Categories
Uncategorized

Menapaki Jejak di Selatan Jawa Barat (1)

Pangandaran

Berlibur merupakan sebuah kegiatan yang lumrah bagi setiap orang untuk melepaskan rasa penat dan jenuh dari keseharian monoton mereka. Termasuk saya, pencapaian dalam liburan ke suatu tempat menjadi keharusan dalam daftar bukan lain karena dilatarbelakangi oleh rasa penasaran pada suasana dan kondisi suatu tempat itu, entah itu tempat mainstream yang selalu menjadi primadona khalayak ataupun surga yang terkubur oleh sulitnya jalur untuk ditempuh. Dalam perjalanan ini berbagai kondisi alam telah dirasakan dan sebab itu tahu mengapa tempat tersebut dapat penuh oleh kerumunan atau dapat menjadi sangat sepi bak tak terjamah kehidupan. Sedikit spoiler saja, karena di daerah selatan berisikan pantai, sudah jelas yang akan dibahas secara umum adalah pantai, namun tidak menutup kemungkinan juga pada tempat lainnya.

Pantai Timur Pangandaran, Kec. Pangandaran, Kabupaten Pangandaran

Tepatnya 4 tahun lalu, saya memulai eksplorasi kecil-kecilan ini dengan dimulai dari sebuah pantai yang bagi hampir setiap orang sudah merasa familiar kala disebutkan namanya. Tempat ini pula kerap menjadi tujuan karyawisata anak sekolahan dari berbagai penjuru di Pulau Jawa tentunya. Mungkin daya tarik dari pantai ini ialah aksesnya yang begitu mudah karena dilintasi oleh jalan raya nasional menuju Provinsi Jawa Tengah. Tak hanya itu, kestrategisan ini juga dibantu dengan menjamurnya penginapan, rumah makan serta pusat oleh-oleh yang pastinya menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang berkunjung. Kalau dibilang pendapat pribadi, pantai ini lebih kurang sama seperti pantai biasa, tidak seeksotis halnya di Pulau Bali. Sekilas itulah impresi orang-orang terhadap Pantai Barat maupun Pantai Timur. Sayangnya kepopuleran pantai ini membuat akses menuju keindahan tersembunyi semakin sulit pada kendala keuangan. Bagaimana tidak, untuk menuju wilayah “kantong” yang memang tidak bisa ditembus oleh kendaraan sebab terjal dan dipenuhi hutan serta sungai yang memotong, mau tidak mau pengujung mengandalkan jasa perahu untuk mencapai tepat tertentu. Kebetulan saat itu, destinasi yang saya tuju adalah kawasan cagar alam yang mengarahkan kepada sebuah pantai terpendam lagi, yaitu Pantai Pasir Putih.

Pantai Pasir Putih, Kawasan Cagar Alam, Kabupaten Pangandaran

Rasanya benar-benar sayang sebuah keindahan semacam ini tidak terekspos kepada hampir seluruh pengunjung, padahal ini menjadi peluang lainnya untuk menikmati Pangandaran, tetapi bagaimana lagi, sekarang untuk menempuh ke tempat ini perlu mengeluarkan uang lagi.

Tasikmalaya

Setahun kemudian saya memutuskan untuk bergeser ke arah Barat. Tidak terlalu jauh juga dari tempat sebelumnya, menggunakan motor Mio yang kecil nan lihai menancapkan gas melintasi Jalur Lintas Selatan yang benar-benar sepi dari lalu-lalang kendaraan. Adapun itu juga hanya kendaraan penduduk sekitar yang notabene berpekerjaan sebagai petani, peternak, dan nelayan. Sebuah keadaan yang tidak bisa ditemukan di kawasan gunung atau perkotaan ketika sering melihat sebuah motor semiotomatis kerap berpapasan membawa hasil tangkapan laut serta pancing dan jaring dengan topi yang melingkar dan sepatu boots terkadang juga membawa rumput untuk pakan ternaknya. Aneh? Tidak juga bisa disangkutpautkan dengan sekitar. Lagipula saya lebih merasa aneh dengan jalur lintas ini yang berbeda dengan jalur utara atau Pantura, ialah jalur selatan dipenuhi oleh jembatan serta tanjakan selama perjalanannya. Inilah yang menguji kesetiaan shockbreaker Mio tercinta.

Pantai Cipatujah, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya

Dikarenakan waktu yang terbatas saat itu, maka saya memutuskan untuk menyambangi pantai yang setidaknya pernah cukup dikenal oleh masyarakat dan setelah melihat-lihat di dalam google maps dengan suasana pantai di Tasikmalaya lebih kurang serupa, sehingga akhirnya memilih pantai ini. Pantai Cipatujah dinamai berdasarkan nama daerah yang mengelilingi pantai tersebut. Berbeda dengan Pangandaran, kawasan ini benar-benar terlindungi oleh gunung-gunung serta bukit di sekitarnya. Seiring dengan perkembangan obyek wisata Pangandaran, dalam jangka panjang Pantai Selatan Tasikmalaya dapat menjadi pelengkap, atau paling tidak menjadi jalur alternatif wisatawan untuk menuju atau jalan pulang setelah dari pangandaran terutama bagi para wisatawan yang ingin mencari ketenangan, kalau dilihat mereka yang berkunjung di sini rata-rata hanya duduk memandang ombak dan hembusan angin laut. Penginapan dan rumah makan yang tersedia pun tidak begitu banyak mengingat hal tadi.

Memang keunggulan dari Pantai Cipatujah ini ternyata adalah ketenangan yang ditawarkannya. Di samping dari kondisinya yang terbilang biasa menurut saya, sunyi yang diberikan rasanya terbayarkan karena tidak terdapat dari pantai-pantai lain di sekitar. Mungkin karena besarnya ombak di sini, pada saat berkunjung tidak nampak satupun nelayan atau setidaknya kapal mereka yang menandakan hendak melaut.

Pantai Cipatujah sepertinya sangat ideal untuk pusat konservasi alam.

GARUT

Berselang satu tahun kemudian, bergeser pula ke wilayah sebelah. Namun pada perjalanan ini terbilang lebih unik sekaligus nyantai melalui jalur Pangalengan, Kabupaten Bandung di mana penuh dengan hamparan kebun teh dan dinginnya bukit-bukit yang menjulang tinggi. Hal yang berbeda juga dirasakan pada perjalanan ini karena disambut oleh hujan gunung. Siapapun tidak bisa menghindari hujan gunung ini, mungkin lain kali karena sudah tahu, siap sedia akan jas hujan. Setelah melewati hujan gunung dan dinginnya hembusan kabut, disuguhkan jalanan yang menurun tetapi menyempit serta rawan longsor. Ya, tanda tersebut menandakan sudah memasuki wilayah Kabupaten Garut. Melintas jalur ini hanya mengandalkan kondisi cuaca dan alam, jika berkunjung di tengah musim hujan, maka untung-untunganlah yang diandalkan antara dapat meneruskan perjalanan atau terhenti karena material longsor.

Berharap-harap segera menemukan laut, masih disambut kembali oleh bukit-bukit tak berkebun teh, melainkan sebuah alun-alun dengan warung di sekitar. Mengingat sedikit basah dan kedinginan akibat tadi, saya memutuskan rehat sejenak dan memesan cemilan untuk sebagai penghangat tubuh. Iseng-iseng menanyakan daerah ini, saya tahu banyak hal bahwa jalan utama ini merupakan jalan provinsi dan berada di atas bukit sedangkan perumahan warga ramai di bawahnya. Pantas saja memang tidak terlihat rumah-rumah selama melintas.

Alun-Alun Talegong, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut

Talegong nama daerah ini. Tepat di tulisan tersebut ialah jalan utama atau jalan provinsi yang disebut tadi walaupun separuhnya tertutup oleh tanah liat. Masih di atas bukit, Talegong di kelilingi jalan yang menurun bila mengarah ke selatan. Di tengah-tengah alun-alun tersebut terdapat gong besar lalu di sekitarnya terdapat kebun milik masyarakat sekitar yang tinggal di bawah bukit ini. Alun-alun ini terlihat jelas saat siang hari, namun mulai memasuki sore hari biasanya muncul kabut yang tebal dan dingin menutupi alun-alun.

Setelah merasa siap untuk melanjutkan perjalanan, saya menelusuri jalanan yang menurun dengan jurang di kanan, tebing di kiri. Tidak seperti Pangalengan, jalur ini mulai minim pencahayaan adapun lampu hanya satu hingga dua buah yang dibuat melalui inisiatif masyarakat sekitar menggunakan tiang berbahan dasar kayu. Jalanan semakin menurun semakin berkelok pula selain dari sempitnya jalur. Terkadang bila ada mobil atau truk yang melintas secara bersamaan, salah satunya harus mengalah dan mengantri. Apalagi saat itu jalanan masih penuh dengan lubang yang begitu dalam, demi keselamatan saya dan motor saya, harus pandai-pandai menghindari lubang, walaupun terkadang ketika jalanan penuh kendaraan menjadi suatu hal yang mau tidak mau masuk ke dalam lubang itu.

Berpegal duduk dan tangan, akhirnya jalanan menurun setidaknya tidak curam dan keloknya pun tidak tajam. Ditambah disambut dengan suasana persawahan dan air terjun di pinggir jalan menandakan bahwa ini merupakan daerah baru. Sedikit mengingat Geografi, sebagian besar batas daerah di Indonesia masih dibentuk oleh batas alam sehingga ketika kondisi wilayah berbeda maka dipastikan sudah berada di wilayah lain. Di sana mulai terlihat juga perumahan warga dan yang terpenting ada minimarket merah pula. Saya bergumam bahwa mungkin ini daerah khusus pemukiman. Selang beberapa meter di sebelahnya, saya menemukan suatu ikon yang dulu pernah viral di media sosial.

Patung Macan Koramil Cisewu, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut

Inilah bendanya, Patung Macan Cisewu yang pernah tenar karena rupa yang aneh sehingga mengundang gelak tawa kala melihatnya. Sayangnya ketika saya sampai di sini, patung tersebut telah diganti dengan patung macan yang gagah. Di sisi lain saya merasa sedih tidak dapat mengabadikannnya, namun di sisi lain pula merasa senang karena citra militer tidaklah untuk ditertawakan.

Saya terus meneruskan perjalanan meskipun pegal terasa, Cisewu tidak bersahabat dengan sinyal telepon saya, akhirnya mengandalkan panarosan ke masyarakat sekitar bahwa menurut keterangannya menuju kawasan pantai tinggal 1 jam lagi. Syukurlah.

Jalanan terus menurun hingga berakhir pada sebuah perempatan besar yang merupakan Jalur Lintas Selatan yang pernah dilalui dahulu. Di seberang ada jalan yang langsung lurus menuju Pantai Rancabuaya. Tempat tersebutlah yang menjadi sambangan saya pertama kali.

Pantai Rancabuaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut

Ketika memasuki kawasan pantai yang masih harus ditempuh sekitar lebih kurang 15 menit, angin hangat dan pohon-pohon kelapa menjadi kontras apa yang saya lihat di Cisewu penuh dengan hutan hijau yang lebat dan udara yang sejuk. Alih-alih mencoba menjadi masyarakat biasa dengan Mio, penjaga melihat plat nomor dan mengenakan biaya setara wisatawan. Tapi tidak apa. Setelah masuk ke pantai utamanya, dari gerbang sudah disambut oleh jalanan pasir pantai yang berarti sulit untuk berjalan karena pasti akan selip.

Kawasan pantai memukau mata saya dengan pasir putihnya yang bagi saya sendiri pertama kali melihat seperti ini. Di antara pasir-pasir tersebut tercampur kerang kecil berwarna-warni. Selain itu ombak pesisir pantai ini lebih tenang, mungkin karena kawasan ini dipenuhi oleh karang atau memang secara naturalnya. Pantai sebelah timur dipenuhi kapal-kapal nelayan yang hendak atau sedang berlayar, sedangkan sebelah barat terhampar kosong yang sepertinya memang diperuntukkan bagi wisatawan. Bibir pantai ini dibatasi oleh bukit karang yang besar di kedua arah. Saya dapat memberanikan diri untuk berenang di sini karena ombak kecilnya, untuk sekadar duduk pun sudah tersedia kursi dekat pohon di sekitar pantai. Pantai Rancabuaya cocok untuk spot foto ataupun liburan ke pantai dengan segala aktivitasnya.

Saya menghabiskan hari dan bermalam di pantai tersebut mengingat untuk melanjutkan perjalanan pun sudah cukup penat. Ada beberapa pengunjung juga yang bermalam sama seperti saya, mereka berkelompok dan melakukan acara bakar-bakaran, game, dan bernyanyi. Malam menjelang sekalipun pantai ini masih tetap hidup dan ramai.

Keesokan harinya saya melanjutkan kembali perjalanan di Jalur Lintas Selatan, tepatnya ke arah timur. Sebab Rancabuaya ini sudah berada di bagian Barat yang tidak jauh berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. Menurut maps, terdapat pantai yang lebih ramai pengunjungnya, 45 menit dari Rancabuaya, saya mengunjungi pantai bernama Pantai Santolo. Secara tiket masuk relatif sama sekitar 10 ribu rupiah.

Pantai Santolo, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut

Sama indahnya seperti Rancabuaya, Pantai Santolo menjadi primadona masyarakat Garut, karena terletak persis di tengah-tengah dari pusat kota Kabupaten Garut, Tarogong yang berjalur lurus. Karena hal itu juga, ketika memasuki kawasan pantai, banyak yang menawarkan penginapan sebab biasanya Pantai Santolo ini dijadikan tempat rekreasi bagi para pemuda-pemudi atau keluarga. Berbeda dengan Rancabuaya, Pantai Santolo tidak berkarakteristik penuh dengan karang di sela-sela pantainya, melainkan di sebelah timur. Hal ini pula bibir pantai ini begitu panjang ke arah sebelah barat. Ombak di pantai ini juga lebih besar dari Rancabuaya, namun masih terkontrol yang berarti banyak peselancar yang datang ke pantai ini untuk berselancar. Pantai Santolo tidak menjorok ke laut sehingga kedalaman ujung pantainya sedikit lebih dalam daripada Rancabuaya.

Siang menuju sore, saya memutuskan untuk menelusuri pantai ini. Ternyata terdapat pantai lagi yang berbeda. Meskipun perkiraan saya masih kawasan pantai Santolo. Namun tidak, tulisannya terpampang jelas, “Selamat Datang di Pantai Sanghyang Heulang”. Segera saya membuka ponsel untuk mengecek maps, didapati memang ini pantai yang berbeda. Apa mungkin karena dibatasi oleh sungai sehingga disebut pantai yang terpisah?

Pantai Sanghyang Heulang, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut

Akhirnya saya menikmati matahari terbenam di pantai ini. Terlihat indah. Setidaknya dalam 2 hari berarti saya sudah mendatangi 3 pantai sekaligus. Benar-benar sebuah perjalanan yang menyenangkan namun melelahkan.

Categories
Opini Uncategorized

[OPINI] Menjamurnya Bisnis MLM dan Seminar

Seringkali bahwa tidak dapat dipungkiri setiap berselancar di internet terutama di media sosial, menemui iklan-iklan yang serupa namun didasari oleh kepemilikan atau bersumber dari orang yang berbeda. Hal yang ditawarkan pada seminarnya yang anehnya berupa hal yang sama. Yaitu pengendalian marketing, perdagangan saham, dan multi level marketing atau MLM yang sudah tidak asing bagi masyarakat. Meskipun pada awalnya, pengiklanan suatu usaha baik produk maupun jasa terbilang sah-sah saja. Tetapi akhir-akhir ini, mungkin hanya spekulasi penulis semata, dengan adanya kasus pandemi yang tidak hanya menghilangkan ruang batas sosial, melainkan memberhentikan sebagian urusan perdagangan serta perekonomian untuk dialihkan ke sektor kesehatan ini bisa saja berdampak pada sebagian orang untuk berputar otak mencari penghasilan ketika tidak berkegiatan atau tidak ada aktivitas kerja sementara.

Capture

Contoh iklan seminar daring dengan mengambil sudut pandang UMKM

Pemberdayaan UMKM sudah seharusnya dilaksanakan sejak lama bahkan bantuan tangan dari Kementerian Koperasi dan UKM juga sepatutnya turut andil mengingat dalam implementasinya memerlukan biaya yang begitu besar. Teruntuk sang pengiklan, Anda menjadi salah satu contoh dari seberapa masifnya pengiklanan dalam bisnis seminar. Bukan semata-mata untuk menjatuhkan suatu usaha atau nama terkait. Hingga muncul sebuah pertanyaan, mengapa ketika baru muncul kasus pandemi yang melibatkan seluruh kalangan, pemberdayaan UMKM baru tersorot dan dilakukan seminarnya? Apakah selama ini mereka tak terlihat lantas ketika pandemi mereka meninggikan visibilitasnya? Ataukah adanya kelompok-kelompok tertentu yang ingin memanfaatkan ladang ini sebagai bisnis peralihan ketika ekonominya tertahan oleh pandemi? Muncul spekulasi demikian tak sebatas dari tebak-menebak sepintas, melainkan sebuah keanehan muncul secara cepat di mana kondisi seluruh orang terbatas ruang geraknya, dan bisnis ini muncul secara tiba-tiba. Sesuatu yang muncul tiba-tiba tentu menimbulkan sebuah kecurigaan karena mempersiapkan bisnis yang bertujuan menyejahterakan tak mungkin memakan waktu singkat dan dilakukan ketika pandemi berlangsung.

Oleh karena itu, spekulasi baru akibat spekulasi lama terus timbul dan berkembang. Melihat pelaksanaan seminar secara kasarnya hanya bermodalkan ucapan khusus yang mengerucut suatu bidang dan mempunyai nilai persuasif di dalamnya, lantas terlaksana sudah kegiatan itu. Akibatnya, muncul entrepeneur-entrepeneur ulung dari dalam bumi yang selama kemarin-kemarin kehadirannya entah di mana, meyakinkan bahwa mengikuti seminar atau kelasnya benar-benar gratis. Bila sesuatu gratis, sudah pasti pengunjunglah yang menjadi bahannya untuk mendulang pundi-pundi. Sehingga ketika sudah memasuki kelas tersebut terkadang diperlukan membayar “iuran” keanggotaan atau diprospek memasarkan barang-barang tertentu dengan target yang ketat tentunya agar sang teratas yakni si “entrepeneur ulung” tak kehilangan keuntungannya.

Terbayang bahkan oleh para pembaca, iklan lainnya mengadakan seminar bagaimana cara “membeli” perusahaan mi hanya dengan modal awal sebesar 100.000 Rupiah. Terkesan menjanjikan nan menggiurkan tentu saja, karena mereka mencari target pemasaran serta penghasilan mereka, yaitu para pengunjung seminar. Padahal sebenarnya yang dibeli ialah saham perusahaan tersebut. Itu pun harga perlembarnya memang saat ini berkisar 9650 Rupiah kalau tidak salah, sedangkan minimal pembelian harus per seratus lembar yang berarti harus membeli sekitar 965000 Rupiah. Nyaris mencapai 1 juta rupiah. Bagaimana sang pengunjung yang dari awal tidak mengetahui seluk-beluk ini? Pastilah terkaget. Ia tidak mempersiapkan uang sebanyak itu karena di iklannya memang dibilang hanya bermodal sebesar 100 ribu rupiah saja. Hal ini disebut sebagai istilah misleading yaitu memutarbalikkan fakta dengan fakta rekayasa baru. Secara tidak langsung, dapat dikatakan sebagai sebuah penipuan karena tidak menjanjikan apa yang sebenarnya ditawarkan sebelumnya.

Tak hanya itu, selain orang-orang menjadi pakar seminar dadakan, banyak pula yang membuka perusahaan trading atau perdagangan valuta asing yang memiliki risiko tinggi bila tidak pandai menguasai jual-beli. Membuat sebuah platform untuk melaksanakan perdagangan ini dinilai sama menguntungkannya dengan bisnis seminar, melainkan di sini harus bisa menggapai orang-orang untuk bertransaksi dan melakukan deposito uang mereka di platform tersebut di mana orang tersebut dibilang tidak tahu atau awam akan dunia transaksi sehingga kemungkinan kehilangan uang ini akan semakin besar. Uang di mana mereka kehilangan itulah dijadikan sebagai profit platform mereka. Sebelumnya pula pada pendaftarakan akun, pendaftar diminta mengirimkan foto swafoto mereka bersama foto KTP yang seharusnya dirasa mencurigakan dan aneh karena kedua foto tersebut dapat dengan rawannya disalahgunakan bila sembarang diberikan. Oleh sebab itu, menjamur platform-platform perdagangan baru tanpa izin dari OJK dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Apalagi di masa pandemi seperti ini, kondisi ekonomi global berada di kondisi tidak stabil sehingga melakukan perdagangan valuta asing hanyalah usaha merugikan diri sendiri.

Sebagian lagi tenggelam dalam dunia MLM berkedok bisnis syariah nan halal dengan menjual pil “penghemat” bensin. Mungkin secara umum banyak yang sudah tahu nama perusahaan di balik ini, sehingga tidak perlu diberi tahu kembali. Sesuai jenisnya, penjualan pil ini hanyalah sebatas formalitas saja. Bisnis utamanya ialah pencarian anggota sebanyak-banyaknya agar orang di atasnya mendapat bonus dari uang anggota yang direkrut tersebut. Tak belajar dari kesalahan lampau di mata ketika member perusahaan tersebut telah sangat banyak dan tidak dapat tertampung lagi, akhirnya anggota paling bawah dan paling baru serta paling banyak inilah yang menjadi imbasnya dari kerugian-kerugian di MLM. Selain itu ada pula jenis MLM baru dengan menawarkan hanya menonton video iklan saja dapat mendapat keuntungan berupa poin yang nanti dapat ditukar dengan uang. Lalu, letak MLMnya di mana? Tepat sekali, sistem poin itulah keberadaannya. Agar mendapat poin yang lebih banyak demi uang yang lebih banyak pula, terdapat syarat perekrutan orang agar bergabung kepada platform tersebut serta supaya bisa menikmati poin yang besar, maka perlu membayar sejumlah uang untuk membuka jenis poin tersebut. Ini berlaku pada anggota yang baru direkrut agar sang petinggi terus mendapat uang dari bawahannya. Namun, setiap skema MLM akan selalu menemui titik di mana orang sudah terlalu banyak dan tidak dapat menutup pembayaran lagi, di sanalah titik kehancuran segitiga ponzi tersebut.

Mengorbankan orang lain demi keuntungan pribadi tak hanya sekadar para penimbun masker, alat kesehatan, dan sanitasi. Dari segi ekonomi pun tak ayal sama rupa dengan keberadaan seminar-seminar yang muncul, kelas perdagangan daring, hingga MLM merupakan usaha menimbun uang tanpa memperhatikan kondisi yang sedang berlangsung saat ini. Kita, sebagai calon target objek penghasilan mereka, pintar-pintar dalam berpikir karena apa yang terkesan menjanjikan biasanya akan merugikan ke depannya. Bila melihat iklan-iklan tersebut cobalah untuk hindari, belajarlah untuk menolak ketika teman atau sanak saudara tiba-tiba mengajak untuk berbisnis atau hanya sekadar disuruh untuk menonton video. Mereka sedang mengincarmu untuk bonus mereka. Cermat dalam bertindak, manfaatnya berkelanjutan.

 

 

Salam literasi!

Categories
Opini Uncategorized

Pendidikan di Tengah Pandemi

presentation_kaigi_schoolboy

Pendidikan telah lama berada di tanah Ibu Pertiwi dari ia mengikat suatu kalangan karena tindakan kolonial, maupun dibangga-banggakan pula sebagai pelepas ikatan kolonial tersebut dengan menyongsong individu ke arah yang lebih cerah.

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberikan daya kekuatan.) Merupakan sebuah semboyan yang khas di telinga masyarakat kala menyambut tanggal 2 Mei.

Tatkala waktu itu sang Pahlawan Pendidikan sekaligus Menteri Pengajaran (kini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) mendirikan sebuah soko guru dari cikal bakal pendidikan Indonesia yang berdiri hingga saat ini yaitu bermula dari Institut Taman Siswa agar seluruh pribumi dapat mengenyam pendidikan tak terlepas dari ras ataupun tingkat kebangsawanan. Menyebarkan propaganda untuk integrasi bangsa juga tak luput dari perjuangannya yang menginginkan sebuah negeri merdeka. Apa yang kau tanam akan kau tuai. Perjuangan bangsa termasuk dirinya membuahkan hasil hatta ia diangkat menjadi pelopor pendidikan Indonesia.

Pendidikan tak hanya semata-mata mengajar dan mentransfer ilmu antarmanusia, melainkan pendidikan sejatinnya memanusiakan manusia agar beradab dan berakhlak yang baik sesuai cita-cita bangsa dan negara. Tak lupa akan UU No. 20 tahun 2003 yang selalu melekat bahwa Pendidikan ialah bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Namun, tak ayal pula melihat masih rimpangnya pelaksanaan pendidikan di Indonesia hingga masa sekarang, masa yang telah merdeka, masa di mana seharusnya seluruh kalangan dapat mengenyam pendidikan tanpa terkecuali. Bila harus menyalahkan sesuatu, seluruh masyarakat berbagai kalanganlah termasuk diri ini patut dipertanyakan andilnya dalam pendidikan negeri yang telah diberikan berupa apa. Sebab permasalahan ini yang tengah dirasakan merupakan hasil buah tangan rakyat sendiri. Pendidikan dijalankan dan diatur oleh seluruh individu tak hanya guru, siswa, ataupun pemerintah yang terkesan mencolok, tetapi sebagai masyarakat yang melingkupi apakah kepedulian terhadap pendidikan telah tercurahkan? Atau sekadar mengeluh karena ”tidak bisa”nya untuk memperoleh pendidikan? Ataukah ketika diberi pendidikan hanya digunakan untuk berleha-leha? Semua jawaban kembali kepada diri masing-masing.

Harus kita akui memang baik negara ataupun pendidikan masihlah tak dapat dibilang sebagai sesuatu yang sempurna. Oleh karena itu, tugas kita semualah yang membuatnya sempurna, membuatnya tak lagi dipandang remeh sebagai formalitas, membuatnya menjadi sebuah roda penggerak dan pembangun bangsa dan negara. Apalagi di tengah halangan karena kondisi pandemi yang mengurangi ruang gerak kita. Pendidikan memiliki ruangnya tersendiri. Pendidikan Maha Luas. Tak terbatas tempat dan waktu, segala sesuatu yang dialami oleh individu sepanjang hidupnya selama ada pengaruh lingkungan, berupa pengalaman hidup yang bersifat positif yang dapat membawa pelajaran bagi individu yang mengalaminya, serta berlangsung dalam segala lingkungan hidup, baik yang diciptakan ataupun ada dengan sendirinya, baik yang terprogram ataupun tidak disengaja.

Proses pendidikan harus tetap berjalan sebagaimana semestinya di hari-hari biasa. Ditambah Kementerian mendukung pula sarana memperoleh ilmu melalui internet dan televisi sehingga tidak menjadi alasan terhentinya pendidikan. Dengan berada di rumah, kita memiliki banyak waktu untuk menyentuh buku-buku yang kita peroleh namun selalu luput dari sentuhan dan perhatian kita. Selain itu, jika tidak menyukai pelajaran-pelajaran yang terprogram, kita dapat mengembangkan potensi minat dan bakat diri kita selama di rumah akan lebih intens dan teratur yang merupakan salah satu unsur pendukung tujuan pendidikan. Oleh karena itu, jangan menyerah untuk membangkitkan pendidikan nasional, ketika negara ini berkembang pesat, itu pula merupakan hasil dari yang kita lakukan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

 

Categories
Opini Uncategorized

Tren VTuber (Virtual Youtuber) Merambah Indonesia

Ranah media sosial terutama YouTube dan Facebook kini sedang hangat-hangatnya akan perbincangan mengenai para pelaku hiburan virtual di kedua platform baik Youtube ataupun Bilibili yang sama-sama merupakan media penayangan video.

Sebelumnya, apa itu VTuber atau Virtual Youtuber? Menurut lansiran Wikipedia, bahwa “YouTuber yang diwakili oleh avatar digital yang dihasilkan oleh grafik komputer yang merupakan karakter fiksional 2D maupun 3D yang menjalankan kanal YouTube. Sebagian besar karakter terkesan imut/jejepangan/anime dengan menggunakan teknologi pencitraan hasil komputer yang mampu menghasilkan karakter 3D maupun 2D menjadi seolah-olah hidup dan mampu berinteraksi seperti mimik wajah, ekspresi dan lain-lain.” Meskipun begitu, tidak sepenuhnya pengoperasian karakter berlangsung virtual, melainkan terdapat orang yang berada di latar belakang mengendalikan karakter melalui aplikasi pendeteksi gerak.

Penayangan konten yang diberikan oleh VTuber ini hampir sama dengan Youtuber pada umumnya, seperti bermain game, menyanyikan musik, berbincang dengan penontonnya, ataupun mengiklankan suatu jasa atau produk yang berafiliasi dengan mereka.

inugami-korone-spesifikasi-pc-virtual-youtuber-1

Ilustrasi VTuber dari Jepang bernama Inugami Korone sedang bermain game

Konsep VTuber ini diusung pertama kali dari Jepang oleh karakter bernama Eilene yang melakukan debut channel-nya pada 3 Maret 2014 dengan sebuah proyek bernama Mirai Akari yang diceritakan bahwa ia merupakan gadis berusia 20 tahun yang bercita-cita menjadi seorang animator dan berkeinginan memiliki seri animasinya sendiri. Kemudian dipopulerkan kembali konsep yang serupa oleh karakter bernama Kizuna Ai dari agensi Upd8 memulai debut tayangnya pada tanggal 29 November 2016 yang membawakan konten menarik berupa konten lets play game serta konten-konten abstrak namun mengundang gelak tawa bagi penontonnya tersebut merebut perhatian banyak orang yang membuat mereka betah menonton konten miliknya, baik pengguna YouTube dari Jepang maupun mancanegara. Saat ini ia telah memiliki 2,7 juta subscriber dari seantero mancanegara dan Jepang dan dijadikan sebagai duta pariwisata untuk memperkenalkan Jepang oleh Pemerintah Jepang ditambah dengan endorse yang masif. Populernya VTuber di Jepang pada November 2017 bukan hanya karena Kizuna AI saja, tetapi karena ada VTuber-VTuber yang lain, diberi panggilan 四天王 (baca: shitennou, lit. the big four) yaitu Kaguya Luna, Mirai Akari, Shiro, dan Nekomasu.

Sedangkan di Indonesia sendiri masuknya konsep VTuber baru pada awal tahun 2018, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 2018 silam oleh seorang karakter bernama Maya Putri. Konsep konten yang dibawakannya terbilang cukup berbeda dengan VTuber di Jepang. Channel-nya menyajikan tak hanya lagu yang dinyanyikan olehnya, melainkan terdapat vlog di mana salah satunya ia menyambangi kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

inugami-korone-spesifikasi-pc-virtual-youtuber-1

VTuber Maya Putri mendatangi kawasan Kota Tua, DKI Jakarta

Tak hanya vlog, Maya Putri kerap kali melakukan tukar bahasan dengan para penontonnya dan menyediakan pembelajaran bahasa Jepang di channel YouTube-nya. Maya Putri semakin terkenal semenjak dirinya hadir mengadakan mini konser di acara konvensi kebudayaan pop Jejepangan C3AFAID 2018. Dirinya pula sempat mengadakan live streaming di acara ulang tahunnya 11 November 2018 silam. Dimana 1300 penonton lebih menonton siaran langsung tersebut. Selain itu, masih ingat terhadap Ipo-chanMoefikasi dari Internet Positif yang dilakukan oleh Kemkominfo ternyata ikut terjun ke dalam dunia VTuber dan masih aktif membuat konten video hingga saat ini.

Sempat meredup beberapa waktu, jagat VTuber kembali mencuat setelah adanya agensi baru yang mengambil konsep VTuber yaitu Cover corp dengan mengusung konten idol bernama Hololive yang berisikan beberapa VTuber di dalam grup tersebut mulai mengisi platform YouTube pada 13 Juni 2019, meskipun sebelumnya telah ada grup bernama Inozaka Music yang berorientasi pada musik dengan berisikan channel VTuber AZKi. Sedangkan untuk idol laki-laki menggunakan istilah Holostars. Walaupun pada kenyataannya konsep idol ini keluar dari jalurnya dan penuh oleh jenaka para anggota Hololive saat melakukan streaming, entah itu mengajak berkelahi CEO Hololive, Motoaki Tanigo yang terkenal dengan istilah YAGOO; Melakukan ASMR, hingga memproduksi anime singkat berjudul Holografitti dan Tugas Miko di saluran resmi Hololive. Animo yang besar ini mengundang perhatian penonton tak hanya dari Jepang melainkan hingga mancanegara. Bahkan tak tanggung-tanggung, Hololive membuka cabang untuk Tiongkok dan Indonesia di mana Ayunda Risu, Moona Hoshinova, Airani Iofifteen merupakan anggota dari Hololive Indonesia.

93303570_151631079661867_7026632256500269056_o

Anggota grup VTuber Hololive termasuk Holostars dan cabang mancanegara

Saat ini selain Hololive yang berkonsep idol yang diusung Cover corp, terdapat juga agensi yang sama besarnya saat ini namun berorientasi dengan entertainmen yaitu Ichikara corp dengan grup bernama Nijisanji. Sama dengan halnya Hololive, Nijisanji memiliki basis penonton yang besar yang tersebar di seluruh antero Jepang dan luar negeri. Sehingga tentu saja agensi ini memperlebar sayapnya juga ke luar negeri dengan membentuk Nijisanji KR dari Korea Selatan, Nijisanji IN dari India, dan Nijisanji ID dari Indonesia dan telah memulai dahulu pada tahun 2018. Setahun sebelum Hololive. Merujuk hal tersebut pula, jumlah anggota di Jepang saja sudah terhitung sebanyak 99 anggota aktif Nijisanji JP, 17 VirtuaReal, 10 anggota NIJISANJI ID, 3 anggota NIJISANJI IN, dan 9 anggota NIJISANJI KR. Jumlah yang lebih unggul dibandingkan Hololive. Meskipun begitu, kedua grup ini berkegiatan berdampingan bahkan pada suatu waktu beberapa di antara anggota Hololive melakukan stream bersama dengan anggota Nijisanji, vice versa.

Nijisanji_Lineup_March_2020

99 anggota Nijisanji JP yang terlihat banyak sekali

Mengapa VTuber ini bisa menjadi tren hangat di media sosial? Selain karena pembawaan konten yang menarik dan menghibur sehingga merebut perhatian para penontonnya, karakter yang dibawakan secara banyak ini tidak membuat bosan dengan konten utama yang berbagai macam jenisnya tinggal menyesuaikan dengan preferensi penontonnya; Timbulnya hubungan erat dengan penonton, menjadi andalan lainnya dari VTuber ini. Melalui adanya pojok surat penonton yaitu Marshmellow, terkadang VTuber membacakan live chat atau superchat yang berlangsung dan menjawabnya. Ditambah di antaranya sering bermain game bersama penontonnya secara langsung. Dengan segala hal-hal tersebut menyangkut hubungan interpersonal sehingga menumbuhkan pula rasa kekeluargaan dengan penontonnya ataupun sesama VTuber lain berkesan baik VTuber dan penontonnya adalah keluarga besar yang erat.

Oleh karena itu, VTuber merupakan sebuah wadah penghubung antarindividu sekaligus menyediakan entertainmen yang dapat mengisi hari-hari selayaknya film atau kartun yang telah diatur sebelumnya, sedangkan ini bersifat langsung-nyata atau realtime dan berlangsung secara kontinu sekalipun di luar stream melalui media sosial VTuber tersebut, yang pada akhirnya menciptakan hubungan tertentu yang tercipta antara VTuber dan penontonnya, kemudian penonton pun merasa nyaman dan lebih sering membicarakan VTuber dalam usaha meningkatkan hubungan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi:

Abraham, D. J. (2019). The Big Four, Asal Usul dari Trend Virtual Youtuber di Jepang. [Daring]. Diakses dari https://japanesestation.com/anime-manga/v-tuber/the-big-four-asal-usul-dari-trend-virtual-youtuber-di-jepang.

Cover Corporation. (2019). VTuber事務所ホロライブ3期生「ホロライブファンタジー」オーディション実施のお知らせ. [Daring]. Diakses dari https://prtimes.jp/main/html/rd/p/000000073.000030268.html.

Ichikara Corporation. (2019). VTuberコミュニティサービス「にじさんじネットワーク」始動!VTuberを「流行り」から「文化」へ。[Daring]. Diakses dari https://prtimes.jp/main/html/rd/p/000000063.000030865.html.

Kikitondo. (2018). VTuber, 5 YouTuber Super Kreatif yang Mengandalkan Kemajuan Teknologi. [Daring]. Diakses dari https://www.idntimes.com/tech/trend/andi-muhammad-rizki/vtuber-youtuber-yang-mengandalkan-kemajuan-teknologi-c1c2/5.

 

 

 

Salam literasi!

Categories
Opini Uncategorized

WAJARKAH KEBERADAAN ORMAS DALAM KAMPUS?

Tulisan ini tidak berusaha mendiskreditkan pihak manapun melainkan hanya mempertanyakan sebuah fungsi serta peran organisasi masyarakat dalam lingkungan pendidikan tinggi.

Kelut perpolitikan kampus sudah diwarnai semenjak masa orde lama di mana peran mahasiswa sebagai agent of change dan social control ini tercetus dalam salah satu peristiwa di kampus Universitas Indonesia oleh Soe Hok Gie yang pada tahun 1969 berani mengungkap bobroknya pengelolaan anggaran kampus saat itu yang disinyalir oleh timbulnya korupsi dan mengkritisi campur tangan organisasi masyarakat atas kebuntuan dalam masalah kemahasiswaan di UI.

Campur tangan yang terjadi ini tentu saja dikhawatirkan akan mengubah sebuah orientasi perpolitikan kampus di mana mahasiswa memiliki hak dan kewenangan dalam berpolitik secara terpisah dari politik luar yang melibatkan segala unsur masyarakat. Selain itu, masuknya perpolitikan dari luar akan mengancam pelaksanaan pendidikan di lingkungan kampus dengan ikut terbawanya suatu ideologi ke ranah pendidikan sehingga memungkinkan muncul suatu paham bertentangan dengan tujuan pelaksanaan pendidikan bahkan tujuan negara yang berodakan pada Pancasila.

Ketakutan akan campur tangan tersebut masih relevan hingga masa sekarang dengan dapat ditemuinya percabangan suatu organisasi masyarakat dengan ranah khusus pelajar dan mahasiswa. Tingkat yang setara dengan organisasi mahasiswa kampus serta penjabaran tujuan dan pelaksanaan yang dapat meyakinkan pihak kampus, menjadikan organisasi masyarakat dapat melenggang masuk ke perguruan tinggi. Padahal kekhawatiran tersebut sudah lama dirasakan dan ditemui terdapat campur tangan oleh aktivis kampus Universitas Indonesia semasa lama dahulu. Ditambah jika suatu organisasi masyarakat dapat berdiri di sebuah lembaga pendidikan, kemungkinan akan organisasi masyarakat lainnya merasakan sebuah kecemburuan dan ingin berdiri di tempat yang sama tersebut membuat kampus akan rentan oleh penyusupan oknum atau pemikiran terlarang yang berusaha mendoktrin warga kampus.

wow-ada-344039-organisasi-masyarakat-di-indonesia

Ilustrasi Organisasi Masyarakat (Ormas) (Sumber: kedaipena.com)

Peran serta pihak akademisi kampus dalam pengawasan organisasi yang tengah berdiri di dalam lembaga pendidikan ini menjadi suatu keharusan. Tak hanya memandang dari visi atau misi yang sebenarnya bisa jadi formalitas atau sekadar suratan saja, sedangkan pada pelaksanaannya mungkin bisa di luar dari tujuan tersebut tidak terlepas organisasi tersebut berorientasi ideologi, lembaga swadaya, ataupun agama haruslah mendapatkan perlakuan yang sama. Bila dirasa kampus tidak sanggup menahan pengawasan tersebut, sebaiknya dilakukan pembatasan hanya sebatas organisasi mahasiswa saja yang dapat berada di lingkungan kampus.

Seperti contoh, ITB melarang seluruh kegiatan organisasi masyarakat di lingkungan lembaga tersebut. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Akademik ITB, Bermawi Priyatna, Jumat, 12 Mei 2017 yang menyatakan bahwa Institut Teknologi Bandung (ITB) melarang kegiatan dan organisasi kemahasiswaan yang menginduk pada organisasi masyarakat, sosial, maupun politik manapun. “Termasuk organisasi di dalam dan luar negeri,”. Tindakan tersebut semata-mata bukan merupakan sebuah kebencian melainkan tindakan preventif dari masuknya unsur serta paham yang merugikan ke dalam kampus tersebut.

Keberadaan organisasi masyarakat di dalam kampus juga akan menimbulkan kesan dualisme terhadap organisasi di mana terbentuk pembatas antara organisasi mahasiswa (ormawa) dengan organisasi masyarakat yang diusung oleh unsur di luar kampus. Masuknya organisasi masyarakat ke dalam kampus seakan mengucilkan organisasi mahasiswa yang memiliki ruang gerak terbatas dan tidak dapat menjangkau ranah luar kampus, namun sebaliknya ranah luar kampus cenderung terlihat dapat menjangkau ke dalam. Serta di sisi lain akan memunculkan sebuah pertanyaan, bila terdapat ormawa dan ormas yang memiliki visi dan misi yang sama, lantas apa yang membedakan mereka? Bukankah dengan kondisi tersebut, ormawa mendapatkan tempatnya dan  berarti tidak bisa ditempati oleh ormas? Seolah ormas memiki sebuah hak otoritas di dalam kampus yang mengalahkan ormawa itu sendiri.

Sejatinya sudah perlu ditegaskan kembali akan peran antara organisasi masyarakat dan organisasi mahasiswa di mana mereka memiliki ranah dan jangkauannya masing-masing. Mahasiswa dapat bergabung dengan organisasi masyarakat ketika ia memang berada di masyarakat dan sebagai bagian masyarakat bukan sebagai pelajar. Jika ingin mengikuti perpolitikan kampus, maka mahasiswa tersebut dapat membentuk atau bergabung dengan organisasi mahasiswa yang terpisah tanpa unsur individu majemuk tentunya. Pihak kampus pula dituntut untuk tegas akan pelaksanaan dan pengawasan kegiatan organisasi di dalam kampus jangan sampai orang di luar kampus dapat memainkan roda perpolitikan yang ada di dalam kampus. Lembaga pendidikan tinggi ini sudah memiliki otonominya tersendiri untuk aktif dalam perpolitikan negara.

Sehingga ke depannya kampus akan menjadi sebuah lembaga pendidikan yang memiliki hak tersendiri dalam berpolitik tanpa perlu diatur-atur oleh orang luar yang tidak berkepentingan dan berpotensi merusak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi:

Sitompul, M. (2018). Soe Hok Gie dan Para Penyusup di UI. [Daring]. Diakses dari https://historia.id/politik/articles/soe-hok-gie-dan-para-penyusup-di-ui-PRygQ.

Siswadi, A. (2017). ITB Larang Aktivitas Ormas di Kampus, Termasuk HTI. [Daring]. Diakses dari https://nasional.tempo.co/read/874764/itb-larang-aktivitas-ormas-di-kampus-termasuk-hti.

Categories
Opini Uncategorized

Sindrom Sazae-san: Salah Satu Ciri Penyakit Mental?

Ilustrasi Sindrom Sazae-san pada individu di Hari Minggu Siang dengan Minggu Malam.

Mungkin bagi sebagian orang istilah ini baru masuk ke telinga pertama kalinya dan bertanya-tanya apa itu Sindrom Sazae-san? Pasti penyakit orang Jepang. Setengah benar setengah kurang tepat. Sindrom ini bisa menjangkiti siapa saja terlepas dari unsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). Namun, lebih sering di jumpai pada individu Jepang yang terkenal dengan jam kerja yang begitu ketat dan disiplin terhadap waktu.

Apa itu Sindrom Sazae-san? Sazae-san sendiri merupakan seri animasi keluarga sejenis seperti Ninja Hattori atau Kobo-chan. Seri ini pertama kali tayang pada tahun 1969 hingga sekarang di TV Tokyo pada pukul 6.30 Malam. Menjadikan sebuah seri animasi terlama dengan sekitar lebih kurang 7000 episode selama 51 tahun lamanya. Seri ini juga sebuah tanda akan berakhirnya hari Minggu atau akhir pekan.

Munculnya sindrom ini diakibatkan karena seseorang yang bekerja selama 5 hari kerja merasa begitu lelah dan memutuskan untuk beristirahat di akhir pekan. Oleh karena kelelahan ini pula, orang tersebut cenderung meremehkan hari Sabtu dengan menghabiskan waktunya lebih sering di atas kasur atau futon menonton film atau bermain ponsel tanpa mempersiapkan diri untuk menyongsong datangnya Hari Senin. Orang tersebut biasanya menyadarinya saat ending credit dari Sazae-san telah berputar tanda Hari Senin akan datang.

Biasanya orang tersebut akan mulai merasakan sebuah kecemasan akan datangnya Hari Senin dengan sebuah pemikiran “Ah, besok udah Senin lagi, kapan istirahatnya, males banget.” menyebabkan orang tersebut sulit untuk tidur ataupun berpikir jernih karena tertutupi mindset harus segera mengerjakan tugas kantor, menemui klien atau bagi pelajar harus mengerjakan tugasnya untuk esok hari. Ditambah sebuah pikiran bahwa Hari Senin memberatkan mereka karena harus pergi ke kantor atau sekolah.

Akhirnya berpengaruh pada kondisi psikis orang tersebut yang muncul setiap hari Minggu malam. Sindrom ini mendorong stimulus pikiran untuk menggerutu, sulit beranjak dari kasur, sulit bangun pada keesokan harinya yang berujung pada keterlambatan untuk pergi ke sekolah atau ke tempat kerja dengan kondisi terparah penderita sindrom ini memutuskan untuk bolos. Timbulnya sikap tergesa-gesa pada individu tersebut dapat menimbulkan kelupaan akan sesuatu saat kembali beraktivitas di hari Senin. Keadaan yang terus berulang-ulang ini dapat memicu seseorang terkena penyakit mental lainnya seperti kecemasan yang berlebih (anxiety) bahkan merasa timbul depresi di setiap Minggu malam hingga Senin paginya.

Sindrom ini di dunia Barat lebih dikenal dengan Blue Monday atau Senin Biru yang biasa menjangkiti individu sebagai ‘hari paling suram sepanjang tahun’, jatuh pada 15 Januari tahun ini – istilah yang sudah diperdebatkan sejak 13 tahun silam. Menurut Dr Philip Clarke, seorang dosen psikologi di Universitas Derby, Amerika Serikat mengatakan, “Senin Biru berhasil membuat orang-orang mengutarakan kondisi depresi dan kecemasan mereka serta membagikan cara mengatasi kondisi tersebut. Saya pikir ini adalah suatu kesempatan besar.” Namun kondisi ini tergolongkan hanya muncul sebagai anual atau setahun sekali ketika libur musim dingin dan natal berakhir. Oleh karena itu, mengapa penyebutan Senin Biru dirasa kurang relevan menyangkut periode kejadian di mana Sindrom Sazae-san terjadi seminggu sekali.

Sindrom Sazae-san biasanya terjadi dengan gejala: rasa tidak semangat dan percaya diri untuk keesokan hari, hilangnya motivasi dalam mengerjakan sesuatu, menangis secara tiba-tiba, sakit kepala, insomnia, perubahan emosi secara cepat, kurangnya nafsu makan hingga timbul demam.

Cara menghindari Sindrom Sazae-san ialah dengan mempersiapkan diri sejauh-jauh hari sebelum datangnya akhir pekan yang dapat digunakan sepenuhnya untuk istirahat atau me time; Hindari hal-hal yang dapat memunculkan negativitas diri seperti mood down, rasa patah hati, dll; Berusaha bangkit dari kemalasan, setidaknya memunculkan mindset ”rajin untuk santai atau kerjakan untuk rebahan”; Lakukan kegiatan yang menimbulkan kesenangan pada akhir pekan (misal: touring, hangout, menonton film komedi, dll.).

Dengan menghindari Sindrom Sazae-san, kita berarti mengambil salah satu langkah untuk jiwa yang sehat dengan menjauhi salah satu penyebab kecemasan dan depresi. Serta meringankan tugas yang ditujukan pada hari Senin nantinya. Sehingga kita pula dapat siap menyongsong hari Senin dengan semangat dan tenang tanpa pikiran yang memberatkan. Maka istilah I hate Monday atau Besok Senin sudah tidak relevan lagi bagi diri kita, melainkan istilah Besok Senin? Gue sih santai aja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi:

Bhatt, Z. (2018). Senin Biru: Istilah yang paling dicemaskan organisasi kesehatan mental. [Daring]. Diakses dari https://today.mims.com/senin-biru-yang-dicemaskan-organisasi-kesehatan-mental.

What is Sazae-san Syndrome? (2020). [Daring]. Diakses dari https://manabink.com/en/2020/04/13/what-is-sazae-san-syndrome/.

実は簡単!「サザエさん症候群」を防ぐ休日の過ごし方. (2020). [Daring]. Diakses dari https://woman.mynavi.jp/article/7447651-2/.

[サザエさん症候群」とは?実体験にもとづいてその症状と対策を解説. (2018). [Daring]. Diakses dari https://tenshoku-web.jp/sazae-syndrome/.

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

TELUK HANALEI (1)

Sachi kehilangan anak kesayangannya yang berumur 19 tahun oleh terkaman seekor hiu besar saat mereka tengah berselancar di Teluk Hanalei. Secara jelasnya, penyebabnya bukanlah karena terkaman hiu yang membunuhnya. Jauh dari ujung pantai ketika binatang itu merobek kaki kanannya, ia lalu panik dan tenggelam. Tenggelam, merupakan penyebab kematian utamanya. Hiu itu juga nyaris membelah papan selancar miliknya. Hiu-hiu sama sekali tidak tertarik terhadap daging manusia. Kebanyakan pada gigitan pertama mereka, mereka langsung merasa kecewa dan pergi begitu saja. Inilah mengapa banyak orang yang kehilangan kaki atau tangannya, namun mereka dapat selamat selama tidak panik. Sedangkan pada putra Sachi, meminum air laut dalam jumlah besar ditambah serangan jantung kala itu lalu tenggelam.

Ketika pemberitahuan datang dari konsulat Jepang di Honolulu, Sachi hanyut dalam syok yang diterimanya. Pemikirannya langsung kosong sehingga tidak dapat lagi berpikir. Yang dapat dilakukannya hanyalah duduk termenung menatap dinding. Entah berapa lama ini berlangsung, ia tidak tahu. Namun, alhasil kesadarannya kembali pulih setidaknya untuk melihat nomor penerbangan dan melakukan pemesanan kursi pesawat tujuan Hawaii. Staf konsulat telah mendesaknya untuk datang sesegera mungkin agar dapat mengidentifikasi korban di mana masih terdapat kemungkinan bahwa itu bukanlah anaknya.

Dikarenakan pada waktu itu masih dalam musim liburan, seluruh kursi sudah dipesan untuk hari itu dan keesokan harinya pula. Seluruh maskapai memberitahunya hal yang sama, tetapi ketika ia menjelaskan situasi yang terjadi, resepsionis maskapai United mengatakan, “Segera pergi ke bandara secepat mungkin. Kami akan mencarikan kursi untukmu.” Sachi mengemas barangnya di sebuah tas kecil dan pergi menuju Bandara Narita, di mana perempuan yang bertugas saat itu memberikannya tiket dengan kelas bisnis. “Ini yang kami punya untuk hari ini, tetapi kami akan memberikan biaya seharga kelas ekonomi,” ucapnya. “Ini pasti sulit bagimu. Berusahalah tegar.” Sachi berterima kasih kepadanya karena sangat menolong dirinya.

Seketika ia sampai di Bandar Udara Honolulu, Sachi menyadari bahwa dirinya sangat kesal karena lupa mengabarkan kepada konsulat Jepang mengenai waktu ketibaannya. Seorang anggota konsulat seharusnya menemani dirinya menuju Kauai. Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kauai sendiri daripada harus berurusan dengan rencana yang terbilang kompleks. Ia berasumsi bahwa kondisi masih seperti seharusnya ketika ia sampai di sana. Penerbangannya sampai di Bandar Udara Lihue di Kauai sebelum siang hari. Ia lalu menyewa mobil di konter bandara tersebut dan pergi ke pos polisi terdekat dari dirinya. Di sana, ia mengatakan bahwa ia baru saja datang dari Tokyo setelah mendengar kabar anaknya terbunuh oleh hiu di Teluk Hanalei. Seorang polisi yang memakai kacamata dan memiliki uban mengarahkannya ke kamar mayat yang terlihat seperti penyimpanan dingin, dan menunjukkan tubuh anaknya dengan kaki yang telah lepas salah satu. Segala di bawah dengkul kanannya telah habis, dan tulang putih pucat menonjol dari dalam. Ini merupakan putranya– sudah tidak ada keraguan lagi. Wajahnya menunjukkan tanpa ekspresi seperti terlihat ketika ia sedang tertidur. Sachi dapat saja berkelit akan kematian anaknya. Seseorang bisa saja menyiapkan tubuh seperti ini. Ia tampak seolah-olah, bila digoyangkan pundaknya akan bangun dan memprotes seperti yang dilakukannya sehari-hari di pagi hari.

Di ruang lain, Sachi menandatangani dokumen berisikan pernyataan bahwa tubuh tersebut merupakan anaknya. Seorang polisi menanyakan apa yang akan dilakukan olehnya selanjutnya. “Aku tak tahu.” ucap Sachi. “Apa yang biasanya orang lakukan?” Mereka biasanya mengkremasi dan membawa abunya ke rumah, balas polisi padanya. Ia bisa saja meminta dibawakan tubuh ini ke Jepang, tetapi ini memerlukan sebuah rencana yang sangat sulit dan lebih mahal tentunya. Kemungkinan lainnya adalah menguburkannya di Kauai.

“Tolong kremasi dia,” kata Sachi. “Aku akan membawa abunya ke Tokyo bersamaku.” Putranya telah mati. Tidak ada sebuah harapan membawanya ke kehidupan ini lagi. Apa bedanya antara abu atau tulang-belulang ataupun sebuah jasad? Ia menandatangi juga persetujuan kremasi dan membayar biaya yang diperlukan.

“Aku hanya punya kartu American Express,” pungkas Sachi.

“Itu tidak apa-apa,” tandas petugas.

Di sini aku, membayar pengkremasian anakku dengan kartu American Express, pikir Sachi. Sebuah perasaan yang aneh baginya, seaneh bahwa anaknya telah dibunuh oleh seekor hiu. Proses kremasi akan berjalan esok pagi, petugas kepolisian itu berkata padanya.

“Bahasa Inggrismu sangat bagus,” ucap sang petugas seraya menaruh dokumen agar tertata. Ia merupakan seseorang berdarah Jepang-Amerika bernama Sakata.

“Aku tinggal di AS cukup lama semenjak kecil,” kata Sachi.

“Pantas saja,” balas petugas tersebut. Kemudian ia memberikan barang-barang milik putranya: pakaian, paspor, tiket pulang, dompet, Walkman, majalah, kacamata, alat cukur. Seluruh barang itu muat dalam tas Boston kecil. Sachi lalu harus menandatangani lagi penyerahan barang ini.

“Apakah kau memiliki anak lain?” sang petugas bertanya.

“Tidak, ini anakku satu-satunya,” balas Sachi.

“Suamimu tidak berencana?”

“Suamiku telah meninggal semenjak lama.”

Petugas tersebut mengeluarkan napas yang dalam. “Maafkan saya telah bertanya. Mohon beritahu saya bila ada yang ingin dibantu kembali.”

“Saya berharap untuk bisa diantarkan menuju tempat di mana putra saya meninggal. Dan di mana ia tinggal. Saya rasa ada biaya hotel yang harus dibayar. Dan saya perlu untuk menghubungi konsulat Jepang di Honolulu. Bolehkah saya meminjam ponsel Anda?”

Petugas itu memberikannya sebuah peta dan menandai tempat di mana anaknya berselancar dan lokasi hotel di mana ia menetap. Sachi bermalam di sebuah hotel di Lihue yang telah disarankan oleh petugas polisi tersebut.

Setelah Sachi meninggalkan pos polisi, petugas polisi paruh baya Sakata berkata padanya, “Aku punya permintaan personal kepadamu. Alam dapat mengambil nyawa manusia mulai sekarang dan seterusnya di sini di Kauai. Kau bisa melihat indahnya pulau ini, tetapi terkadang, pulau ini dapat liar dan mematikan. Kami hidup di sini dengan kemungkinan tersebut. Aku turut berduka mendengar kematian putramu. Aku dapat merasakannya. Namun, aku berharap kau tidak akan membenci pulau ini. Ini mungkin terdengar mementingkan diri sendiri bagimu setelah melewati semua ini, tetapi aku benar-benar bermaksud sebenarnya. Dari dalam hati ini.”

Sachi mengangguk padanya.

“Kau tahu, adik laki-lakiku meninggal dalam perang pada tahun 1944. Di Belgia, dekat perbatasan Jerman. Ia merupakan anggota dari Resimen Perang 442 yang terdiri atas tenaga sukarela keturunan Jepang-Amerika. Mereka di sana untuk menyelamatkan batalyon Texas yang terkepung Nazi ketika mereka menyerang dan membunuh anggotanya. Tidak ada lagi yang tertinggal selain dari kalung anjing dan beberapa cercahan salju bercampur dengan darah. Ibuku sangat mencintainya, mereka memberitahuku bahwa ibunya seperti orang lain setelah kejadian itu. Dulu aku hanyalah anak kecil, sehingga segala yang kutahu hanyalah ibuku setelah itu. Itu terlalu menyakitkan untuk dikenang.”

Petugas Sakata menganggukkan kepalanya lalu berkata:

“Apapun penyebab utama yang terjadi, orang-orang mati dalam perang dari kemarahan dan kebencian dua sisi. Tetapi alam tidak punya sisi itu. Aku tahu ini menyakitkan bagimu, tetapi cobalah untuk berpikir seperti ini: putramu kembali ke lingkaran alam; Tidak ada urusannya dengan penyebab oleh amarah atau rasa benci.”

Sachi datang ke sesi kremasi keesokan harin dan membawa abunya bersamanya di sebuah guci aluminium lalu pergi menuju Teluk Hanalei di utara dari pulau tersebut. Perjalanan dari pos polisi Lihue memakan waktu sekitar satu jam lebih. Sebenarnya semua pohon-pohon di pulau tersebut telah tumbang karena petir besar melanda beberapa tahun sebelumnya. Sachi menyadari sisa dari beberapa rumah kayu di sana telah hangus atapnya. Bahkan beberapa gunung menunjukkan tanda perubahan bentuk karena petir tersebut. Alam dapat lebih kasar pada lingkungan ini.

Ia melanjukan perjalanan ke sebuah kota kecil nan sunyi Hanalei menuju tempat berselancar di mana putranya diserang oleh hiu. Ia memarkirkan kendaraannya di dekat tempat itu, lalu pergi dan duduh di pantai sembari melihat beberapa orang yang tengah berselancar-mungkin sekitar lima orang. Mereka dapat mengambang jauh dari ujung pantai, memegang papan selancarnya, hingga suatu ketika ombak besar datang. Kemudian mereka mengendalikan papannya dan menembus ombak tersebut. Setelah ombak mulai mereda, mereka mulai kehilangan keseimbangan dan jatuh. Mereka dapat kembali menaiki papan mereka dan menunggu ombak yang akan datang seraya berenang menuju lautan terbuka, di mana mereka akan mengulangi kegiatan yang sama. Sachi dapat bersikeras untuk mengerti mereka. Apakah mereka tidak takut dengan hiu? Atau mereka tidak pernah mendengar bahwa anaknya terbunuh oleh hiu di tempat ini hari-hari sebelumnya?

Sachi tetap duduk di sana, menikmati tontonan pemandangan ini selama beberapa jam. Pikirannya tidak dapat mempercepat apapun. Beban kemarin seketika menghilang dari benaknya, dan masa depan bersemayam kelam di suatu tempat. Tiada satupun rasa ini menyambung padanya sekarang. Ia duduk secara terus-menerus mengganti keadaan, matanya menyusuri aluran ombak dan peselancar. Hingga suatu ketika berpikir: Apa yang aku butuhkan sekarang adalah waktu.

Kemudian Sachi pergi menuju hotel di mana putranya bermalam, sebuah tempat kecil nan lusuh dengan taman yang tak terurus. Kedua lelaki tak berbaju dan berambut panjang duduk di sana meminum bir. Beberapa botol kosong Rolling Rock berhamburan di antara ganja di kaki mereka. Salah satu di antaranya berambut pirang, dan yang lain berambut hitam. Kalau tidak, mereka memiliki bentuk wajah dan tubuh yang serupa dan menggukana tato berjenis bunga di kedua tangannya. Terdapat bau marijuana bercampur kotoran anjing di udara. Ketika Sachi mendekati mereka, kedua pria tersebut memasang pandangan curiga.

“Anakku pernah bermalam di sini,” kata Sachi. “Ia terbunuh oleh hiu tiga hari yang lalu.”

Kedua pria itu saling memandang. “Apa yang kau maksud itu Takashi?”

“Ya,” balas Sachi. “Takashi”

“Dia benar-benar anak yang keren.” ujar pria yang berambut pirang.

“Kasihan sekali.”

Pria berambut hitam menjelaskan dengan suara lemah lembut, “Pagi itu, terdapat banyak kura-kura di pesisir. Hiu-hiu itu sedang mengincar kura-kura. Tetapi biasanya, mereka membiarkan para peselancar sendirian. Kami pun bahkan terbilang akrab dengan mereka. Namun, entah mengapa, mungkin kurasa ada sejenis hiu lain…”

Sachi mengatakan bahwa ia harus membayar tagihan hotel Takashi. Ia menyangka bahwa masih ada tagihan yang belum terbayarkan.

Pria berambut pirang mengerutkan keningnya dan mengayunkan botol di udara. “Tidak bu, kau tidak mengerti. Peselancar yang hanya tinggal di hotel ini, biasanya tidak memilki uang. Kau harus membayar uangnya di muka terlebih dahulu untuk memesan kamar. Kami tidak punya apa yang disebut ‘tagihan.'”

Kemudian pria berambut hitam membalas, “Katakan bu, apakah kau ingin mengambil papan selancar milik Takashi? Papan itu sudah terbelah dua oleh hiu bodoh, mereknya Dick Brewer tua. Petugas kepolisian tidak mengambilnya. Kurasa ada di, ah, sekitar sana…”

Sachi menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin melihat papan selancar itu.

“Benar-benar kasihan sekali,” pria pirang kembali berucap seakan hanya itu yang bisa ia utarakan.

“Dia benar-benar anak yang keren,” timbal temannya sang pria berambut hitam. “Sangat OK. Paling bagus dalam selancar juga. Coba pikirkan, dia bersama kami malam kemarin, meminum tequila bersama. Ya.”

Sachi akhirnya menginap di Hanalei selama seminggu. Ia menyewa penginapan yang telihat paling biasa supaya ia dapat memasak dan menyiapkan makanannya sendiri. Di suatu ketika, ia harus kembali ke Jepang. Ia membeli kursi vinil, kacamata, sebuah topi dan tabir surya, dan duduk di pesisir pantai setiap harinya, memandangi peselancar. Terkadang beberapa hari di antaranya turun hujan-derasnya, seperti seseorang menumpahkan air semangkuk secara sekaligus dari langit. Musim semi di pesisir utara Kauai benar-benar tidak stabil. Ketika rintik turun, ia memutuskan duduk di dalam kursi mobilnya, memandangi hujan. Dan ketika hujan telah reda, dia keluar dan kembali duduk di pesisir pantai, memandangi lautan.

Sachi mulai mengunjungi Hanalei pada musim ini setiap tahunnya. Ia akan tiba di sana beberapa hari sebelum perayaan tahunan kematian putranya dan tinggal selama tiga minggu, memandangi peselancar dari kursi vinil di pesisir pantai. Itulah kegiatan yang dilakukannya selama sehari-hari selama sepuluh tahun lamanya. Ia akan tinggal di penginapan yang sama dan makan di restoran yang sama pula sembari membaca buku. Ini menunjukkan seolah ada pola dari perjalanannya yang telah direncanakan, ia juga mencari orang-orang untuk diajak berbincang mengenai masalah yang diterpanya. Sehingga banyak penduduk yang tahu dirinya hanya dari pandangan sekilas saja. Ia menjadi terkenal sebagai seorang ibu orang Jepang yang putranya terbunuh oleh hiu.

Suatu hari, dalam perjalanan dari Bandar Udara Lihue, di mana ia mengembalikan mobil rentalnya, Sachi melihat kedua orang Jepang yang merupakan pembonceng mobil di Kota Kapaa. Mereka sedang berdiri di depan Restoran Keluarga Ono dengan tas perlengkapan olahraga yang mengganttung di pundak mereka, menunggu kendaraan melintas sembali mengacungkan jari jempol, meskipun tak terlihat percaya diri. Kedua pemuda tersebut memiliki rambut sebahu warna merah dan menggunakan T-Shirt yang berwarna pudar, celana longgar, dan sendal. Sachi melewati mereka, namun ia mengubah pikiran dan memutar balik.

Ia membuka jendela dan bertanya dalam bahasa Jepang, “Kalian mau pergi ke mana?”

“Ah, kau bisa bahasa Jepang ternyata!” yang paling tinggi membalas.

“Ya, tentu saja, karena aku adalah orang Jepang. Kalian mau pergi ke mana?”

“Sebuah tempat bernama Hanalei,” balas yang paling tinggi.

“Kalian mau ikut bersamaku? Aku menuju ke sana.”

“Bagus! Itulah yang kami harapkan!” timbal yang kekar.

Mereka menyimpan tas mereka di bagasi dan mulai masuk ke kursi penumpang di belakang mobil Sachi.

“Tunggu sebentar,” ucap Sachi. “Aku tidak ingin kalian berdua duduk di kursi belakang. Ini bukanlah taksi. Salah seorang dari kalian duduk di depan. Ini sikap umum yang baik.”

Mereka memutuskan yang paling tinggi untuk duduk di depan, ia malu-malu mulai duduk di sebelah Sachi, meluruskan kakinya ke tempat yang kosong. “Mobil model apa ini?” ia bertanya.

“Ini Dodge Neon. Mobil merek Chrysler,” timbal Sachi.

“Hmm, jadi Amerika punya mobil sekecil ini juga ternyata? Mobil Corolla adikku bahkan lebih besar dari yang ini.”

“Ya, tidak semua orang Amerika mengendarai mobil Cadillacs yang besar.”

“Ya, tetapi ini terlalu kecil.”

“Kau bisa keluar dari sini kalau kau tidak suka,” ucap Sachi.

“Wah, bukan maksudku begitu!” ucapnya.

“Aku hanya terkejut melihat mobil sekecil ini, hanya itu saja. Kupikir semua mobil orang Amerika memiliki sisi yang besar.”

“Omong-omong, apa tujuan kalian mengunjungi Hanalei?” Sachi menanyakan mereka sembari menyetir.

“Yah, hanya berselancar, hanya itu saja.”

“Di mana papan kalian?”

“Sudah di simpan di sana,” yang kekar membalas.

“Membawa dari Jepang memang sangat menyulitkan kami. Dan kami mendengar kalau bisa memakai yang paling murah di sana,” balas yang tinggi.

“Bagaimana denganmu?” Apa kau ke sana untuk berlibur juga?”

“Ya”

“Sendirian?”

“Sendirian,” Sachi berkata dengan lirih.

“Aku kira kau merupakan salah satu peselancar legendaris.”

“Jangan berpikir aneh!” ucap Sachi. “Apa kalian sudah ada tempat untuk menginap di Hanalei?”

“Tidak, kami akan memikirkannya lagi setelah sampai di sana,” jawab yang tinggi.

“Ya, kami akan memikirkannya kalaupun tidak kami bisa tidur di pantai jika harus,” balas yang kekar. “Lagipula, kami tidak memiliki uang.”

Sachi menggelengkan kepalanya. “Pesisir pantai utara akan sangat dingin pada musim tahun ini- sudah cukup dingin untuk memakai sweater di dalam ruangan. Kalian tidur di luar pun akan membuat kalian sakit.”

“Apa di Hawaii tidak selalu musim panas?”

“Hawaii berada di ujung utara belahan bumi, kau tahu. Jadi punya empat musim. Musim panas ya panas, dan musim dingin jelas dingin”

“Kalau begitu kami sebaiknya segera mencari tempat yang beratap.” timbal yang kekar.

“Kau bisa mencarikan kami tempat?” tanya yang tinggi. “Bahasa Inggris kami seperti tidak bisa dipahami.”

“Ya.” jawab yang kekar. “Kami dengar bisa menggunakan bahasa Jepang di Hawaii tapi selama kami mencobanya tidak ada yang berhasil.”

“Tentu saja tidak bisa!” ucap Sachi, merasa jengkel.

“Satu-satunya tempat yang menggunakan bahasa Jepang hanyalah Oahu, dan hanya satu bagian Wakiki saja. Mereka menginginkan turis Jepang yang menggunakan Louis Vuitton dan Chanel No. 5, jadi mereka merekrut pelayan yang bisa bahasa Jepang. Sama seperti Hyatt dan Sheraton. Tetapi di luar hotel, bahasa Inggrislah yang dapat diandalkan. Maksudku, ini Amerika. Kau datang ke Kauai dan tidak tahu itu?”

“Aku tidak tahu. Ibuku bilang semua orang di Hawaii bisa bahasa Jepang.”

Sachi menggerutu.

“Bagaimana kami tinggal di hotel termurah di kota,” kata yang kekar. “Sudah kubilang, kami tidak punya uang.”

“Pendatang baru tidak boleh menginap di hotel termurah di Hanalei.” Sachi memperingatkan mereka. “Itu bisa berbahaya.”

“Mengapa begitu?” tanya yang tinggi.

“Narkotika biasanya,” jawab Sachi. “Kebanyakan peselancar di sana adalah orang jahat. Marijuana mungkin dapat ditoleransi, tetapi hati-hati dengan es.”

“Es? Apa itu?”

“Aku tidak pernah mendengarnya” jawab pemuda tinggi.

“Kalian berdua tidak tahu apapun ‘kan? Kalian menjadi sasaran empuk bagi mereka. Es merupakan istilah untuk narkotika keras, dan itu tersebar di penjuru Hawaii. Aku tidak tahu detilnya, tetapi bentuknya seperti kristal. Harganya murah dan mudah dipakai, membuat kalian merasa tenang, tetapi sektetika itu kalian akan kecanduan hingga kematian sekalipun.”

“Menyeramkan.” ucap yang tinggi.

“Maksudmu itu OK kalau untuk marijuana?” tanya yang kekar.

“Aku tidak tahu apa itu OK atau tidak, setidaknya itu tidak membunuhmu. Tidak seperti tembakau, ini dapat merusak otakmu perlahan, tetapi kalian tidak tahu perbedaannya.”

“Hei, itu terlalu keras!” kata yang kekar.

Pemuda tinggi menanyakan Sachi, “Apakah kau tipe seorang Boomer?”

“Maksudmu…”

“Ya, maksudku orang dari golongan generasi baby boom.”

“Aku bukan golongan dari generasi manapun. Aku hanyalah diriku. Jangan memasukkanku ke dalam grup apapun, kumohon.”

“Itu dia! Kau itu Boomer!” kata pemuda kekar. “Kau selalu menanggapi sesuatu dengan serius. Sama seperti ibuku.”

“Dan jangan samakan diriku bersama ‘ibu’ berhargamu,” ucap Sachi. “Omong-omong, demi kebaikan kalian, kalian sebaiknya tinggal di tempat biasa di Hanalei. Sesuatu mungkin dapat terjadi…bahkan pembunuhan sekalipun.”

“Tidak seperti sebuah surga yang ditawarkan seharusnya.” ucap pemuda kekar.

“Tidak,” ucap Sachi setuju. “Era dari Elvis telah lama musnah.”

“Aku tidak tahu maksudmu apa,” ucap pemuda tinggi, “tetapi aku tahu kalau Elvis Costello itu sudah tua.”

Sachi mengendarai tanpa berucap sepatah katapun.

Sachi berbicara kepada pengelola penginapannya, lalu mencarikan ruangan untuk pemuda ini. Pengenalan oleh Sachi mengurangi harga mingguannya, namun masih terlalu lebih dari anggaran yang mereka punya.

“Tidak mungkin,” ucap pemuda tinggi. “Kami tidak punya uang sebanyak itu.”

“Ya, nyaris ke tidak ada.” ucap yang kekar.

“Kalian pasti punya untuk keadaan darurat,” Sachi meyakinkan.

Pemuda tinggi mengeluarkan sesuatu dari telinganya, “Kami punya kartu keluarga untuk Diners Club, tetapi ayahku bilang jangan sekali digunakan kecuali untuk sebuah keadaan darurat yang benar nyata. Ia khawatir kalau aku menggunakannya aku tidak akan berhenti. Jika aku menggunakannya selain dari keadaan darurat, aku akan menghadapi sebuah kekelaman ketika pulang ke Jepang.”

“Jangan berlagak bodoh,” kata Sachi. “Ini merupakan sebuah keadaan darurat. Jika kau tetap ingin hidup, gunakan kartu itu sekarang juga. Kalian menginginkan dimasukkan penjara oleh polisi dan dijadikan pacar oleh orang Hawaii. Tentu saja, jika kau suka hal itu beda lagi, tetapi itu menyakitkan.”

Pemuda tinggi mengeluarkan kartunya dari dompet dan menyerahkannya pada pengelola. Sachi meminta nama tempat di mana mereka membeli papan selancar bekas itu. Pengelola itu menambahkan, “Dan ketika kau pulang, mereka akan membelikannya kembali darimu.” Para pemuda itu menyimpan barang-barang mereka di kamar dan bergegas menuju ke toko.

Sachi sedang duduk di pesisir pantai, melihat ke lautan seperti biasanya pada pagi hari, ketika kedua pemuda Jepang itu muncul dan mulai berselancar. Kemampuan selancar mereka begitu lihai, suatu yang kontras dengan keputusasaan mereka di tanah ini. Mereka dapat memperkirakan sebuah ombak besar, memasang ancang-ancang dengan gesitnya, dan mengarahkan papannya menuju ke pesisir dengan anggunnya serta tentunya kontrol. Mereka melakukan ini hampir berjam-jam tanpa berhenti. Mereka terlihat hidup ketika mereka mengendalikan ombak: mata mereka bersinar, tubuh mereka punya kepercayaan diri. Tidak ada tanda kemalu-maluan seperti hari kemarin. Sachi kembali ke rumah, mereka mungkin akan menghabiskan hari-hari mereka bersama air laut, tak pernah belajar—sama seperti putra Sachi.

 

Bersambung.

 

 

Salam literasi!

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

KEBANGKITAN DAN KEJATUHAN KUE SHARPIE

Setengah terbangun, aku kala itu tengah membaca surat kabar pagi ketika sebuah iklan di sebuah rubrik menarik perhatianku: ”Merayakan Kue Sharpie, Pabrik Mencari Sebuah Produk Baru. Seminar Informasi Besar.” Aku tidak pernah mendengar tentang Kue Sharpie sebelumnya; Itu pasti sebuah kue dengan jenis baru. Apalagi diriku begitu berharap pada pemerhati manis-manisan, dan saat ini pula diriku memiliki waktu yang cukup luang. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melihat apa yang mereka tawarkan pada ”Seminar Informasi Besar”.

Acaranya diselenggarakan di sebuah ballroom hotel, di sana disajikan juga teh dan kue. Kuenya, tentu saja, merupakan kue Sharpie. Aku mencoba memakannya sepotong, tetapi aku tidak bisa mengatakan kalau aku begitu menyukainya. Kuenya memiliki tekstur lembek dan pinggirannya terlalu kering. Ku tak bisa mempercayai bahwa manisan ini memikat para anak gaul muda.

Namun begitu, semua orang yang hadir pada pertemuan informasional ini di antara usiaku dan bahkan lebih muda. Aku diberikan sebuah tiket bernomor 952, dan setidaknya ada seratus orang yang datang setelahku, yang berarti ada sekira seribu orang pada pertemuan ini. Benar-benar mengagumkan.

Duduk di sebelahku terdapat seorang gadis berusia 20-an dengan menggunakan kacamata tebal. Tidak terlihat cantik, namun ia tampak merupakan seseorang yang memiliki sifat baik.

“Beritahu padaku, apakah kau pernah memakan kue-kue Sharpie ini sebelumnya?” tanyaku.

“Tentu saja,” pungkasnya. “Kue ini begitu populer.”

“Ya, tapi kue-kue ini sangat tidak-” ketika diriku mulai berkata, di saat yang bersamaan ia menendangku dengan kakinya. Orang-orang di sekitar kami melemparkan pandangan amarah tertuju padaku. Situasinya menjadi suram, tetapi aku dapat melaluinya dengan memasang muka paling polos sepolos Winnie The Pooh.

“Kau gila ya?” gadis itu membisik padaku setelahnya. “Kau datang ke tempat seperti ini dan menyumpah serapah tentang Kue Sharpie? Penyukanya akan menandaimu. Kau tidak akan bisa pulang ke rumah hidup-hidup.”

“Penyuka Sharpie?” Aku berseru. “Dasar-”

“Suttttt!” gadis itu memberhentikanku. Pertemuannya akan segera mulai.

Direktur Perusahaan Kue Sharpie membuka perhelatan dengan perjalanan sejarah dari Kue Sharpie. Itu merupakan sebuah “fakta” yang meragukan dari sebuah cerita mengenai bagaimana seseorang di sebuah masa di abad ke delapan belas mencampurkan beberapa komposisi untuk membuat Kue Sharpie pertama kalinya. Ia mengklaim ada sebuah puisi tentang Kue Sharpie di Antologi Kekaisaran Kokinshu ke 905. Aku nyaris saja tertawa mendengar hal itu, tetapi semuanya mendengarkan begitu serius, hingga aku dapat menghentikannya sendiri. Lagipula, aku lebih khawatir dengan para Penyuka Sharpie.

Pidato direktur tersebut berjalan selama satu jam, dan benar-benar membosankan. Ia hanya ingin mengatakan bahwa Kue Sharpie merupakan sebuah manisan yang telah memiliki tradisi di baliknya, di mana dapat dikatakan hanya melalui beberapa kalimat saja.

Sedangkan direktur pelaksana muncul setelahnya menjelaskan penyebutan produk Kue Sharpie yang baru. Kue Sharpie merupakan sebuah manisan nasional yang terbual sepanjang masa dan sejarah, jelasnya, tetapi untuk sebuah produk yang luar biasa ini memerlukan darah baru agar tetap tumbuh dan berkembang secara dialektis supaya menyesuaikan kepada masa yang baru. Ini mungkin terdengar bagus, namun secara mendasar ia hanya mengatakan kalau rasa Kue Sharpie sudah terlalu kuno dan penjualannya menurun, sehingga mereka memerlukan ide baru bagi para pemuda. Ia bisa mengatakannya dalam beberapa kalimat saja.

Dalam perjalanan keluar, aku mendapat salinan tentang peraturan-peraturan untuk submisi. Di mana seseorang tersebut harus membuat manisan berdasarkan Kue Sharpie lalu mengirimkannya ke perusahaan sebulan kemudian. Hadiah uang: dua juta yen. Andai saja aku punya dua juta yen, aku dapat menikahi pacarku lalu pindah ke sebuah apartemen baru. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat Kue Sharpie yang baru.

Seperti yang kukatakan baru saja, aku bisa memilih memutuskan untuk menuntut di mana manisan lebih diperhatikan. Dan aku bisa membuatnya sendiri dalam bentuk apapun: selai kacang, krim isi, remahan panekuk. Hal itu memudahkanku untuk membuat sebuah versi kontemporernya dalam waktu sebulan. Menuju tenggat waktu, aku memanggang dua lusin Kue Sharpie baru dan membawanya menuju tempat resepsionis perusahannya.

“Kuenya tampak bagus,” ucap perempuan resepsionis.

“Kuenya memang bagus,” kataku.

Sebulan kemudian aku menerima sebuah telepon dari perusahaan Kue Sharpie memintaku untuk datang ke kantor mereka keesokan harinya. Aku memutuskan pergi ke sana dengan menggunakan jas berdasi dan bertemu dengan direktur pelaksana di meja resepsionis.

“Kue baru yang kau kirimkan telah diterima baik oleh para staf,” katanya.

“Terutama pen-, ah, staf anggota muda.”

“Aku senang mendengarnya,” ucapku.

“Di sisi lain, terdapat anggota-anggota lama di antaranya yang- bagaimana aku mengatakannya?- yang merasa kue yang kau buat itu bukanlah Kue Sharpie. Kami saat ini bahkan masih dalam tengah perdebatan.”

“Begitu,” kataku, memikirkan apa yang sedang terjadi.

“Dan, pen, ah, para dewan direktur telah memutuskan untuk meninggalkan penentuan utamanya kepada Sang Suci Penyuka Sharpie.”

“Penyuka Sharpie?” aku terkejut. “Siapa itu Penyuka Sharpie?”

Direktur pelaksana memperlihatkan tampak bingung. “Kau berarti mengikuti kompetisi ini tanpa mengetahui apapun mengenai Penyuka Sharpie?”

“Maafkan aku. Aku merupakan orang yang tertutup.”

“Ini buruk sekali,” katanya. ”Jika kau tidak tahu mengenai Penyuka Sharpie, maka…” Ia berhenti sejenak. “Ah, lupakan saja. Silakan ikuti aku.”

Aku mengikuti direktur keluar ruangan, turun ke aula, menaiki lift menuju lantai enam, kemudian turun ke aula lain, akhirnya mengarahkanku pada sebuah pintu besi besar. Direktur itu menekan tombol getar, dan sesosok penjaga bertubuh besar muncul. Ia mengkonfirmasi bahwa ia adalah direktur pelaksana, kemudian dibukakan pintu itu. Penjagaannya benar-benar ketat.

“Sang Suci Penyuka Sharpie tinggal di sini,” jelas direktur. “Mereka merupakan keluarga burung khusus. Berabad-abad mereka tidak memakan apapun selain dari Kue Sharpie untuk tetap hidup.”

Tidak ada penjelasan penting lagi. Di sana terdapat sekitar seratus ekor gagak dalam ruangan berbentuk gua, yang seperti ruang penyimpanan dengan langit-langit seluas empat meter dan tiang panjang terpasang dari dinding ke dinding. Di setiap tiangnya bertengger Penyuka Sharpie. Mereka lebih besar daripada ukuran gagak pada umumnya, mungkin berukuran satu meter dalam tinggi. Bahkan yang paling kecil sekalipun berukuran setengah meter tingginya. Mereka tidak mempunyai mata di mana seharusnya ada, melainkan tergantikan tumpukan lemak putih. Tubuh mereka bengkak dan nyaris meletus.

Ketika mereka mendengar kami masuk, mereka mulai mengepakkan sayap dan mengeluarkan teriakan tangisan. Pada pertama kali, terdengar seperti sorakan yang tersusun bagiku, tetapi ketika telingaku mulai terbiasa, tangisan itu terdengar seperti teriakan, “Sharpie! Sharpie!” Mereka merupakan sosok yang menakutkan untuk dilihat.

Dari kotak di tangannya, direktur memecahkan kuenya ke lantai, dengan respons seratus lebih gagak menyambar kue tersebut. Dalam berusaha menggapai kue itu, gagak-gagak saling menginjak satu sama lain. Tak heran mengapa mereka kehilangan penglihatannya.

Selanjutnya direktur mengambil sesuatu menyerupai Kue Sharpie dari kotak lain, dan memecahkannya ke lantai. “Lihat ini,” katanya kepadaku. “Ini merupakan resep yang dapat mengeleminasi dalam kompetisi.”

Burung-burung tersebut berjejalan seperti sebelumnya, namun ketika mereka menyadari kue yang dimakan mereka tidak berbentuk seutuhnya Kue Sharpie, mereka memuntahkannya dan meneriakkan amarahnya:

Sharpie! Sharpie! Sharpie! Sharpie!

Mereka mulai meneriakkan tangisannya hingga menggema pada langit-langit sampai membuat telingaku sakit mendengarnya.

“Kau lihat? Mereka hanya memakan Kue Sharpie yang asli,” direktur menyeringai. “Mereka takkan menyentuh barang tiruan.”

Sharpie! Sharpie! Sharpie! Sharpie!

“Sekarang, mari kita coba Kue Sharpie baru buatanmu. Jika mereka memakannya, kau menang. Jika tidak, kau kalah.”

Ah, sesuatu meyakinkanku bahwa ini tidak akan berhasil. Mereka tidak seharusnya membiarkan sekumpulan burung bodoh memutuskan hasil dari kompetisinya. Tak sadar terhadap keraguanku, direktur telah memecahkan kuenya ke lantai untuk para “Penyuka Sharpie”. Lagi-lagi gagak-gagak itu menerkamnya dan menimbulkan kerusuhannya lagi. Sebagian mereka memakan dengan lahap, tetapi sebagainnya lagi memuntahkannya sembari berteriak, “Sharpie! Sharpie! Sharpie!” Dan sisanya lagi tidak dapat menjangkau kue, menjadi gila dan mulai menusuk leher burung-burung yang sedang makan. Darah bersemburan ke segala arah. Seekor gagak ada yang memakan kue bekas muntahan gagak sebelumnya, namun lagi gagak besar lainnya menghalanginya dan berteriak “Sharpie!” lalu menyobekkan perut burung yang hendak memakan kue tersebut. Setelahnya ini menjadi sebuah arena tarung, darah mengucur semakin banyak, dan amarah semakin memanas. Ini bersumber hanya karena kue yang tidak masuk akal, meskipun bagi burung-burung ini kue adalah segalanya. Entah itu Sharpie atau bukan hanyalah sejengkal antara hidup dan mati di mata mereka.

“Sekarang kau lihat perbuatanmu!” ucapku pada direktur. “Kau memberikan kue seolah tidak terjadi apa-apa di depan mereka. Ketegangannya begitu kuat.”

Kemudian, aku keluar dari ruangan sendiri, menuruni lift, dan meninggalkan gedung kantor Kue Sharpie. Aku membenci kalau aku kalah dua juta yen, tetapi aku tidak juga mau menghabiskan hidup bergantung pada gagak-gagak bodoh ini.

Mulai sekarang, aku akan membuat dan memakan makanan yang akan aku makan saja. Gagak-gagak Sharpie bodoh ini dapat membunuh satu sama lain hanya untuk sesuatu yang aku pedulikan.

 

 

 

Diterjemahkan dari cerpen Haruki Murakami berjudul The Rise and Fall of Sharpie Cakes dalam seri buku Blind Willow, Sleeping Woman.

 

 

Salam literasi!

Categories
Opini Uncategorized

TEPAT SASARANKAH SOCIAL DISTANCING? [OPINI]

The-Math-Behind-Social-Distancing-Shareable-Final

Ilustrasi penyebaran virus menular melalui social distancing. Sumber: https://www.visualcapitalist.com/the-math-behind-social-distancing/

Penerapan social distancing sudah berkali-kali digaungkan oleh pemerintah baik daerah maupun pusat. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus dengan cepat karena tidak adanya kontak sosial dan fisik antar individu lain yang dapat menyebar melalui droplet atau partikel kecil yang keluar dari mulut manusia yang bisa bertahan di udara serta mudah terbawa ataupun terhirup dalam jangka waktu yang cukup lama. Manusia setidaknya dapat menghasilkan 500 droplet ketika berbicara, 3.000 droplet dalam satu kali batuk, dan 10.000 droplet ketika bersin. Droplet-droplet ini akan menyebar di udara bahkan dapat menempel pada bagian tubuh tertentu manusia seperti tangan. Namun dalam perkembangannya, social distancing berubah menjadi physical distancing dengan mengkarantina diri sendiri di rumah dan menghindari aktivitas di luar ruangan. Hal ini dikhawatirkan bahwa wabah yang terjadi bisa saja bermutasi dan memiliki kemampuan airborne, atau hidup di udara dalam jangka waktu yang lama sehingga penularan bukan lagi melalui cairan atau droplet, namun dari udara langsung.

Dengan pasien positif COVID-19 yang kian meningkat, kini pemerintah semakin ketat dalam pengimbauan untuk melaksanakan karantina diri selama lebih kurang 14 hari sama seperti masa inkubasi virus NCov-19 dalam memunculkan gejalanya. Namun, bila melihat jumlah tersebut maka perlu adanya pemutusan rantai virus melalui social distancing atau physical distancing agar menghindari kontak. Melalui peraturan yang sudah ditetapkan, tempat-tempat keramaian ditutup sementara, pengoperasian transportasi umum serta kantor-kantor pemerintah dibatasi dari pengumpulan orang-orang sehingga jam kerja maupun jumlah shift dikurangi sementara, dan aparat dikerahkan untuk membubarkan kerumunan yang masih terdapat di luar rumah.

Pada kenyataannya, dalam penerapan kegiatan ini begitu sulit dilaksanakan sehingga pada praktisnya belum berjalan dengan baik. Dengan begitu, tak dapat dipungkiri penularan dan penambahan pasien positif akan terus bertambah. Meskipun tindakan ini telah mengeluarkan tenaga aparat, penerapan peraturan yang mengikat, ditemui masih adanya kerumunan dengan jumlah individu yang banyak tanpa menghiraukan imbauan serta konsekuensi tersebut. Umumnya yang mudah dijumpai di sekitarnya ialah kerumunan anak-anak yang tengah bermain. Memang anak-anak cenderung mudah bosan ketika berada di dalam rumah tanpa melakukan atau melakukan aktivitas yang monoton dan tidak mereka sukai. Rasa tanggung jawab terhadap beban yang dimilikinya pun masih belum terdapat sense-nya. Yang disayangkan bukan hanya anak-anak yang memiliki kepekaan terhadap sekitar saja yang kurang, masih terdapatnya remaja dan orang dewasa yang nongkrong di kafe atau sekitar pemukimannya. Mereka yang sudah memiliki kepekaan terhadap situasi dan kondisi sekitar dan rasa tanggung jawab malah cenderung mengabaikan dan menganggap sepele dengan berbagai alasan dari rasa bosan hingga pemikiran daerahnya masih jauh dari zona merah atau adanya pasien positif.

Menurut lansiran berita liputan6.com menyatakan bahwa pihak kepolisian telah membubarkan masyarakat yang masih nekat berkumpul di tengah kondisi wabah hampir 10 ribu kali. “Aparat Polri akan mengambil tindakan mulai dengan cara humanis mengimbau untuk tidak berkumpul hingga melakukan tindakan tegas yaitu membubarkan,” ujar Asisten Operasi Kapolri Irjen Pol. Herry Rudolf Nahak Herry di Graha BNPB, Jakarta. Sebuah bukti bahwa masyarakat masih saja bandel dan menanggap enteng penyakit sampai terdapat kondisi pasien positif di sekitar mereka. Hal yang senada pula dilansir dari situs antvklik yang menyatakan bahwa saat anggota Polres Metro Bekasi melaksanakan sosialisasi dari pantauan di lapangan ternyata masih banyak warga yang membandel atau tidak mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah pusat maupun daerah. Terlihat masih banyaknya sejumlah pemuda yang berkumpul. Demi memutus matar antai penyebaran virus corona, pihaknya membubarkan semua yang kedapatan masih berkumpul. Tidak hanya di pusaran ibukota saja, di Kota Makassar pun masih terjadi hal serupa. Menurut situs berita fajar.co.id menerangkan “Belasan bocah berkumpul di sebuah tempat Playstation, Jalan Daeng Regge, Kota Makassar. Di malam Minggu yang cerah ini, mereka asyik berkumpul, berbaur dengan teman-temannya yang lain. Tidak ada jarak antara mereka. Mereka tidak peduli dengan imbauan untuk social distancing.”. Ajang penerapan social distancing ini kerapkali diterjemahkan sebagai liburan bagi masyarakat. Dari menongkrong, bermain, hingga pergi mudik ke kampung halaman.

Pemerintah pusat pun seakan takut untuk melarang warganya dari pemutusan rantai virus NCov-19 ini dan terkesan membiarkan sebuah pilihan antara “kamu mau isolasi mandiri atau tidak pun monggo”. Tetapi dalam sisi lain ingin berusaha menekan jumlah pengidap positif COVID-19 dengan berbagai cara dari pembelian obat dari luar negeri, penjagaan ketat di setiap pintu masuk negara maupun tempat publik, dan mengerahkan aparat untuk melakukan penanganan dan sosialisasi. Berdasarkan yang dikutip dari detik.com, Pelaksana Tugas Menteri Perhubungan Luhut Binsar Panjaitan saat ditanya perihal pembatasan mobilisasi masyarakat berupa mudik menjawab “Orang kalau dilarang, (tetap) mau mudik saja gitu. Jadi kita enggak mau (larang),” ucapnya. Seperti kasus yang ditemukan di atas pemerintah pusat benar-benar harus menegakkan pembatasan dan pelarangan mobilisasi dengan tujuan yang tidak memiliki urgensinya agar angka penularan dapat ditekan secara efektif, bukan seperti gali lubang tutup lubang.

Semenjak wabah COVID-19 merebak di Indonesia, bisnis-bisnis kecil terutama UMKM terancam mengalami kerugian. Misalnya saja pengusaha tukang cukur, pengusaha kopi, dan juga pengusaha kecil lain yang membutuhkan interaksi langsung. Orang-orang tidak akan keluar rumah dan akan menghindari kontak fisik langsung untuk mengurangi penyebaran. Namun hal tersebut dapat diubah agar tetap dapat mendapatkan penjualan melalui perubahan strategi Kebijakan Relaksasi Kredit Usaha Mikro, Membuat Produk Substitusi, Ubah Jangkauan Pasar, Menimbang Kembali Aset dan Pengeluaran, Bertransformasi Digital dalam pemasaran produknya untuk sementara ini. Selain itu, untuk individu yang masih diharuskan bekerja atau beraktivitas di luar lebih mematuhi kegiatan social distancing atau physical distancing ini ditambah dengan meningkatkan higienitas ketika berproduktif di luar rumah. Individu yang benar-benar tidak memiliki kegiatan penting bukan lagi dianjurkan melainkan keharusan berdiam diri di rumah dan keluar seperlunya saja. Berada di pemukiman pun bukan berarti dapat berkumpul-kumpul dengan orang yang sering disalahartikan bahwa karantina diri yaitu menghindari pusat kota melainkan pusat yang memungkinan munculnya keramaian bahkan di sekitar rumah sendiri.

Pemerintah juga harus dituntut konsisten dalam pengurangan wabah ini. Jangan merasa takut akan salahnya bertindak. Setiap tindakan yang dilakukan pemerintah di luar wabah pun pasti didapati oleh masyarakat yang tidak suka terhadap tindakan tersebut. Selain dari pengeluaran aturan dan pengerahan aparat untuk memutus rantai virus, pelaksanaan tes masif pula diperlukan secara menyeluruh mengingat virus ini dapat mengisi inangnya tanpa menimbulkan suatu gejala pada umumnya. Implementasi terhadap aturan yang telah dibuat harus segera dilaksanakan. Bukan menjadi suatu pedoman yang tertulis yang sulit sekali dipahami oleh masyarakat umum. Pelaksanaan tersebut juga perlu pengawasan agar tidak terjadi kasus kota sepi namun desa ramai yang berarti penerapan distancing ini berlaku rimpang. Oleh karena itu, meskipun sukar untuk mencapainya, namun penerapan distancing ini dapat dilakukan secara baik bila masyarakat dan pemerintah mau menanggapi situasi dan kondisi pandemi ini sebagai masalah yang serius.

 

 

Sumber pustaka:

Alfons, M. (2020). Pemerintah: Corona Tak Akan Selesai Jika Social Distancing Tidak Dipatuhi. [Daring]. Diakses dari: https://news.detik.com/berita/d-4965613/pemerintah-corona-tak-akan-selesai-jika-social-distancing-tidak-dipatuhi.

Chrisna, Y. (2020). Polri Bubarkan Hampir 10 Ribu Kali Masyarakat yang Masih Nekat Berkumpul Saat Wabah Corona. [Daring]. Diakses dari https://www.liputan6.com/news/read/4219660/polri-bubarkan-hampir-10-ribu-kali-masyarakat-yang-masih-nekat-berkumpul-saat-wabah-corona.

Hafidh. (2020). Apa itu Social Distancing dan Strategi Bisnis yang Harus Dilakukan. [Daring]. Diakses dari https://www.jurnal.id/id/blog/apa-itu-social-distancing-dan-strategi-bisnis-yang-harus-dilakukan/.

Ihsanuddin. (2020). Saat Jokowi Putuskan Tak Melarang Mudik di Tengah Wabah Virus Corona. [Daring]. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2020/04/03/06332391/saat-jokowi-putuskan-tak-melarang-mudik-di-tengah-wabah-virus-corona.

Ishak. (2020). Pandemi Corona, Bocah-bocah di Makassar Tetap Berkumpul Main Game. [Daring]. Diakses dari https://fajar.co.id/2020/04/04/pandemi-corona-bocah-bocah-di-makassar-tetap-berkumpul-main-game/.

Kurniawan, M. (2020). Bandel, Warga Bekasi Masih Doyan Ngumpul Dibubarkan Aparat. [Daring]. Diakses dari https://www.antvklik.com/en/headline/bandel-warga-bekasi-masih-doyan-ngumpul-dibubarkan-aparat.

Mashabi, S. (2020). IAKMI Nilai Kebijakan Social Distancing untuk Cegah Covid-19 Belum Berjalan dengan Baik. [Daring]. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2020/04/02/21570001/iakmi-nilai-kebijakan-social-distancing-untuk-cegah-covid-19-belum-berjalan.

 

Categories
Buku Haruki Murakami Uncategorized

TUJUH GAJAH MENGHILANG

Murakami memang seseorang jenius yang tak terbantahkan lagi. Koleksi karya-karyanya dengan narasi pendek didesain untuk membantu pembacanya teralihkan dari dunia keseharian yang berat dan meninabobokan dengan kemampuan penyampaian cerita apik dan membawa pembacanya masuk ke dalam dunianya. Beberapa cerita awal mungkin membuat pembacanya merasa aneh. Akhirannya pun tidak terikat antara cerita satu dengan lainnya.

Ceritanya bermula dengan judul “Burung Nejimaki dan Wanita Hari Selasa”, sebuah kisah sureal tentang seorang protagonis apatis yang sedang mencari kucing istrinya yang hilang, hubungannya pun tidak teratur, dan munculnya telepon dari wanita misterius yang selalu meneleponnya serta adanya pertemuan yang ia miliki di sebuah rumah kosong. Kisah singkat ini merupakan variasi dari bagian pertama The Wind-Up Bird Chronicle yang juga merupakan karya tersohor beliau.

The Elephant Vanishes alt

Kisah yang kedua berjudul “Penyerangan Toko Roti Kedua” setelah kisah sebelumnya. Berpusat kepada pasangan yang bangun dengan rasa lapar yang luar biasa setelah melewati tengah malam dan mereka memutuskan hanya jalan untuk menghilangkannya mencuri di toko roti. Kisah ini merupakan yang paling cepat dengan menegaskan seseorang yang kabur dari tanggung jawab. Seperti diibaratkan dengan dongeng rakyat modern yang ketika dibaca akan berisikan pesan moral tanpa kehilangan rasa dari kisah tersebut.

Sebenarnya masih banyak cerpen yang terdapat di dalamnya yang dapat dibaca lebih lanjut. Mayoritas dari kumpulan cerpen ini begitu memuaskan dan menyeret pembacanya ke dunia ciptaan Murakami di setiap cerpennya. Karena ini kumpulan cerpen, ini begitu disarankan kepada para penggemar karya Murakami apalagi yang telah membaca karya-karya besarnya. Buku ini terbilang ringan dalam penjabaran narasinya tidak seperti novel beliau pada umumnya sehingga tidak akan memakan waktu yang lama untuk menyelesaikan buku ini. Hanya saja karena ini memang kumpulan cerpen, ekspektasi dari pembaca akan mengira di akhir cerita berisikan satu narasi gabungan dari total cerpen yang ada, sayangnya tidak.

 

Salam literasi!