilakukan olehnya selanjutnya. “Aku tak tahu.” ucap Sachi. “Apa yang biasanya orang lakukan?” Mereka biasanya mengkremasi dan membawa abunya ke rumah, balas polisi padanya. Ia bisa saja meminta dibawakan tubuh ini ke Jepang, tetapi ini memerlukan sebuah rencana yang sangat sulit dan lebih mahal tentunya. Kemungkinan lainnya adalah menguburkannya di Kauai.

“Tolong kremasi dia,” kata Sachi. “Aku akan membawa abunya ke Tokyo bersamaku.” Putranya telah mati. Tidak ada sebuah harapan membawanya ke kehidupan ini lagi. Apa bedanya antara abu atau tulang-belulang ataupun sebuah jasad? Ia menandatangi juga persetujuan kremasi dan membayar biaya yang diperlukan.

“Aku hanya punya kartu American Express,” pungkas Sachi.

“Itu tidak apa-apa,” tandas petugas.

Di sini aku, membayar pengkremasian anakku dengan kartu American Express, pikir Sachi. Sebuah perasaan yang aneh baginya, seaneh bahwa anaknya telah dibunuh oleh seekor hiu. Proses kremasi akan berjalan esok pagi, petugas kepolisian itu berkata padanya.

“Bahasa Inggrismu sangat bagus,” ucap sang petugas seraya menaruh dokumen agar tertata. Ia merupakan seseorang berdarah Jepang-Amerika bernama Sakata.

“Aku tinggal di AS cukup lama semenjak kecil,” kata Sachi.

“Pantas saja,” balas petugas tersebut. Kemudian ia memberikan barang-barang milik putranya: pakaian, paspor, tiket pulang, dompet, Walkman, majalah, kacamata, alat cukur. Seluruh barang itu muat dalam tas Boston kecil. Sachi lalu harus menandatangani lagi penyerahan barang ini.

“Apakah kau memiliki anak lain?” sang petugas bertanya.

“Tidak, ini anakku satu-satunya,” balas Sachi.

“Suamimu tidak berencana?”

“Suamiku telah meninggal semenjak lama.”

Petugas tersebut mengeluarkan napas yang dalam. “Maafkan saya telah bertanya. Mohon beritahu saya bila ada yang ingin dibantu kembali.”

“Saya berharap untuk bisa diantarkan menuju tempat di mana putra saya meninggal. Dan di mana ia tinggal. Saya rasa ada biaya hotel yang harus dibayar. Dan saya perlu untuk menghubungi konsulat Jepang di Honolulu. Bolehkah saya meminjam ponsel Anda?”

Petugas itu memberikannya sebuah peta dan menandai tempat di mana anaknya berselancar dan lokasi hotel di mana ia menetap. Sachi bermalam di sebuah hotel di Lihue yang telah disarankan oleh petugas polisi tersebut.

Setelah Sachi meninggalkan pos polisi, petugas polisi paruh baya Sakata berkata padanya, “Aku punya permintaan personal kepadamu. Alam dapat mengambil nyawa manusia mulai sekarang dan seterusnya di sini di Kauai. Kau bisa melihat indahnya pulau ini, tetapi terkadang, pulau ini dapat liar dan mematikan. Kami hidup di sini dengan kemungkinan tersebut. Aku turut berduka mendengar kematian putramu. Aku dapat merasakannya. Namun, aku berharap kau tidak akan membenci pulau ini. Ini mungkin terdengar mementingkan diri sendiri bagimu setelah melewati semua ini, tetapi aku benar-benar bermaksud sebenarnya. Dari dalam hati ini.”

Sachi mengangguk padanya.

“Kau tahu, adik laki-lakiku meninggal dalam perang pada tahun 1944. Di Belgia, dekat perbatasan Jerman. Ia merupakan anggota dari Resimen Perang 442 yang terdiri atas tenaga sukarela keturunan Jepang-Amerika. Mereka di sana untuk menyelamatkan batalyon Texas yang terkepung Nazi ketika mereka menyerang dan membunuh anggotanya. Tidak ada lagi yang tertinggal selain dari kalung anjing dan beberapa cercahan salju bercampur dengan darah. Ibuku sangat mencintainya, mereka memberitahuku bahwa ibunya seperti orang lain setelah kejadian itu. Dulu aku hanyalah anak kecil, sehingga segala yang kutahu hanyalah ibuku setelah itu. Itu terlalu menyakitkan untuk dikenang.”

Petugas Sakata menganggukkan kepalanya lalu berkata:

“Apapun penyebab utama yang terjadi, orang-orang mati dalam perang dari kemarahan dan kebencian dua sisi. Tetapi alam tidak punya sisi itu. Aku tahu ini menyakitkan bagimu, tetapi cobalah untuk berpikir seperti ini: putramu kembali ke lingkaran alam; Tidak ada urusannya dengan penyebab oleh amarah atau rasa benci.”

Sachi datang ke sesi kremasi keesokan harin dan membawa abunya bersamanya di sebuah guci aluminium lalu pergi menuju Teluk Hanalei di utara dari pulau tersebut. Perjalanan dari pos polisi Lihue memakan waktu sekitar satu jam lebih. Sebenarnya semua pohon-pohon di pulau tersebut telah tumbang karena petir besar melanda beberapa tahun sebelumnya. Sachi menyadari sisa dari beberapa rumah kayu di sana telah hangus atapnya. Bahkan beberapa gunung menunjukkan tanda perubahan bentuk karena petir tersebut. Alam dapat lebih kasar pada lingkungan ini.

Ia melanjukan perjalanan ke sebuah kota kecil nan sunyi Hanalei menuju tempat berselancar di mana putranya diserang oleh hiu. Ia memarkirkan kendaraannya di dekat tempat itu, lalu pergi dan duduh di pantai sembari melihat beberapa orang yang tengah berselancar-mungkin sekitar lima orang. Mereka dapat mengambang jauh dari ujung pantai, memegang papan selancarnya, hingga suatu ketika ombak besar datang. Kemudian mereka mengendalikan papannya dan menembus ombak tersebut. Setelah ombak mulai mereda, mereka mulai kehilangan keseimbangan dan jatuh. Mereka dapat kembali menaiki papan mereka dan menunggu ombak yang akan datang seraya berenang menuju lautan terbuka, di mana mereka akan mengulangi kegiatan yang sama. Sachi dapat bersikeras untuk mengerti mereka. Apakah mereka tidak takut dengan hiu? Atau mereka tidak pernah mendengar bahwa anaknya terbunuh oleh hiu di tempat ini hari-hari sebelumnya?

Sachi tetap duduk di sana, menikmati tontonan pemandangan ini selama beberapa jam. Pikirannya tidak dapat mempercepat apapun. Beban kemarin seketika menghilang dari benaknya, dan masa depan bersemayam kelam di suatu tempat. Tiada satupun rasa ini menyambung padanya sekarang. Ia duduk secara terus-menerus mengganti keadaan, matanya menyusuri aluran ombak dan peselancar. Hingga suatu ketika berpikir: Apa yang aku butuhkan sekarang adalah waktu.

Kemudian Sachi pergi menuju hotel di mana putranya bermalam, sebuah tempat kecil nan lusuh dengan taman yang tak terurus. Kedua lelaki tak berbaju dan berambut panjang duduk di sana meminum bir. Beberapa botol kosong Rolling Rock berhamburan di antara ganja di kaki mereka. Salah satu di antaranya berambut pirang, dan yang lain berambut hitam. Kalau tidak, mereka memiliki bentuk wajah dan tubuh yang serupa dan menggukana tato berjenis bunga di kedua tangannya. Terdapat bau marijuana bercampur kotoran anjing di udara. Ketika Sachi mendekati mereka, kedua pria tersebut memasang pandangan curiga.

“Anakku pernah bermalam di sini,” kata Sachi. “Ia terbunuh oleh hiu tiga hari yang lalu.”

Kedua pria itu saling memandang. “Apa yang kau maksud itu Takashi?”

“Ya,” balas Sachi. “Takashi”

“Dia benar-benar anak yang keren.” ujar pria yang berambut pirang.

“Kasihan sekali.”

Pria berambut hitam menjelaskan dengan suara lemah lembut, “Pagi itu, terdapat banyak kura-kura di pesisir. Hiu-hiu itu sedang mengincar kura-kura. Tetapi biasanya, mereka membiarkan para peselancar sendirian. Kami pun bahkan terbilang akrab dengan mereka. Namun, entah mengapa, mungkin kurasa ada sejenis hiu lain…”

Sachi mengatakan bahwa ia harus membayar tagihan hotel Takashi. Ia menyangka bahwa masih ada tagihan yang belum terbayarkan.

Pria berambut pirang mengerutkan keningnya dan mengayunkan botol di udara. “Tidak bu, kau tidak mengerti. Peselancar yang hanya tinggal di hotel ini, biasanya tidak memilki uang. Kau harus membayar uangnya di muka terlebih dahulu untuk memesan kamar. Kami tidak punya apa yang disebut ‘tagihan.'”

Kemudian pria berambut hitam membalas, “Katakan bu, apakah kau ingin mengambil papan selancar milik Takashi? Papan itu sudah terbelah dua oleh hiu bodoh, mereknya Dick Brewer tua. Petugas kepolisian tidak mengambilnya. Kurasa ada di, ah, sekitar sana…”

Sachi menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin melihat papan selancar itu.

“Benar-benar kasihan sekali,” pria pirang kembali berucap seakan hanya itu yang bisa ia utarakan.

“Dia benar-benar anak yang keren,” timbal temannya sang pria berambut hitam. “Sangat OK. Paling bagus dalam selancar juga. Coba pikirkan, dia bersama kami malam kemarin, meminum tequila bersama. Ya.”

Sachi akhirnya menginap di Hanalei selama seminggu. Ia menyewa penginapan yang telihat paling biasa supaya ia dapat memasak dan menyiapkan makanannya sendiri. Di suatu ketika, ia harus kembali ke Jepang. Ia membeli kursi vinil, kacamata, sebuah topi dan tabir surya, dan duduk di pesisir pantai setiap harinya, memandangi peselancar. Terkadang beberapa hari di antaranya turun hujan-derasnya, seperti seseorang menumpahkan air semangkuk secara sekaligus dari langit. Musim semi di pesisir utara Kauai benar-benar tidak stabil. Ketika rintik turun, ia memutuskan duduk di dalam kursi mobilnya, memandangi hujan. Dan ketika hujan telah reda, dia keluar dan kembali duduk di pesisir pantai, memandangi lautan.

Sachi mulai mengunjungi Hanalei pada musim ini setiap tahunnya. Ia akan tiba di sana beberapa hari sebelum perayaan tahunan kematian putranya dan tinggal selama tiga minggu, memandangi peselancar dari kursi vinil di pesisir pantai. Itulah kegiatan yang dilakukannya selama sehari-hari selama sepuluh tahun lamanya. Ia akan tinggal di penginapan yang sama dan makan di restoran yang sama pula sembari membaca buku. Ini menunjukkan seolah ada pola dari perjalanannya yang telah direncanakan, ia juga mencari orang-orang untuk diajak berbincang mengenai masalah yang diterpanya. Sehingga banyak penduduk yang tahu dirinya hanya dari pandangan sekilas saja. Ia menjadi terkenal sebagai seorang ibu orang Jepang yang putranya terbunuh oleh hiu.

Suatu hari, dalam perjalanan dari Bandar Udara Lihue, di mana ia mengembalikan mobil rentalnya, Sachi melihat kedua orang Jepang yang merupakan pembonceng mobil di Kota Kapaa. Mereka sedang berdiri di depan Restoran Keluarga Ono dengan tas perlengkapan olahraga yang mengganttung di pundak mereka, menunggu kendaraan melintas sembali mengacungkan jari jempol, meskipun tak terlihat percaya diri. Kedua pemuda tersebut memiliki rambut sebahu warna merah dan menggunakan T-Shirt yang berwarna pudar, celana longgar, dan sendal. Sachi melewati mereka, namun ia mengubah pikiran dan memutar balik.

Ia membuka jendela dan bertanya dalam bahasa Jepang, “Kalian mau pergi ke mana?”

“Ah, kau bisa bahasa Jepang ternyata!” yang paling tinggi membalas.

“Ya, tentu saja, karena aku adalah orang Jepang. Kalian mau pergi ke mana?”

“Sebuah tempat bernama Hanalei,” balas yang paling tinggi.

“Kalian mau ikut bersamaku? Aku menuju ke sana.”

“Bagus! Itulah yang kami harapkan!” timbal yang kekar.

Mereka menyimpan tas mereka di bagasi dan mulai masuk ke kursi penumpang di belakang mobil Sachi.

“Tunggu sebentar,” ucap Sachi. “Aku tidak ingin kalian berdua duduk di kursi belakang. Ini bukanlah taksi. Salah seorang dari kalian duduk di depan. Ini sikap umum yang baik.”

Mereka memutuskan yang paling tinggi untuk duduk di depan, ia malu-malu mulai duduk di sebelah Sachi, meluruskan kakinya ke tempat yang kosong. “Mobil model apa ini?” ia bertanya.

“Ini Dodge Neon. Mobil merek Chrysler,” timbal Sachi.

“Hmm, jadi Amerika punya mobil sekecil ini juga ternyata? Mobil Corolla adikku bahkan lebih besar dari yang ini.”

“Ya, tidak semua orang Amerika mengendarai mobil Cadillacs yang besar.”

“Ya, tetapi ini terlalu kecil.”

“Kau bisa keluar dari sini kalau kau tidak suka,” ucap Sachi.

“Wah, bukan maksudku begitu!” ucapnya.

“Aku hanya terkejut melihat mobil sekecil ini, hanya itu saja. Kupikir semua mobil orang Amerika memiliki sisi yang besar.”

“Omong-omong, apa tujuan kalian mengunjungi Hanalei?” Sachi menanyakan mereka sembari menyetir.

“Yah, hanya berselancar, hanya itu saja.”

“Di mana papan kalian?”

“Sudah di simpan di sana,” yang kekar membalas.

“Membawa dari Jepang memang sangat menyulitkan kami. Dan kami mendengar kalau bisa memakai yang paling murah di sana,” balas yang tinggi.

“Bagaimana denganmu?” Apa kau ke sana untuk berlibur juga?”

“Ya”

“Sendirian?”

“Sendirian,” Sachi berkata dengan lirih.

“Aku kira kau merupakan salah satu peselancar legendaris.”

“Jangan berpikir aneh!” ucap Sachi. “Apa kalian sudah ada tempat untuk menginap di Hanalei?”

“Tidak, kami akan memikirkannya lagi setelah sampai di sana,” jawab yang tinggi.

“Ya, kami akan memikirkannya kalaupun tidak kami bisa tidur di pantai jika harus,” balas yang kekar. “Lagipula, kami tidak memiliki uang.”

Sachi menggelengkan kepalanya. “Pesisir pantai utara akan sangat dingin pada musim tahun ini- sudah cukup dingin untuk memakai sweater di dalam ruangan. Kalian tidur di luar pun akan membuat kalian sakit.”

“Apa di Hawaii tidak selalu musim panas?”

“Hawaii berada di ujung utara belahan bumi, kau tahu. Jadi punya empat musim. Musim panas ya panas, dan musim dingin jelas dingin”

“Kalau begitu kami sebaiknya segera mencari tempat yang beratap.” timbal yang kekar.

“Kau bisa mencarikan kami tempat?” tanya yang tinggi. “Bahasa Inggris kami seperti tidak bisa dipahami.”

“Ya.” jawab yang kekar. “Kami dengar bisa menggunakan bahasa Jepang di Hawaii tapi selama kami mencobanya tidak ada yang berhasil.”

“Tentu saja tidak bisa!” ucap Sachi, merasa jengkel.

“Satu-satunya tempat yang menggunakan bahasa Jepang hanyalah Oahu, dan hanya satu bagian Wakiki saja. Mereka menginginkan turis Jepang yang menggunakan Louis Vuitton dan Chanel No. 5, jadi mereka merekrut pelayan yang bisa bahasa Jepang. Sama seperti Hyatt dan Sheraton. Tetapi di luar hotel, bahasa Inggrislah yang dapat diandalkan. Maksudku, ini Amerika. Kau datang ke Kauai dan tidak tahu itu?”

“Aku tidak tahu. Ibuku bilang semua orang di Hawaii bisa bahasa Jepang.”

Sachi menggerutu.

“Bagaimana kami tinggal di hotel termurah di kota,” kata yang kekar. “Sudah kubilang, kami tidak punya uang.”

“Pendatang baru tidak boleh menginap di hotel termurah di Hanalei.” Sachi memperingatkan mereka. “Itu bisa berbahaya.”

“Mengapa begitu?” tanya yang tinggi.

“Narkotika biasanya,” jawab Sachi. “Kebanyakan peselancar di sana adalah orang jahat. Marijuana mungkin dapat ditoleransi, tetapi hati-hati dengan es.”

“Es? Apa itu?”

“Aku tidak pernah mendengarnya” jawab pemuda tinggi.

“Kalian berdua tidak tahu apapun ‘kan? Kalian menjadi sasaran empuk bagi mereka. Es merupakan istilah untuk narkotika keras, dan itu tersebar di penjuru Hawaii. Aku tidak tahu detilnya, tetapi bentuknya seperti kristal. Harganya murah dan mudah dipakai, membuat kalian merasa tenang, tetapi sektetika itu kalian akan kecanduan hingga kematian sekalipun.”

“Menyeramkan.” ucap yang tinggi.

“Maksudmu itu OK kalau untuk marijuana?” tanya yang kekar.

“Aku tidak tahu apa itu OK atau tidak, setidaknya itu tidak membunuhmu. Tidak seperti tembakau, ini dapat merusak otakmu perlahan, tetapi kalian tidak tahu perbedaannya.”

“Hei, itu terlalu keras!” kata yang kekar.

Pemuda tinggi menanyakan Sachi, “Apakah kau tipe seorang Boomer?”

“Maksudmu…”

“Ya, maksudku orang dari golongan generasi baby boom.”

“Aku bukan golongan dari generasi manapun. Aku hanyalah diriku. Jangan memasukkanku ke dalam grup apapun, kumohon.”

“Itu dia! Kau itu Boomer!” kata pemuda kekar. “Kau selalu menanggapi sesuatu dengan serius. Sama seperti ibuku.”

“Dan jangan samakan diriku bersama ‘ibu’ berhargamu,” ucap Sachi. “Omong-omong, demi kebaikan kalian, kalian sebaiknya tinggal di tempat biasa di Hanalei. Sesuatu mungkin dapat terjadi…bahkan pembunuhan sekalipun.”

“Tidak seperti sebuah surga yang ditawarkan seharusnya.” ucap pemuda kekar.

“Tidak,” ucap Sachi setuju. “Era dari Elvis telah lama musnah.”

“Aku tidak tahu maksudmu apa,” ucap pemuda tinggi, “tetapi aku tahu kalau Elvis Costello itu sudah tua.”

Sachi mengendarai tanpa berucap sepatah katapun.

Sachi berbicara kepada pengelola penginapannya, lalu mencarikan ruangan untuk pemuda ini. Pengenalan oleh Sachi mengurangi harga mingguannya, namun masih terlalu lebih dari anggaran yang mereka punya.

“Tidak mungkin,” ucap pemuda tinggi. “Kami tidak punya uang sebanyak itu.”

“Ya, nyaris ke tidak ada.” ucap yang kekar.

“Kalian pasti punya untuk keadaan darurat,” Sachi meyakinkan.

Pemuda tinggi mengeluarkan sesuatu dari telinganya, “Kami punya kartu keluarga untuk Diners Club, tetapi ayahku bilang jangan sekali digunakan kecuali untuk sebuah keadaan darurat yang benar nyata. Ia khawatir kalau aku menggunakannya aku tidak akan berhenti. Jika aku menggunakannya selain dari keadaan darurat, aku akan menghadapi sebuah kekelaman ketika pulang ke Jepang.”

“Jangan berlagak bodoh,” kata Sachi. “Ini merupakan sebuah keadaan darurat. Jika kau tetap ingin hidup, gunakan kartu itu sekarang juga. Kalian menginginkan dimasukkan penjara oleh polisi dan dijadikan pacar oleh orang Hawaii. Tentu saja, jika kau suka hal itu beda lagi, tetapi itu menyakitkan.”

Pemuda tinggi mengeluarkan kartunya dari dompet dan menyerahkannya pada pengelola. Sachi meminta nama tempat di mana mereka membeli papan selancar bekas itu. Pengelola itu menambahkan, “Dan ketika kau pulang, mereka akan membelikannya kembali darimu.” Para pemuda itu menyimpan barang-barang mereka di kamar dan bergegas menuju ke toko.

Sachi sedang duduk di pesisir pantai, melihat ke lautan seperti biasanya pada pagi hari, ketika kedua pemuda Jepang itu muncul dan mulai berselancar. Kemampuan selancar mereka begitu lihai, suatu yang kontras dengan keputusasaan mereka di tanah ini. Mereka dapat memperkirakan sebuah ombak besar, memasang ancang-ancang dengan gesitnya, dan mengarahkan papannya menuju ke pesisir dengan anggunnya serta tentunya kontrol. Mereka melakukan ini hampir berjam-jam tanpa berhenti. Mereka terlihat hidup ketika mereka mengendalikan ombak: mata mereka bersinar, tubuh mereka punya kepercayaan diri. Tidak ada tanda kemalu-maluan seperti hari kemarin. Sachi kembali ke rumah, mereka mungkin akan menghabiskan hari-hari mereka bersama air laut, tak pernah belajar—sama seperti putra Sachi.

 

Bersambung.

 

 

Salam literasi!

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

KEBANGKITAN DAN KEJATUHAN KUE SHARPIE

Setengah terbangun, aku kala itu tengah membaca surat kabar pagi ketika sebuah iklan di sebuah rubrik menarik perhatianku: ”Merayakan Kue Sharpie, Pabrik Mencari Sebuah Produk Baru. Seminar Informasi Besar.” Aku tidak pernah mendengar tentang Kue Sharpie sebelumnya; Itu pasti sebuah kue dengan jenis baru. Apalagi diriku begitu berharap pada pemerhati manis-manisan, dan saat ini pula diriku memiliki waktu yang cukup luang. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melihat apa yang mereka tawarkan pada ”Seminar Informasi Besar”.

Acaranya diselenggarakan di sebuah ballroom hotel, di sana disajikan juga teh dan kue. Kuenya, tentu saja, merupakan kue Sharpie. Aku mencoba memakannya sepotong, tetapi aku tidak bisa mengatakan kalau aku begitu menyukainya. Kuenya memiliki tekstur lembek dan pinggirannya terlalu kering. Ku tak bisa mempercayai bahwa manisan ini memikat para anak gaul muda.

Namun begitu, semua orang yang hadir pada pertemuan informasional ini di antara usiaku dan bahkan lebih muda. Aku diberikan sebuah tiket bernomor 952, dan setidaknya ada seratus orang yang datang setelahku, yang berarti ada sekira seribu orang pada pertemuan ini. Benar-benar mengagumkan.

Duduk di sebelahku terdapat seorang gadis berusia 20-an dengan menggunakan kacamata tebal. Tidak terlihat cantik, namun ia tampak merupakan seseorang yang memiliki sifat baik.

“Beritahu padaku, apakah kau pernah memakan kue-kue Sharpie ini sebelumnya?” tanyaku.

“Tentu saja,” pungkasnya. “Kue ini begitu populer.”

“Ya, tapi kue-kue ini sangat tidak-” ketika diriku mulai berkata, di saat yang bersamaan ia menendangku dengan kakinya. Orang-orang di sekitar kami melemparkan pandangan amarah tertuju padaku. Situasinya menjadi suram, tetapi aku dapat melaluinya dengan memasang muka paling polos sepolos Winnie The Pooh.

“Kau gila ya?” gadis itu membisik padaku setelahnya. “Kau datang ke tempat seperti ini dan menyumpah serapah tentang Kue Sharpie? Penyukanya akan menandaimu. Kau tidak akan bisa pulang ke rumah hidup-hidup.”

“Penyuka Sharpie?” Aku berseru. “Dasar-”

“Suttttt!” gadis itu memberhentikanku. Pertemuannya akan segera mulai.

Direktur Perusahaan Kue Sharpie membuka perhelatan dengan perjalanan sejarah dari Kue Sharpie. Itu merupakan sebuah “fakta” yang meragukan dari sebuah cerita mengenai bagaimana seseorang di sebuah masa di abad ke delapan belas mencampurkan beberapa komposisi untuk membuat Kue Sharpie pertama kalinya. Ia mengklaim ada sebuah puisi tentang Kue Sharpie di Antologi Kekaisaran Kokinshu ke 905. Aku nyaris saja tertawa mendengar hal itu, tetapi semuanya mendengarkan begitu serius, hingga aku dapat menghentikannya sendiri. Lagipula, aku lebih khawatir dengan para Penyuka Sharpie.

Pidato direktur tersebut berjalan selama satu jam, dan benar-benar membosankan. Ia hanya ingin mengatakan bahwa Kue Sharpie merupakan sebuah manisan yang telah memiliki tradisi di baliknya, di mana dapat dikatakan hanya melalui beberapa kalimat saja.

Sedangkan direktur pelaksana muncul setelahnya menjelaskan penyebutan produk Kue Sharpie yang baru. Kue Sharpie merupakan sebuah manisan nasional yang terbual sepanjang masa dan sejarah, jelasnya, tetapi untuk sebuah produk yang luar biasa ini memerlukan darah baru agar tetap tumbuh dan berkembang secara dialektis supaya menyesuaikan kepada masa yang baru. Ini mungkin terdengar bagus, namun secara mendasar ia hanya mengatakan kalau rasa Kue Sharpie sudah terlalu kuno dan penjualannya menurun, sehingga mereka memerlukan ide baru bagi para pemuda. Ia bisa mengatakannya dalam beberapa kalimat saja.

Dalam perjalanan keluar, aku mendapat salinan tentang peraturan-peraturan untuk submisi. Di mana seseorang tersebut harus membuat manisan berdasarkan Kue Sharpie lalu mengirimkannya ke perusahaan sebulan kemudian. Hadiah uang: dua juta yen. Andai saja aku punya dua juta yen, aku dapat menikahi pacarku lalu pindah ke sebuah apartemen baru. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat Kue Sharpie yang baru.

Seperti yang kukatakan baru saja, aku bisa memilih memutuskan untuk menuntut di mana manisan lebih diperhatikan. Dan aku bisa membuatnya sendiri dalam bentuk apapun: selai kacang, krim isi, remahan panekuk. Hal itu memudahkanku untuk membuat sebuah versi kontemporernya dalam waktu sebulan. Menuju tenggat waktu, aku memanggang dua lusin Kue Sharpie baru dan membawanya menuju tempat resepsionis perusahannya.

“Kuenya tampak bagus,” ucap perempuan resepsionis.

“Kuenya memang bagus,” kataku.

Sebulan kemudian aku menerima sebuah telepon dari perusahaan Kue Sharpie memintaku untuk datang ke kantor mereka keesokan harinya. Aku memutuskan pergi ke sana dengan menggunakan jas berdasi dan bertemu dengan direktur pelaksana di meja resepsionis.

“Kue baru yang kau kirimkan telah diterima baik oleh para staf,” katanya.

“Terutama pen-, ah, staf anggota muda.”

“Aku senang mendengarnya,” ucapku.

“Di sisi lain, terdapat anggota-anggota lama di antaranya yang- bagaimana aku mengatakannya?- yang merasa kue yang kau buat itu bukanlah Kue Sharpie. Kami saat ini bahkan masih dalam tengah perdebatan.”

“Begitu,” kataku, memikirkan apa yang sedang terjadi.

“Dan, pen, ah, para dewan direktur telah memutuskan untuk meninggalkan penentuan utamanya kepada Sang Suci Penyuka Sharpie.”

“Penyuka Sharpie?” aku terkejut. “Siapa itu Penyuka Sharpie?”

Direktur pelaksana memperlihatkan tampak bingung. “Kau berarti mengikuti kompetisi ini tanpa mengetahui apapun mengenai Penyuka Sharpie?”

“Maafkan aku. Aku merupakan orang yang tertutup.”

“Ini buruk sekali,” katanya. ”Jika kau tidak tahu mengenai Penyuka Sharpie, maka…” Ia berhenti sejenak. “Ah, lupakan saja. Silakan ikuti aku.”

Aku mengikuti direktur keluar ruangan, turun ke aula, menaiki lift menuju lantai enam, kemudian turun ke aula lain, akhirnya mengarahkanku pada sebuah pintu besi besar. Direktur itu menekan tombol getar, dan sesosok penjaga bertubuh besar muncul. Ia mengkonfirmasi bahwa ia adalah direktur pelaksana, kemudian dibukakan pintu itu. Penjagaannya benar-benar ketat.

“Sang Suci Penyuka Sharpie tinggal di sini,” jelas direktur. “Mereka merupakan keluarga burung khusus. Berabad-abad mereka tidak memakan apapun selain dari Kue Sharpie untuk tetap hidup.”

Tidak ada penjelasan penting lagi. Di sana terdapat sekitar seratus ekor gagak dalam ruangan berbentuk gua, yang seperti ruang penyimpanan dengan langit-langit seluas empat meter dan tiang panjang terpasang dari dinding ke dinding. Di setiap tiangnya bertengger Penyuka Sharpie. Mereka lebih besar daripada ukuran gagak pada umumnya, mungkin berukuran satu meter dalam tinggi. Bahkan yang paling kecil sekalipun berukuran setengah meter tingginya. Mereka tidak mempunyai mata di mana seharusnya ada, melainkan tergantikan tumpukan lemak putih. Tubuh mereka bengkak dan nyaris meletus.

Ketika mereka mendengar kami masuk, mereka mulai mengepakkan sayap dan mengeluarkan teriakan tangisan. Pada pertama kali, terdengar seperti sorakan yang tersusun bagiku, tetapi ketika telingaku mulai terbiasa, tangisan itu terdengar seperti teriakan, “Sharpie! Sharpie!” Mereka merupakan sosok yang menakutkan untuk dilihat.

Dari kotak di tangannya, direktur memecahkan kuenya ke lantai, dengan respons seratus lebih gagak menyambar kue tersebut. Dalam berusaha menggapai kue itu, gagak-gagak saling menginjak satu sama lain. Tak heran mengapa mereka kehilangan penglihatannya.

Selanjutnya direktur mengambil sesuatu menyerupai Kue Sharpie dari kotak lain, dan memecahkannya ke lantai. “Lihat ini,” katanya kepadaku. “Ini merupakan resep yang dapat mengeleminasi dalam kompetisi.”

Burung-burung tersebut berjejalan seperti sebelumnya, namun ketika mereka menyadari kue yang dimakan mereka tidak berbentuk seutuhnya Kue Sharpie, mereka memuntahkannya dan meneriakkan amarahnya:

Sharpie! Sharpie! Sharpie! Sharpie!

Mereka mulai meneriakkan tangisannya hingga menggema pada langit-langit sampai membuat telingaku sakit mendengarnya.

“Kau lihat? Mereka hanya memakan Kue Sharpie yang asli,” direktur menyeringai. “Mereka takkan menyentuh barang tiruan.”

Sharpie! Sharpie! Sharpie! Sharpie!

“Sekarang, mari kita coba Kue Sharpie baru buatanmu. Jika mereka memakannya, kau menang. Jika tidak, kau kalah.”

Ah, sesuatu meyakinkanku bahwa ini tidak akan berhasil. Mereka tidak seharusnya membiarkan sekumpulan burung bodoh memutuskan hasil dari kompetisinya. Tak sadar terhadap keraguanku, direktur telah memecahkan kuenya ke lantai untuk para “Penyuka Sharpie”. Lagi-lagi gagak-gagak itu menerkamnya dan menimbulkan kerusuhannya lagi. Sebagian mereka memakan dengan lahap, tetapi sebagainnya lagi memuntahkannya sembari berteriak, “Sharpie! Sharpie! Sharpie!” Dan sisanya lagi tidak dapat menjangkau kue, menjadi gila dan mulai menusuk leher burung-burung yang sedang makan. Darah bersemburan ke segala arah. Seekor gagak ada yang memakan kue bekas muntahan gagak sebelumnya, namun lagi gagak besar lainnya menghalanginya dan berteriak “Sharpie!” lalu menyobekkan perut burung yang hendak memakan kue tersebut. Setelahnya ini menjadi sebuah arena tarung, darah mengucur semakin banyak, dan amarah semakin memanas. Ini bersumber hanya karena kue yang tidak masuk akal, meskipun bagi burung-burung ini kue adalah segalanya. Entah itu Sharpie atau bukan hanyalah sejengkal antara hidup dan mati di mata mereka.

“Sekarang kau lihat perbuatanmu!” ucapku pada direktur. “Kau memberikan kue seolah tidak terjadi apa-apa di depan mereka. Ketegangannya begitu kuat.”

Kemudian, aku keluar dari ruangan sendiri, menuruni lift, dan meninggalkan gedung kantor Kue Sharpie. Aku membenci kalau aku kalah dua juta yen, tetapi aku tidak juga mau menghabiskan hidup bergantung pada gagak-gagak bodoh ini.

Mulai sekarang, aku akan membuat dan memakan makanan yang akan aku makan saja. Gagak-gagak Sharpie bodoh ini dapat membunuh satu sama lain hanya untuk sesuatu yang aku pedulikan.

 

 

 

Diterjemahkan dari cerpen Haruki Murakami berjudul The Rise and Fall of Sharpie Cakes dalam seri buku Blind Willow, Sleeping Woman.

 

 

Salam literasi!